Selamat Malam Jakarta

Tiga hari yang lalu, untuk kesekian puluh kalinya harus nunggu angkot di pertigaan Pondok Pinang, dekat pintu masuk jalan tol lingkar selatan. Supir angkot biasa menyebutnya dengan PGA. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam dua dinihari, dan menunggu angkot jurusan Ciputat-Pondok Labu di Senin dinihari adalah ‘bunuh diri’. Sangat untung-untungan, kalau lagi untung nggak sampai lima menit angkot putih D02 itu segera melintas. Tapi kalau lagi sial seperti malam kemarin itu bisa sampai setengah jam lebih pegal berdiri belum juga dapat angkot.

Belum lagi hujan yang baru saja usai, gerimis kecil masih turun, hingga untuk duduk di trotoar jalan yang basah adalah hal yang nggak mungkin. Hujan yang baru usai itu melipatgandakan dingin dinihari, menemani kehidupan malam di satu pertigaan di selatan Jakarta.

Tidak jauh dari tempat saya berdiri, angkot ‘ngalong’ [sebutan untuk angkot yang mengambil jam malam dengan trayek yang bebas tanpa surat trayek] yang menuju Kampung Rambutan menunggu penumpang. ‘Timer/temer’ [satu profesi yang hingga saat ini nggak pernah bisa saya mengerti kaidah dan fungsinya] sesekali berteriak memanggil penumpang. Tanpa dipanggil pun para penumpang pasti akan mendatangi angkot ngalong tersebut. Dan penumpang sedang jarang sekali malam itu.

Lalu tiba-tiba datang sepeda motor yang dikendarai oleh dua orang sambil membawa gulungan-gulungan spanduk. Setelah memperhatikan medan sejenak, lalu dua orang itu turun dari motor, satu orang naik ke sebuah tiang rambu jalan dan yang satu lagi memanjat tiang telepon. Hanya butuh dua menit untuk menyelesaikan pamasangan spanduk sepanjang tujuh meter itu. Seorang preman setempat berusaha memanfaatkan situasi, menghampiri dua orang pemasang spanduk, terjadi negoisasi, biasa, preman tadi meminta uang. Uang tidak di dapat. Begitu dua orang pemasang spanduk itu beranjak, preman tadi ngambek lalu naik ke atas tiang rambu lalu lintas dan tiang telepon untuk mencopot spanduk yang baru dipasang. Hmmm niat banget untuk ngebantuin Pemda untuk menertibkan spanduk liar ha ha ha…

Angkot putih D02 belum juga kunjung tiba.

Di satu sudut, sekelompok lelaki tiga puluh tahunan berkumpul. Teman-teman preman yang tadi. Dengan satu gitar mengiringi nada sumbang yang mereka nyanyikan. Lalu supir-supir taksi Blue Bird dari pool taksi Tanah Kusir turun dari Mikrolet D01, sama-sama menunggu angkot jurusan Pondok Labu, dan sebagian langsung naek angkot jurusan Kampung Rambutan yang ngetèm di situ.

Percakapan para supir taksi tentang cerita ‘narik’ hari ini, kadang satu angkot dengan waria juga perempuan malam yang baru berangkat ‘kerja’. Para pedagang hasil alam dengan sepeda dan keranjang besar kanan kiri menuju Pasar Inpres Kebayoran Lama atau Pondok Labu. Semua luber menjadi satu dalam dingin malam serta rasa was-was, rasa cemas, rasa takut akan ketidakamanan. Membuat mata senantiasa liar memandang ke kiri dan kanan. Rasa curiga yang kental kerap hadir ke setiap orang yang berdiri di dekat kita, karena siapapun bisa menjadi pemicu ketidakbersahabatan malam.

Hampir selalu ada kejutan-kejutan dalam menyertai kehidupan malam. Satu waktu dalam perjalanan naik mikrolet dari Tanah Kusir menuju Pondok Pinang, begitu naik ke dalam, satu mikrolet itu penuh dengan daun kemangi, tinggal disisain dua tempat duduk yang salah satunya saya duduki. Wuah, saya sebagai penganut anti bau daun kemangi kontan puyeng, sepuyeng-puyengnya. Kalo yang ini rada ‘syerem’, pernah lagi nunggu D02 di Papillon, jam satuan pagi, disamperin oleh waria tua yang baru pulang kerja, ngajak ngobrol dengan bau mulut seperti ‘rumah sakit’ [baca : bau minuman keras]. Hiiiiii…. untung lima menit kemudian si D02 muncul menyelamatkan…

Atau kalo mau yang rada ‘gelap’ plus syerem, masih di dalam perjalanan di mikrolet dari arah Tanah Kusir ke Lebak Bulus juga, seorang pemuda duduk dipojokkan, barang dagangannya berupa samurai cap Sukabumi dibiarkan tergeletak di lantai kendaraan, dengan mulut dan hidung yang ditutup dengan sapu tangan. Lalu penumpang yang laen, yang kebetulan punya perawakan yang besar menanyakan kenapa mukanya ditutupi dengan sapu tangan. Sesaat pemuda itu ragu, lalu membuka sapu tangan itu…. hmmm jauh lebih baik bila sapu tangan itu tidak dibuka, karena lumuran darah yang belum mengering membasahi seputar mulut dan hidung pemuda tadi. Satu bentrokan rebutan lahan di Pasar Kebayoran Lama baru saja ia lalui.

Seorang sahabat malah pernah bercerita, di satu malam dia melihat seorang preman di ‘DOR’ oleh polisi di daerah perempatan Papillon Lebak Bulus. Pernah juga saya naek angkot dan supir angkotnya yang mungkin sudah muak dengan para timer, saat ditagih uang premannya, si supir malah ngulurin tangannya yang mengepal dengan jempol diapit dengan jari telunjuk dan jari tengah. Kontan si timer ngamuk dan ‘olah raga’ malam sedikit dengan si supir angkot.

Ah tapi tetap saja selatan Jakarta dinihari masih jauh bersahabat dibanding dengan bagian Jakarta yang lain. Seperti terminal Blok M yang tak pernah mati, tetap jauh bersahabat ketimbang terminal lain di Jakarta. Walau musti was-was dan latihan lirak-lirik kanan-kiri terus-menerus…

:: Jakarta
/ad’QUSTiQ

Gemerlap lampu kota, semarak deru jalan
Bawa angan dan harapan, beradu dengan kenyataan

Singkapkan problema, akan majunya zaman
Tak sanggup ikuti langkah, akan majunya metropolitan

Jakarta kisahmu kini, s’makin dalam akan arti
Melaju ikuti waktu, lupakan kendali hari

Jakarta, kisahmu kini, luruhkan banyak ilusi
Jakarta, kisahmu kini, pudarkan nilai tradisi

— kamis siang | 18042002 | jam keluar maen kantor neovnet.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s