PASIR PUTIH – KLa Project

Album “Pasir Putih” – KLa Project

Tahun 1992, saya masih duduk di kelas satu SMA. Saat itu, mendapatkan order menggambar, dan membuat kartu ucapan sudah menjadi ‘side-job’ selain rutinitas bersekolah. Salah satunya yang paling teringat adalah order kartu ucapan yang berasal dari kakak temannya mbak saya, orderan tersebut di bayar 5.000 rupiah. Jumlah yang lumayan besar saat itu. Dari hasil pembayaran tersebut saya belikan album kaset KLa Project berjudul “Pasir Putih,” di satu toko kaset dekat pertigaan Pasar Pondok Labu.

Album “Pasir Putih” itu saya beli tertanggal 12 Agustus 1992.

Album ini lebih dikenal dengan sebutan album “Tak Bisa ke Lain Hati (TBKLH),” wajar saja terasumsi seperti itu karena lagu TBKLH termasuk lagu ikonik yang mengidentik kuat dengan KLa Project. Walau tak masuk ke dalam daftar 150 Lagu Terbaik Indonesia. versi Majalah Rolling Stone Indonesia seperti dua lagu KLa Project yang lain –“Yogyakarta”, dan “Tentang Kita”, namun lagu TBKLH ini memiliki kandungan yang lengkap sebagai lagu luar biasa, yakni langgam lirik puitik khas Katon Bagaskara, progresi nada yang tak biasa, dan aransmen yang melampaui zamannya.

Tak hanya TBKLH, album ini walau tergolong irit jumlah lagu (hanya 8 lagu, itu pun sudah termasuk 2 lagu instrumental) namun memiliki dua lagu lagi yang tak kalah luar biasanya, yakni “Belahan Jiwa,” dan “Hey!!.”

“Belahan Jiwa” memuat nada riang yang kental, dengan rhythm gitar intro yang melekat unik disambut suara ala piano Hammond yang khas , dan timpalan denting piano yang rapat cergas mengisi ruang-ruang antar nada tanpa harus saling berebut menampakkan diri.

Sedang lagu “Hey!!” begitu kaya dengan aransmen, pilihan brass section merupakan pilihan yang berani, mengingat di era tersebut teramat jarang brass section dijadikan pilihan utama dalam melakukan aransmen. Hal unik lainnya di lagu “Hey!!” ini adalah pilihan memasukkan penggal narasi yang dimiliki Kahlil Gibran dalam tema kerja.

 

* * *

Advertisements

Pawon Simbah

Pawon-Simbah

Pawon adalah dapur dalam bahasa Jawa. Biasa terletak di bagian belakang rumah tradisional Jawa, tempat kegiatan masak-memasak berlangsung sehari-hari. Saat listrik belum merambah desa-desa, pawon di siang hari tetap hadir dengan gelap yang temaram, apalagi di malam hari, gelap memekat hanya berteman lampu tintir (lampu yang terbuat dari kaleng susu cair untuk menyimpan minyak tanah dan sumbu yang menggantung), atau juga lampu templok. Bagi sebagian yang lebih mampu lampu petromaks menjadi pilihan untuk memerankan pelita. Sebuah pawon tak mesti terhias oleh atribut khusus, biasanya ruang tersebut sudah “terhias” dengan alat-alat masak yang digantung di dinding, dari yang berbahan dasar kayu, tanah liat hingga alumunium berkualitas murah. Namun yang pasti, tungku batu berbahan bakar kayu mutlak harus hadir di tempat bernama pawon tersebut.

Rumah Simbah saya berada di daerah pegunungan Sewu yang membentang antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rumah tersebut sarat dengan cerita dan kenangan masa kecil, begitupun dengan Pawon yang dimilikinya. Pawon tersebut selalu mempunyai tempat istimewa di relung hati. Seperti halnya pawon-pawon lain, tidak istimewa, sama-sama gelap dan penuh abu dan debu. Belum lagi jelaga hasil asap pembakaran yang menempel di langit-langit dan dinding. Hawa yang cenderung pengap selalu menggayut, dinding gedeg beranyam bambu cukup membantu membuat sirkulasi udara bergerak mengurangi sesaknya hawa.

Rutin pagi yang selalu terekam jelas di benak adalah hawa dingin pegunungan yang menusuk hingga bergerak untuk duduk mendekat serta merapat ke arah tungku batu, mencoba mencari hawa panas hasil bakaran kayu. Tangan terulur mengarah ke nyala api, membiarkan panas menjalar meluruhkan dingin yang membalur. Gemeretak bunyi api yang membakar kayu berbaur dengan bunyi aktivitas bahan termasak di atas tungku. Wangi makanan menelusup, membaur di antara asap yang membumbung.

Sekian batang singkong lengkap dengan kulitnya biasa diletakan di dalam kobaran tungku, turut terbakar di antara kayu yang tengah menyala. Tak butuh waktu lama singkong bakar tersebut akan masak. lalu dapat diangkat dari sela bara. Batang singkong matang tersebut menjadi rekah, wangi pun meretas. Kulit singkong dengan mudah mengelupas, siap disantap menjadi sarapan pagi. Dan segelas teh manis panas pekat tak pernah lupa menemani, begitupun gula batu di dalam toples kusam yang diletakkan di samping teko alumunium, selalu bersedia memberikan tambahan rasa bagi mereka yang berselera lebih atas rasa manis.

Pagi yang lengkap, dingin yang perlahan sirna, berkawal singkong bakar juga teh manis yang kental pekat, juga obrolan hangat berbahasa Jawa yang dengan susah payah coba saya cerna. Ah saya rindu dengan itu semua.

* * *

Pemimpin dan Seni

Serimpi in de kraton te Jogjakarta, 1932 (KITLV)

Serimpi in de kraton te Jogjakarta, 1932 (KITLV)

Pernah membayangkan Maharaja Majapahit, Hayam Wuruk ambil bagian dalam satu prosesi tarian? Ternyata hal tersebut benar-benar pernah terjadi, sebagai bukti kitab Nāgarakrtāgama telah mencatatnya. Kitab yang ditulis Mpu Prapanca itu menyebutkan kemampuan Hayam Wuruk dalam olah tari (mangigel) sampai-sampai para penonton saling berebut tempat untuk menyaksikan. Tariannya sendiri sepertinya memang bukan dipentaskan untuk kesenangan semata, namun berlangsung dalam rangka upacara Śrāddha, yakni aktivitas keagamaan yang diselenggarakan untuk memperingati 12 tahun meninggalnya tokoh yang dihormati. Tidak hanya mangigel, Hayam Wuruk juga tercatat kerap menyempatkan diri untuk mencatat keindahan daerah yang disinggahinya dalam bentuk bhāsa dan lambang pada saat mengelilingi wilayah kerajaannya.

Menjadi pemimpin di era kerajaan kuno sepertinya memang mesti memiliki kemampuan yang lengkap di berbagai lini. Di lini seni, tidak hanya kemampuan individu yang harus dimiliki, namun seorang pemimpin juga mesti menjadi pelindung dan sosok yang turut mengambil peran dalam pengembangan kesenian.

Kitab dari era Janggala-Kadiri –Sumanasāntaka, mencatat pada era tersebut raja turut mengambil peran dalam pengembangan kesenian dengan memunculkan kelompok ahli di bidang kesenian di area keraton, misalnya terdapat kelompok yang memusatkan diri pada penciptaan lagu dan kakawin, hingga tradisi memberikan hadiah bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih dalam berkesenian.

Bila menengok ke tradisi keraton Yogyakarta, seorang raja menggubah sebuah tarian bukanlah hal yang luar biasa, para raja atau sultan memiliki kemampuan tersebut. Sri Sultan Hamengku Buwono I menggubah tari klasik gaya Yogyakarta yang kerap disebut sebagai Joged Mataram. Sedang Sri Sultan Hamengku Buwono II menggubah tarian sakral, Bedhaya Semang dan menggubah wayang wong dengan lakon Pragola Murti. Selain kedua sultan tadi, Sri Sultan Hamengku Buwono IX termasuk yang produktif dalam menggubah karya seni, tercatat tarian Bedhaya Sapta dan Bedhaya Manten Sangaskara merupakan karya yang digubahnya. Selain itu Beksa Golek Menak juga masuk dalam daftar portfolio karya yang digubahnya.

Bergeser ke era republik, hampir pasti Sukarno berada di daftar teratas pemimpin yang lekat dengan seni. Latar pendidikan arsitektur yang dimilikinya turut mengambil peran dalam aktivitas pembangunan fisik. Tak kurang Mesjid Istiqlal, Monumen Nasional, Gedung Conefo, Gedung Sarinah, Wisma Nusantara, Hotel Indonesia, Tugu Selamat Datang, Monumen Pembebasan Irian Barat dan Patung Dirgantara merupakan karya-karya arsitektur yang dibangun atas ide, perintah serta pengawasan Sukarno. Dan apabila kita mengetik kata ‘sukarno’ dan ‘lenso’ pada mesin pencari Google, maka akan segera muncul ribuan hasil pencarian baik itu artikel, gambar maupun video. Bahkan secara khusus Sukarno menggubah lagu berjudul Bersuka Ria yang digunakan untuk mengiring tarian lenso, sebuah tarian yang digali dari daerah Ambon, Maluku. Lagu tersebut digubah bersama Orkes Irama yang dipimpin oleh Jack Lesmana.

Empat jilid buku koleksi seni Presiden Sukarno yang diterbitkan pada tahun 1956 dan 1959 hingga kini tetap dianggap menjadi literatur penting yang mencatat koleksi besar era awal lukisan Indonesia modern. Selain sebagai bentuk kecintaan dirinya atas seni, penerbitan buku tersebut merupakan bagian perjuangan politik dirinya yang menggunakan medium seni sebagai alat kemerdekaan dan penegasan diri.

Tidak berhenti di situ, seni sebagai bagian revolusi terus dikumandangkan oleh Sukarno. Manifesto Kebudayaan (Manikebu) tahun 1963 “yang kebarat-baratan” dianggap memperlemah revolusi dan harus berhadapan langsung dengan Sukarno yang tengah mengusung semangat kembali ke kepribadian sendiri. Koeswoyo Bersaudara merupakan salah satu musisi yang menerima dampak langsung kebijakan tersebut. Kelar menyanyikan lagu The Beatles I Saw Her Standing There di rumah seorang kolonel, penjara Glodok menanti mereka untuk ditempati sebagai sel tahanan. Seni menjadi urusan serius dalam label revolusi.

Merujuk kembali ke kitab Sumanasāntaka, sebenarnya tak muluk yang diharapkan dari seorang pemimpin, cukup dengan kuasa yang dimilikinya maka berikanlah kesenian ruang untuk terus berkembang luas, berikanlah dukungan (baik materi dan non materi) untuk lahirnya karya-karya berkualitas. Plus kesadaran, bila tak memiliki kemampuan seni tak perlu merasa harus turut ambil bagian dari lahirnya karya seni, beneran nggak perlu. Misalnya nggak perlu untuk berasa fasih menggubah lagu dan dilanjutkan dengan rilis album #uhuk

 

– – –

  • Atmakusumah (Penyunting). 1982. Tahta Untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta: Gramedia.
  • Sedyawati, Edi (Penyunting). 2002. Indonesian Heritage: Seni Pertunjukan. Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International.
  • Soemantri, Hilda (Penyunting). 2002. Indonesian Heritage: Seni Rupa. Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International.
  • Rahardjo, Supratikno. 2011. Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir. Jakarta: Komunitas Bambu.

Bila Saat Itu Tiba

Asah terus kebencianmu
hingga menjadi belati tajam siap menghujam.

Raut terus beda letak kau berpijak
hingga menjadi bambu yang kian meruncing,

sampai satu titik kau mudah terpicu hasut,
dan kau gunakan belati
untuk menikam tetangga-tetangga dekatmu,
dan kau gunakan runcing bambu
untuk mencabik tubuh saudara-saudaramu sendiri

N-Ach N Endah

03-N-Ach-N-Endah

Judul artikel ini bukan nama side bandnya Endah di luar Endah N Rhesa, apalagi nama band barunya. N-Ach itu Need for achievement, merujuk kepada kondisi individu-individu yang memiliki tujuan untuk senantiasa mencapai prestasi di atas rata-rata. Individu ini mengasah terus ketrampilan yang dimiliki, meletakkan standar pencapaian di tempat yang tinggi, mengulang secara terus-menerus aktivitas yang mendukung ketrampilannya dalam mencapai tujuan. Istilah N-Ach sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Hery Murray kemudian dipopulerkan oleh psikolog kontemporer, David McClelland.

Lalu apa hubungannya dengan Endah?

Jauh sebelum Endah N Rhesa terbentuk kebetulan saya telah mengenal Endah. Awal sekali, sekitar tahun 1995, waktu itu saya sedang berlatih di satu studio musik, gitaris yang seharusnya bermain tidak dapat hadir. Lalu seorang rekan berinisiatif mencari gitaris pengganti, ia menelpon sepupunya yang kebetulan tinggal tak jauh dari studio. Tak lama datanglah seorang anak perempuan bertubuh kecil, penuh keringat karena habis mengayuh sepeda mini di siang hari yang panas. Anak perempuan itu mengenalkan dirinya –Endah, kelas 5 SD!

Sebelum memulai latihan, Endah kecil diminta sepupunya untuk unjuk gigi. Tak lama mengalunlah intro ikonik Just Take My Heart–nya Mr. Big. Intro nan rumit itu dimainkan mulus tanpa cela, lewat jemari kecil pada fret gitar listrik yang sebenarnya berukuran masih terlalu besar.

Itu awal sekali, pertemuan berikutnya berlangsung di rumah sahabat yang juga seorang gitaris. Waktu itu Endah sudah duduk di bangku SMP atau SMA, saat saling mengenalkan diri ia menyebut nama lengkap saya, saya kelimpungan karena berusaha mengingat-mengingat pernah berkenalan di mana. Tak sulit untuk kembali mengingat, cukup dengan keyword “anak perempuan kelas 5 SD memainkan intro Just Take My Heart”. Saat itu Endah sudah memantapkan dirinya untuk menjadi gitaris, belajar gitar ke sekian guru, termasuk ke sahabat saya itu. Tubuhnya masih kecil, namun sudah jauh lebih tinggi dari pertemuan pertama, dan kemana-mana naik angkot sambil membawa gitar plus menenteng satu set kotak berisi beberapa effect gitar mobil-mobilan.

Bicara soal N-Ach, saya dan Endah pernah membahasnya lewat email. Ia bercerita habis berdiskusi dengan (alm.) mamanya, membahas soal N-Ach dan seperti mendapat sebuah petunjuk baru atas arah, kerja keras serta komitmen yang akan ditempuh. Saya yang kebetulan mengetahui soal cerita-cerita seputar N-Ach akhirnya mengirimkan artikel terkait yang saya miliki, dan berdiskusi lebih jauh.

Dahulu itu, tak sulit menangkap potensi besar yang dimiliki oleh Endah, paduan kerja keras serta komitmen besar yang dimilikinya menjelaskan kondisi N-Ach yang ia miliki. Tak sulit juga untuk memprediksi keberhasilan yang akan ia capai –seperti saat ini. Saya teringat ceritanya, bagaimana kakak lelakinya terus memaksa dirinya untuk berlatih, lengkap dengan kata-kata keras yang memotivasi. Atau saat sempat merekam lagu sendiri di ‘studio’ kamar yang sederhana, Endah mendapat bagian intro dan melodi gitar yang harus ia ulang-ulang berkali-kali karena tidak juga sreg dengan kualitasnya. Tak ada keluh dan kesah yang keluar walau harus mengulang (mungkin hingga) puluhan kali, bahkan sampai pernah saya tinggal tidur. Saat kualitas belum mencapai standar yang diinginkan maka terus diulang, dibawa pulang untuk dilatih terus, hingga pertemuan berikutnya telah lebih siap dan lebih berkualitas.

Bagi mereka yang memiliki DNA N-Ach –seperti yang dituliskan oleh David McClelland, mereka melihat prestasi (pencapaian) jauh lebih penting dari materi atau imbalan uang, mencapai tujuan memberikan kepuasan pribadi yang jauh lebih besar dari pujian dan pengakuan, terbuka dalam menerima umpan balik karena menganggapnya sebagai bagian dari pengukuran keberhasilan, dan mereka terus menerus termotivasi untuk memperbaiki diri. Nah, bukankah ciri tersebut memang ada di sosok Endah?

* * *

Daftar Pustaka

  • McClelland, David C. (1961). The Achieving Society. Priceton: D. Van Nostrand.