Bodoh Itu Gratis

Cobalah melintas di Kamis malam, di sekitaran Pos Pengumben mengarah ke Pasar Kebayoran Lama. Akan mudah kita saksikan para pengguna roda dua, baik sendiri atau pun berbonceng, tanpa pelindung kepala, atau hanya berbalut kain tipis putih setengah bola.

Ah saya masih memilih untuk berbaik sangka, mungkin benda putih itu terbuat dari serat kevlar berteknologi nano terkini, terbalut unsur logam titanium berdaya tahan bentur melebihi kuasa baja. Hingga tak perlu lagi mengenakan benda usang berjuluk helm sebagai pelindung kepala.

Bila sabdamu setara dewa, dan titahmu bagai dogma, maka mengapa tak kau ajarkan umatmu untuk sekedar berhenti di belakang marka garis hitam-putih yang melintang membelah jalan? Mengapa tak kau ajarkan umatmu untuk mengenakan pelindung kepala. Mengapa tak kau ajarkan untuk tak perlu berjibaku bertaruh nyawa melawan arus jalan saat berkendara?

Bodoh itu gratis, hingga kadang kita terlupa menenggaknya terlalu banyak, hingga mabuk, ambruk tak lagi berpijak…

#DoaUntukJakarta

Panggilah anakmu, atau keponakan kecilmu, atau anak-anak kecil yang menjadi anak tetanggamu, lalu ajaklah ia mendekat…

Lihatlah jernih matanya, dan bayangkan seperti apa negeri yang tepat untuknya di hari nanti. Lalu tanyakan lirih ke dalam nuranimu dan jawablah mengapa kita harus merawat negeri rapuh ini…

Negara cuma sejengkal,
jangan berbuat yang pendek akal!

Pergi,
kan selalu tertitipkan oleh harapan

Namun pulang,
yang akan selalu menggetarkan

Sedang pamit terakhir yang pernah terucap pun samar teringat, entah kata apa yang saling kita eja, selain sesaat berisi selaksa tatap mata tanpa daya

Dan,
apakah selamat tinggal   memang cara kita untuk memberi kesempatan bagi sapa “hei” di satu waktu?

. . .

Asal-usul Nama Pondok Labu Jakarta

pondok-labu

Berinteraksi dengan area Pondok Labu itu telah berlangsung semenjak tahun 1987, saat bersiap untuk pindah ke wilayah Gandul dilanjutkan dengan pindah sekolah dasar ke wilayah itu. Saat itu pun kelurahan yang berkode pos 12450 ini sudah rieweuh, macet, penuh angkot dan penuh anak sekolah. Dulu ada teman SMP yang menjuluki Pondok Labu sebagai kota pelajar, ada benarnya juga karena di wilayah seluas 3,61 km2 ini tumpah ruah dari SD hingga perguruan tinggi.

Bila membaca buku Asal-usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat, nama Pondok Labu berasal dari gabungan dua kata, pondok dan labu. Gabungan kata tersebut dapat berarti pondok atau gubuk yang dirambati (tanaman) labu.

Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah memang dahulu daerah Pondok Labu banyak ditanami oleh tanaman labu.

Informasi berbeda pernah saya dapatkan dari supir angkot (saya lupa angkot KWK S03 atau D01), yang pasti waktu itu sedang berangkat untuk renang ke Lebak Bulus, duduk di kursi depan, ngobrol dengan Pak Supir. Pak Supir mengatakan, disebut Pondok Labu karena wilayah tersebut awalnya disebut dengan Pondok Labuh, karena menjadi tempat berlabuh dari angkutan-angkutan dari beragam wilayah. Dari Pasar Minggu, Ciputat, Lebak Bulus, Cinere, Blok M. Semenjak dahulu, wilayah Pondok Labu telah menjadi tempat bertemunya kendaran dari beragam wilayah. Namun yang menarik, hingga hari ini tidak ada terminal yang dibangun di wilayah itu, akibatnya angkot berhenti berserak seenak-enaknya menciptakan kemacetan.

Pak Supir juga sempat bercerita dulu itu daerah MPR Fatmawati jembatannya masih dari pohon kelapa yang dibentangkan. Oplet adalah kendaraan yang melintas dari daerah Blok M lama ke Pondok Labu. Andong, dokar ataupun delman adalah angkutan utama. Hingga hari ini kendaraan yang ditarik kuda itu masih ada di Pondok Labu. Pada saat saya pindah ke Gandul, dokar masih jadi angkutan utama bila ingin ke Gandul lewat Pangkalan Jati.

Masih dari Pak Supir, di dekat Pondok Labu ada tempat yang bernama Dapur Susu, konon nama tersebut diperoleh karena di wilayah itu dahulu ada tempat memasak susu untuk kebutuhan pasien-pasien RS Fatwamati. Kini wilayah tersebut lebih dikenal dengan sebutan Dapsus. Sayangnya letak persis tempat mengolah susu tersebut Pak Supir tidak menyebutkan.

 

*  * *