Nonton Pendekar Tongkat Emas Hari Pertama

PTE

Musik yang megah.
Kain Sumba yang eksotis.
Tempo yang cenderung lambat.
Bahasa Indonesia yang mendapatkan tempat selayaknya.
Sumba yang tak henti mengundang decak kagum dan memuaskan mata.

Konon ada rumus yang dianut oleh film-film besar dunia, bila dalam 3-5 menit pertama tidak sanggup mengundang decak kagum penontonnya maka film tersebut akan gagal. Tidak berhenti di situ, rumus tersebut masih berlanjut, yakni berikan kejutan-kejutan terus-menerus dalam 5-7 menit berikutnya, tujuannya satu untuk membuat penonton tetap bertahan, tertarik menyaksikan hingga akhir film. Alam Sumba nan memuaskan mata adalah formula yang digunakan dalam kejutan-kejutan tersebut, dan formula tersebut diadopsi dengan sangat baik oleh film Pendekar Tongkat Emas. Sumba benar-benar berhasil disajikan dengan luar biasa.

Tak hanya alamnya, kain Sumba juga mendapat porsi yang besar untuk unjuk diri, indah! Musik pun juga begitu, dalam detail suara yang tersaji, selalu dapat ditemui elemen Sumba yang tidak uzum terdengar dalam kaidah musik arus utama. Entah itu suara alat musik ataupun olah vokal melengking yang membuat merinding.

Acungan jempol tertinggi justru saya berikan di penyajian Bahasa Indonesia. Yap, Bahasa Indonesia mendapat porsi selayaknya, ternyata dapat hadir dengan baik dan benar, dan baik-baik saja. Entah kapan terakhir kali melihat film Indonesia yang hadir dalam olah dialog tanpa bahasa 4L4y ataupun keminggris =)

“Gangguan” yang terasa hanya pada tempo yang cenderung lambat, dan bagi mereka yang menekuni silat pasti tetap akan menemukan ketidaksreg-kan dalam gerakan-gerakan. Tetap sulit untuk ditutupi kalau yang melakukan bukan pendekar yang telah mempelajari silat bertahun-tahun. Terutama pada saat Elang dan Dara memainkan jurus bersama, semestinya hadir lebih sempurna, lebih selaras dalam gerakan.

Lepas dari itu,
mengejar ‘nonton di hari pertama tetaplah layak untuk dilakukan dan didapatkan.

Selamat untuk para pekerja penggarap film ini!

\m/

Memulai Kembali

Sampai hari ini masih merasa berat untuk membeli album/lagu baru lewat iTunes Store, selalu album/lagu yang telah lewat masanya yang dibeli lewat toko online itu. Sedang untuk album-album baru masih tetap memilih untuk membelinya dalam format fisik CD.

Mengapa?
Karena ada “ritual” yang biasa saya lewati yakni membaca utuh terlebih dahulu deret lirik yang tertera di sampul album, baru mendengarkannya bersama lagu. Banyak lagu yang saya senangi diawali lewat membaca lirik tanpa mendengar lagu.

Tetapi kini, saat bahasa endonesiyah semakin turun kelas, babak belur karena dianggap tak lagi keren mentereng, terhantam oleh format bahasa 4L4y, belum lagi terkena TJG SKT KT (baca: terjangan singkatan kata), maka berguguranlah lagu-lagu dengan lirik yang memesona.

Namun, di akhir minggu kemarin saya bertemu dengan satu lagu dengan lirik yang tergarap menarik dari penyanyi dan pemusik yang tergolong belia, sungguh itu menjaga harapan bagi keberlanjutan kualitas lirik musik berlafal tuturan endonesiyah

. . .

Angan-angan pilu pun perlahan-lahan menghilang
Dan kabut sendu pun berganti menjadi rindu
Sejak saat itu langit senja tak lagi sama

(Memulai Kembali – Monita & the Nightingales)