Berontaklah dalam…

kepalan-tangan

oleh : sarie.febriane – widhyatmoko

Ada yang menggangu saat membaca berita di Jum’at sore kemarin. Mahasiswa kembali bentrok dengan aparat, saat Howard, Perdana Menteri Australia berkunjung ke Kampus UGM. Dan bentrokkan pun berlangsung dengan parah hingga jatuh korban di kedua pihak. Sementara Howard entah berada di mana, mungkin sedang melenggang menuju tempat santap malam.

Tiba-tiba seperti kembali tertarik pada satu periode sejarah Indonesia. Pada saat, atas nama Nasionalisme, maka Beatles adalah satu barang haram, ‘musik ngak-ngik-ngok’ menjadi satu idiom baru. Kebudayaan barat adalah momok menakutkan bagi rasa nasionalisme. Rambut gondrong, celana cut-bray, musik Koes Plus dapat dikategorikan subversif. Benturan terjadi dan jalan keras kerap menjadi satu pilihan bagi kedua pihak. Namun sementara Beatles di sana terus mengukir legenda mereka.

Sekian waktu berlalu, namun ‘solidaritas emosional’ bangsa ini tak pernah beranjak kepada kedewasaan. Tak pernah tersadar pada kenyataan bahwa yang paling terancam oleh ‘solidaritas beratasnamakan emosional’ itu adalah negeri rapuh ini.

Kenapa eksistensi kita di alam bawah sadar harus senantiasa merasa terancam dengan eksistensi yang lain. Kenapa eksistensi kita secara tak sadar terpola dengan mencoba untuk meniadakan eksistensi yang lain. Kenapa Horward nggak diajak aja debat terbuka oleh para mahasiwa ataupun oleh para Wakil Rakyat, yang tiba-tiba menjadi ‘hebat’ bersuara. Kami yakin itu jauh lebih terpelajar dan lebih intelektual.

Kami yakin Beatles pun mengawali diri dari segenap penolakan. Segenap perbedaan dan pemberontakan atas kemapanan. Hingga mereka pasti pernah melewati fase sebagai ancaman atas kemapanan. Dengan kepercayaan diri berdasar kemampuan yang dimiliki mereka memulai membangun eksistensi.

Mungkin kita nggak punya ‘percaya diri’ untuk mencapai eksistensi. Tak punya percaya diri dengan kekuatan yang kita miliki. Atau mungkin jangan-jangan kita memang nggak punya kekuatan dan kemampuan yang patut untuk membuat kita menjadi percaya diri. “Berontak pun butuh otak bukan asal gebrak!!”

—————————————-
ad’QUSTiQuad
edisi : ad’Quad/III/v.3.0/2001
—————————————-
/02.11 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s