Pertama Lalu Berakhir

Kamis malam lalu, di sela penatnya menyusun proposal inherent, sebuah panggilan telpon masuk ke ponsel. Sarie, seorang sahabat semenjak masih berputih abu-abu menyapa. Dia baru saja tanpa sengaja mampir ke http://www.adqustiq.com/adquotes , sebuah web yang dulu sempat saya dan dia kelola, sebuah web yang dulu kami kelola pada saat blog belum menjadi sebuah gaya hidup. Yap, dulu kami pernah memiliki satu wadah, satu tempat menulis bersama-sama yang ‘tanpa sengaja’ kami tinggalkan, kami lupakan. Dan malam itu, kami kembali tertarik ke masa itu…

Dan akhirnya saya “merasa perlu” untuk menyapa tulisan-tulisan itu. Dan kini merasa perlu untuk meng-‘copy-paste’ salah satunya ke dalam blog ini dengan edit dikit di sana sini…

/minggu sore yang mendung/13 april 08/19.01

. . .

Pertama Lalu Berakhir

“Masa ini” adalah suatu hal yang teramat abstrak buat saya. Detik di mana saya mengklaim sebagai ‘masa ini” maka detik berikutnya telah berubah menjadi masa lalu. Waktu akan terus bergerak, sebagian mungkin sedikit terulang dan sebagian lagi benar-benar menjadi sebuah kenangan.

Membaca tulisan-tulisan Gede Prama, kita selalu diajak untuk melihat dunia dalam sudut keindahan, sudut cinta, sudut positif. Dulu, saya kerap sulit untuk “mencerna” tulisan-tulisan itu, terlebih bila coba disimulasikan dengan keadaan saat ini, begitu banyak kontradiksi, yang menurut saya saat itu, seperti suatu konsep “sempurna” yang jauh di atas awang-awang, tak berpijak, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang suci.

Namun di beberapa waktu terakhir ini, saat beberapa momen besar hidup saya lewatkan, dan tiba-tiba tersadar bahwa momen-momen tersebut tidak akan terulang lagi, tiba-tiba rangkaian tulisan yang saya anggap di awang-awang itu menjadi memiliki makna yang sangat mendalam. Yah… momen itu menjadi yang pertama dan saat itu pula menjadi momen yang terakhir. Momen indah yang segera menjadi indah kenangan dan tak akan bisa terulang sama persis seperti di awal.

Atau bila ditarik lagi ke belakang, kadang rasa sedih begitu ruah terasa bila mengingat masa di mana adik saya tumbuh “sedang lucu-lucunya.” Masa di mana ia berumur hingga 10 tahun… yah saya begitu keilangan momen itu. Kini adik saya sudah berumur 20 tahun dan begitu mustahil saya bisa mengalami masa-masa dia baru tumbuh, masa dia baru beranjak jalan, masa dia baru belajar memegang pensil untuk menggambar. Ingin sekali melihat gambar pertama yang ia buat karena saya benar-benar lupa dengan momen-momen itu. Sedang saat ini gambar yang ia buat sudah berkali-kali lipat dengan kualitas gambar yang saya miliki, sosok yang dulu terlibat dalam mengajar dia memegang pensil untuk menggambar.

Atau momen-momen saat kita bertemu pertama kali dengan orang-orang yang kita sayangi. Lalu rentetan kisah indah yang menyertai, makan malam pertama, nonton bareng pertama, menggenggam tangannya pertama, menggandeng tangannya pertama… ah kadang kisah pertengkaran, keras kepala, tumpah ruah isak tangis yang terjadi pun bisa terlihat begitu indah saat ini… yah, saat ini…

Tampaknya tidak berlebihan bila di setiap pagi yang baru berawal kita tetapkan hati untuk membuat yang terindah di setiap hal yang kita lakukan. Agar kenangan yang tercipta adalah satu bentuk keindahan.

Dan bila terbersit sebuah rencana keindahan di dalamnya, tak usahlah berpikir panjang menimbangnya. Entah itu sebuah kata pujian yang ingin disampaikan, setangkai bunga yang ingin diberikan, sekeping uang untuk yang memerlukan. Cukup lakukan saja karena itu akan tetap menjadi hal yang “pertama” dan segera “berakhir”…


/neovnet’s desk 031202

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s