Yesterday di Yogya

Film apa yang paling saya tunggu di 2019? 

Yesterday!

Yap, bukan sepak terjang para prajurit Avengers, bukan lembar karpet terbang Alladin, bukan simpang siur jaring laba-laba Spiderman, bukan raja singa yang cakap bertutur, bukan juga mainan yang sibuk berpetualang, apalagi film super dingin membeku —Frozen 2.

Yesterday, film yang diangkat dari judul lagu grup legenda —The Beatles, dengan ide sederhana, orisinil, unik dan nendang banget…. bagaimana dunia tanpa The Beatles!

Dari pertama kali melihat trailer film ini, saya sudah mematok diri untuk menonton di hari pertama, Jumat 28 Juni adalah hari rilis resmi film tersebut. Walau tidak dapat menonton di jam pertama (12:00) saya berkesempatan menonton di  jadwal tayang berikutnya, di Cinema XXI Ambarukmo Plaza, Yogyakarta.

Jangan mengharap momen epik ala Bohemian Rhapsody ataupun drama tragis pilu Freddy Mercury, Yesterday justru tampil begitu sederhana, dipenuhi dengan humor cerdas yang berpijak atas dunia yang tak pernah mengenal kehadiran The Beatles.

Perca lirik The Beatles bertaburan di dalam dialog, peran cameo sarat menghibur dari Ed Sheeran yang memerankan dirinya sendiri, logika sinis yang jail tak luput dihadirkan lewat scene googling band Oasis yang hasil googlingnya turut hilang dan tak dikenali Google, yak secara logika Oasis dianggap tidak akan ada tanpa kehadiran The Beatles. Sarkas yang mengundang senyum simpul!

Film ini pasti dengan mudah merebut sudut hati para musisi. Bagi para musisi, momen saat merintis karir bermusik, lengkap dengan sulitnya mendapat panggung, susahnya memiliki penonton, tentu dengan mudah membawa empati untuk turut larut dalam momen-momen tersebut. Selain itu, film ini pastinya juga mudah merebut hati para Beatlemania.

Lalu mengapa saya mematok diri untuk menonton di hari pertama, karena saya yakin para penonton yang hadir di bioskop di momen tersebut adalah mereka yang mengenal The Beatles, mereka yang menelusuri indahnya tiap bait, lirik dan melodi karya-karya The Fab Four. 

Dan suasana tersebut nyata terwujud, walau bioskop tidak penuh terisi, namun sepanjang film kerap terdengar penonton yang turut bersenandung, terbahak tiap ada lirik kata yang terselip dalam dialog, juga bersorak bersama saat intro-intro lagu epik The Beatles terdengar, sungguh suasana nonton bareng yang amat menyenangkan…

Karya abadi akan selalu memiliki ruang di dalam garis waktu, esok dan nanti.

Malam pun beranjak, meninggalkan Ambarukmo Plaza, menuju satu sudut di alun-alun utara Yogyakarta. Melengkapi malam dengan hembus angin dingin yang tengah menyelimuti Yogya, melahap mie godog Pak Pele yang sedapnya sulit dicarikan pengganti kata…

Advertisements

Koloni Mars

Hingga saat ini kita masih bisa menertawakan segala ekspedisi dan penelitian yang merambah antariksa dengan tujuan utama mencari planet baru yang tipikal dengan bumi. Walau tujuannya jelas tercantum namun arah tujuan tersebut lebih sering dianggap mengada-ada, berlebih, dan bukan tujuan terdekat yang harus menjadi prioritas hari ini. Sesungguhnya seberapa relevankah kita mesti mencari koloni baru di luar planet bumi?

Continue reading “Koloni Mars”

PASIR PUTIH – KLa Project

Album “Pasir Putih” – KLa Project

Tahun 1992, saya masih duduk di kelas satu SMA. Saat itu, mendapatkan order menggambar, dan membuat kartu ucapan sudah menjadi ‘side-job’ selain rutinitas bersekolah. Salah satunya yang paling teringat adalah order kartu ucapan yang berasal dari kakak temannya mbak saya, orderan tersebut di bayar 5.000 rupiah. Jumlah yang lumayan besar saat itu. Dari hasil pembayaran tersebut saya belikan album kaset KLa Project berjudul “Pasir Putih,” di satu toko kaset dekat pertigaan Pasar Pondok Labu.

Album “Pasir Putih” itu saya beli tertanggal 12 Agustus 1992.

Continue reading “PASIR PUTIH – KLa Project”

Pawon Simbah

Pawon-Simbah

Pawon adalah dapur dalam bahasa Jawa. Biasa terletak di bagian belakang rumah tradisional Jawa, tempat kegiatan masak-memasak berlangsung sehari-hari. Saat listrik belum merambah desa-desa, pawon di siang hari tetap hadir dengan gelap yang temaram, apalagi di malam hari, gelap memekat hanya berteman lampu tintir (lampu yang terbuat dari kaleng susu cair untuk menyimpan minyak tanah dan sumbu yang menggantung), atau juga lampu templok. Bagi sebagian yang lebih mampu lampu petromaks menjadi pilihan untuk memerankan pelita. Sebuah pawon tak mesti terhias oleh atribut khusus, biasanya ruang tersebut sudah “terhias” dengan alat-alat masak yang digantung di dinding, dari yang berbahan dasar kayu, tanah liat hingga alumunium berkualitas murah. Namun yang pasti, tungku batu berbahan bakar kayu mutlak harus hadir di tempat bernama pawon tersebut.

Continue reading “Pawon Simbah”