Petr Cech

Tidak ada hal yang lebih menarik untuk saya saat melihat pertandingan sepak bola selain melihat aksi sepak terjang para penjaga gawang. Ada yang masih kenal Hermansyah? Dia itu kiper nasional Indonesia pada saat Pra Piala Dunia 1986, itu mungkin momen awal yang membuat saya bersinggungan dengan ketertarikan aksi penjaga gawang. Dahulu sekali, menonton Liga Italia itu untuk menonton aksi Walter Zenga, kiper legendaris Italia, untuk tim Inter Milan. Madonna pun pernah menjuluki Zenga sebagai pemain bola terseksi di Piala Dunia 1992. Kemudian benar-benar kagum dengan aksi Peter Schmeichel, kiper legendaris Manchester United, banyak orang melihat MU itu untuk menonton aksi David Beckham juga era Eric Cantona, tapi saya lebih tertarik untuk melihat aksi-aksi Schemeichel. Bagaimana Schemeichel berjibaku, terbang sana-sini, menyongsong bola lengkap dengan menyongsong pemainnya dengan penuh keberanian. Mungkin kiper lain cukup dengan menepis bola namun Schemeichel sanggup untuk menangkap bola tersebut. Lalu era Schemeichel pun berakhir, ia memutuskan hengkang dari MU pada saat di puncak karirnya, saya pun kehilangan keinginan untuk menonton Liga Inggris.

Menonton Chelsea dahulu itu bukan sesuatu yang menarik buat saya. Aksi umbar kata yang dilakukan oleh Jose Mourinho berhasil menarik minat saya untuk melihat Chelsea, dan saya tiba-tiba mempunyai alasan baru untuk kembali menonton Liga Inggris, yap ada Petr Cech di situ. Kiper muda dengan kemampuan yang begitu mengingatkan pada aksi-aksi Schmeichel. Tiga rekor berhasil ia pegang hingga saat ini, selama 855 menit pertandingan ia tidak pernah kebobolan. Rekor kedua, tak kebobolan dalam 1.025 menit partai Liga Inggris dan tak kebobolan dalam semusim kompetisi dengan jumlah laga terbanyak, yaitu 25 pertandingan.

Petr Cech adalah salah satu modal terbesar kemenangan Chelsea, pada saat ia cedera, dihantam lutut pemain Reading, Stephen Hunt. Jose Mourinho benar-benar hampir kehabisan akal untuk mencari pengganti pemain di bawah mistar gawang. Kualitas kiper pengganti Chelsea jauh di bawah Petr Cech. Lalu Chelsea pun meredup, tak mampu meraih kembali gelar Liga Inggris.

Hal yang paling menarik untuk dicermati adalah bagaimana Petr Cech kembali dari cederanya. Tiga bulan dirawat di rumah sakit, memulihkan cedera retak tulang tengkorak, dan kembali lagi berlaga dengan menggunakan helm pelindung khusus yang hingga hari ini masih ia gunakan pada saat ia berlaga. Menjadi pertanyaan besar hampir setiap orang adalah apakah Cech akan kehilangan keahliannya pada saat balik berlaga. Apakah akan trauma pada saat menyongsong bola? Apakah akan ada rasa takut saat mesti terbang ke sana-sini memblok bola? Nyatanya tidak! Cech hadir sama seperti pada saat sebelum ia cedera, tak ada ketakutan tak ada trauma yang terlihat pada saat ia kembali berlaga. Entah seberapa beratnya perjuangan yang ia lakukan untuk kembali kepada performa awal. Tak terbayang bagaimana ia keluar dari rasa trauma, juga rasa sakit atas cedera yang ia alami, cedera yang hampir membuat ia lumpuh, dan pensiun awal dari profesi penjaga gawang.

Jatuh, luruh, cedera, luka, penat, sakit, dan bersedih adalah hal yang biasa… kembali lagi ke titik awal bahkan berusaha lebih untuk melampauinya, itu baru luar biasa =)

/18.40

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s