Mengejar Matahari

Akhirnya nonton juga film Mengejar Matahari, dulu sempat kemakan cerita omongan teman yang bilang film itu nggak bagus. Ah nyatanya film itu sangat bagus sekali untukku, mengakar pada apa yang hidup di masyarakat strata itu, seperti potret yang utuh menampilkan perniknya.

Melihat ketidaksanggupan diri menghadapi kesewenangan sosial, dan hanya memiliki solusi, “yah mau bagaimana lagi?” Kesewenangan sosial yang bermuara kepada tindak kekerasan, intervensi, premanisme, sebuah potret buram yang tumbuh mengakar di tingkat dasar kehidupan masyarakat. Siapa kuat, bernyali, dan tak punya otak, adalah sosok “raja kecil” yang menakutkan dan berkuasa semena-mena.

Masa kecilku akrab sekali dengan lingkungan itu, sebuah tempat padat di bilangan Kebayoran Lama dan Gandaria, yang kini menjadi lahan gusuran tak terolah. Obeng bekas menusuk orang yang dibuang ke parit kecil. Balas dendam antar keluarga, setelah saudaranya dibunuh lalu balas membunuh dengan menclurit dari belakang. Mendengar nama dua bersaudara Bang Matum dan Tong Omat itu selalu membuat merinding bulu kuduk, dua sosok jawara yang malang-melintang di dunia gelap. Sang Kakak mati di sebuah duel dan Si Adik tewas diterjang timah panas petrus [penembak misterius zaman Soedomo dulu], tubuhnya dibuang begitu saja di comberan pinggir jalan!

Pernah di satu pagi, pegangan pintu terlepas, kaca nako yang telah dicongkel, jejak -jejak kaki berupa kotor tanah yang tertinggal di halaman. Maling itu telah siap masuk rumah, namun entah apa yang menahannya. Lalu di beberapa hari berikutnya, sebuah video player lenyap di rumah tetangga sebelah. Belum lagi, tak terhitung hilangnya pakaian yang ada di jemuran. Sebuah jeans Levis yang baru dijemur cukup mengantar seseorang untuk mengantar berurusan dengan polisi.

Sebagian mungkin akan mencibir saat Damar mengambil tabungannya dan ditukar dengan pistol rakitan, sebagian mungkin akan berkata, “ah berlebih banget, nggak mungkin lah di Indonesia”. Nyatanya potret itu adalah potret keseharian yang telah aku temui zaman masih di sma dulu. Juga saat Si Obet menusuk “Udjo” dari belakang dan ditinggalkan mati begitu saja lengkap dengan belati. Nyatanya itu sebuah potret hitam yang telah lama ada, tidak mengada-ada…

Lalu bercerita tentang persahabatan yang berakhir akibat hadirnya perempuan di tengah mereka. Aku tersenyum melihatnya, tiba-tiba tertarik ke belakang, saat masih duduk di kelas tiga smp, sebuah persahabatan berakhir akibat senda gurau yang tak perlu. Senda gurau yang bergulir dalam beda persepsi, yang satu menganggap sebuah senda gurau belaka, sedang yang satu menganggap satu hal yang tak bisa diganggu gugat. Sebuah senda gurau dengan tema seorang perempuan. Persahabatan itu berakkhir setelah sebuah pukulan mendarat di wajah salah satunya, dan aku mesti susah payah melerai pertikaian yang tak perlu itu…

Jadi teringat dengan film God Must Be Crazy, akibat sebuah botol Coca-cola, masalah dan kejadian datang silih berganti. Sebuah sebab yang harusnya tidak perlu menjadi sebuah “sebab”!

/minggu/050403/05.10pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s