My 1st PC

Gambar di samping adalah gambar dari komputer pertama yang saya beli. Itu terjadi tahun 2001, dari side job saya mengerjakan marketing kits untuk nestlé, mendapat sekian belas juta padahal itu hanya desain saja. Lalu uangnya saya belikan komputer, satu set conga, masih ada sisa yang cukup besar akhirnya masuk ke dalam tabungan. Kalau sekarang niat dikit aja, oprek dikit sana sini kamar biru saya, pasti bakal bertemu dengan bon-bon pembelian PC + conga tersebut. Yang masih diingat, PC itu dibeli di Mangga Dua dan conga dibeli di Wijaya Musik Fatmawati. Dan kemarin akhirnya kedua barang itu tak lagi bersama saya. Kalau conga memang sudah lebih dahulu dijual, sedang kemarin itu akhirnya si komputer menyusul untuk tak lagi bersama saya.

Komputer ini “pernah” canggih banget, spesifikasinya Pentium IV 1,60GHz, RAM-nya 768MB, VGA card-nya NVIDIA GeForce4 MX 4000 64 MB. Sound card-nya juga OK karena dipasang dengan SoundBlaster Live, cukup banget untuk buat demo lagu ala home recording. Lengkap juga dengan Sony CD Burner 24x/10x/40x, yang waktu itu harganya masih mendekati 2 juta rupiah. Dengan segala spesifikasi yang ada di atas, PC rakitan itu tetap lebih canggih, lebih kencang dibanding iBook yang sudah empat tahun lebih ini saya pakai.

Studio ad’QOMiC yang saya dirikan dengan adik saya berhutang jasa besar dengan PC tersebut. Kami mengawalinya dengan menggunakan PC itu. Mulai Milo Kid-nya Nestlé yang sampai hari ini masih berlanjut pekerjaannya, Trakinas, Huggies, Pedigree, Pertamina, Sprite, hingga akhirnya PC tersebut mulai pensiun saat adik saya mulai menggunakan PowerBook sebagai alat kerjanya.

Sampai saat terakhir kemarin dijual, kondisinya masih OK banget, walau jangan dibandingkan dengan generasi baru Core2Duo yang saat ini sedang berkembang dengan pesat. Masih tetap canggih untuk menjalankan PhotoShop 7 (bukan seri CS ya!), juga FreeHand 11 dengan vektor-vektor yang njlimet. Menjalankan software audio editing semisal CakeWalk pun masih lancar, rekam audio lalu editing, mixing dan mastering.

Yah tapi namanya teknologi pasti akan bertemu dengan titik jenuhnya, akan bertemu dengan titik ketinggalannya. Serbuan teknologi baru yang semakin menyamankan saat bekerja memaksa barang-barang tertinggal teknologi untuk menyingkir, untuk turun kelas menjadi alat bantu pekerjaan yang lebih mudah, yang lebih tidak membutuhkan kapasitas besar. Dan sentimentil yang menyertai segala catatan yang pernah dilalui dengan alat itu biarlah menjadi catatan saja, bahwa komputer itu pernah menjadi alat canggih pertama yang saya beli dengan uang saya sendiri…

/00.05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s