Dunia Maya Dunia Nyata

“Dialog” pertama saya dengan perkembangan internet itu terjadi pada tahun 1999 akhir, saat itu kamar biru yang saya tempati sudah saya pasang jaringan telpon sendiri, hingga tagihannya tidak membebani rumah orang tua saya. Waktu itu dapat info tentang telkomnet@instant dari seorang senior, dan mencobalah ber-internet dengan provider tersebut. Yang paling saya ingat dari saat itu adalah, saya nggak tau berapa tarifnya telkomnet tersebut. Akhirnya, setelah sekian pemakaian dan baru tau biayanya, jadinya stress banget, yang terbayang… telpon baru sebulanan di pasang bakal dilepas lagi karena nggak kuat bayar. Dan akhirnya saat tagihan itu datang, 300ribu melayang untuk tagihan. Padahal waktu itu belum kerja benar, cuma freelance sambil kuliah.

Lalu “dialog” yang agak “berat” dimulai saat menemukan buku Dunia yang Dilipat, bagaimana internet merubah budaya dunia. Setelah itu, singgungan saya dengan internet semakin menjadi-jadi, menjadi web designer yang 100% harus terus-terusan bercengkrama dengan internet. Tiga tahun terlewat, dari nol besar sampai akhirnya jadi tau banyak. Dan saya saat sangat diuntungkan dengan momen tersebut. Saya masuk dan mempelajari dunia maya tersebut pada saat segalanya masih sederhana, masih mudah untuk diketahui logikanya, namun kesederhanaan tersebut menjadi bahan dasar serta pondasi dari perkembangan internet pada saat ini. Segala teknologi yg berkembang saat ini hampir seluruhnya adalah bentuk perkembangan pada saat itu. Hingga memudahkan secara logika untuk memahaminya.

Perkembangan dunia internet bergerak dengan amat cepat — tidak ada yang menyangsikan hal itu. Budaya bergerak, budaya berubah, ada unsur dan komponen baru yang terus menerus memaksa masuk untuk diadaptasi. Pemaknaan pun terus menerus bergerak untuk mencari definisi-definisi baru. Secara perlahan banyak kegiatan yang mulai kehilangan makna mendasar. Kehadiran tanpa “bentuk” menjadi hal yang wajar.

Senyum pun dapat berubah makna, — :) :( ;) :D ;;) :-/ :x :”> :P :* — menjadi deret karakter huruf, yang membuat kita selalu merasa perlu mencantumkan deret-deret karakter tersebut, seakan perasaan hati tak cukup terwakilkan hanya dengan kata-kata. Harus disertai dengan deret karakter huruf tadi. Lalu mesin-mesin Messenger dianggap sebuah kotak yang sanggup berdialog namun kita kadang terlupa ada manusia lain di seberang sana. Kita bisa “menjadi” siapapun dan apapun. Identitas turut dianggap “maya”, dia bisa menjadi apapun dan siapapun, benar-benar terlupa kepada hakekat nyata, ada manusia di balik itu semua.

Padahal, selama kita masih sakit bila dicubit, masih butuh mendapat senyum manis yang asli, masih ingin tawa renyah hadir dalam bentuk apa adanya, masih ingin tersengat hangatnya mentari… mestinya tak perlu kita mencari definisi-definisi baru untuk dunia maya tadi… karena hakekatnya akanlah tetaplah sama… ada sosok manusia yang nyata di balik segala ketidaknyataan itu… Kecuali memang kita sudah sangat merasa cukup saat “dicium” oleh makhluk bulat botak kuning… =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s