The Count of Monte Cristo

Selalu menarik buat saya membicarakan Monte Cristo, terlebih latar bagaimana saya “berkenalan” dengan tokoh rekaan Alexander Dumas tersebut. Perkenalan dengan Monte Cristo dimulai semenjak kelas tiga SMP, saat novel itu masuk ke dalam salah satu cerita rekaan Gola Gong di Majalah Hai. Hampir tiap toko buku yang saya kunjungi selalu saya sempatkan untuk bertanya apakah ada buku Monte Cristo tersebut. Termasuk pada saat jadi backpacker ke daerah-daerah pun pasti selalu disempatkan untuk mampir ke toko buku dan bertanya tentang buku itu [ini juga saya lakukan untuk buku Sang Nabi-nya Gibran]. Dan akhirnya buku itu saya dapatkan pas sudah kuliah… teronggok tinggal satu di rak Gramedia Cinere Mall. Sumpah, sampai mau nangis pas menemukan buku itu hehehe =)

Pas sudah berkerja — sekitar tahun kedua kerja. Rumor beredar bahwa film Monte Cristo akan diangkat oleh Hollywood. Wah, benar-benar menjadi film yang paling saya tunggu di tahun itu. Semenjak teaser QuickTime berupa teks animatif sudah saya download, hingga keluar trailer dan akhirnya keluar juga film itu di bioskop. Minggu pertama film itu diputar saya sudah melihatnya!

Secara visual memang mewakili sekali detail dari cerita di novel. Tapi dari segi penokohan dan jalan cerita menjadi buruk sekali. Diadaptasi seenak-enaknya biar cocok dengan selera Hollywood. Jim Caviezel menurut saya tak mampu mengangkat dendam ke dalam sorot matanya, padahal dendam itulah yang menjiwai seluruh isi dari kisah Monte Cristo. Sorot mata Jim Caviezel yang teduh begitu tepat dalam memerankan Jesus di Passions of The Christ, tapi sorot mata itu tak tepat bila diperuntukkan menyiratkan dendam kusumat di The Count of Monte Cristo. Belum lagi hilangnya beberapa plot utama dari novel tersebut, termasuk adaptasi yang begitu berlebih, yakni Mercedes akhirnya hidup bersama Monte Cristo.

Bicara tentang Alexander Dumas adalah bicara tentang karya-karya legenda. Three Musketeer adalah novel yang juga ia tulis. Ada satu lagi novel dia yang menjadi legenda, La Dame Aux Camellias, atau “Camille”, atau “The Lady of the Camellias”, sayangnya saya belum pernah melihat buku itu. Seorang sahabat ada yang mendapatkan buku itu, di satu sudut toko buku loak di Bandung. Dan kini dia menetap di Amerika, jadi sama sekali belum sempat untuk meminjamnya.

Novel itu entah sudah berapa kali saya baca. Setiap keluar kota dan pergi sendiri, hampir dipastikan selalu membawa novel itu, benar-benar teman baik untuk membunuh waktu. Sempat emosi sekali saat novel itu dipinjam oleh teman mbakku dan kembali dalam keadaan lusuh. Mungkin itu salah satu titik yang akhirnya saya memutuskan tak lagi membiarkan buku-buku yang saya miliki keluar dari rumah. Kalau mau membaca ya bacalah di rumah.

Novel 790 halaman itu mengemas balas dendam yang begitu terencana, begitu apik, begitu “indah’ dengan tutur kata yang begitu mengalir lancar, kait mengait dalam rasionalitas yang sangat terjaga, dan sebuah kemewahan pun tersirat jelas turut mengantar mewujukan keinginan balas dendam. Satu persatu orang yang merampas hidupnya dia balas satu persatu. Dengan beragam cara dan keunikan…

Edmond Dantes, sosok yang terluka, sosok yang terengut dan tercabut harapan, mimpi serta jalan hidupnya, lalu garis hidup membawa dirinya menemukan satu bentuk harapan baru, mewujud dirinya menjadi The Count of Monte Cristo dengan satu kata singkat yang diyakininya — Revenge!

/18.50

2 thoughts on “The Count of Monte Cristo

  1. aku setuju dengan kamu tentang filmnya,versi aku film banding novelnya jauh.aku bacanya waktu masih putih-abu,3 hari tuntas.memahami alur kisah novelnya bikin aku merasakan sakitnya dikucilkan.sampe hari ini,figur the count menginspirasiku menjalani hidup.

  2. tidak hanya balas dendam …, bahkan balas budi yg tulus thd satu persatu orang yg pernah menanamkan kebaikan padi dirinya…
    Seakan mewakili tuhan, membalas yg jahat dg kejahatan, dan membalas yg baik dg kebaikan…plot cerita yg unik dan dan seakan menakdirkan.
    Kubaca novel ini 20tahun yg lalu, dan terkenang hingga kini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s