Sedingin Bromo

Langit masih bertemankan bulan sabit. Taburan bintang begitu jelas terlihat, berserak menghiasi langit. Mereka seperti berlomba-lomba menampakkan diri.

Meta dan Biru duduk di bangku tepi lembah, menatap ke arah Bromo yang hanya terlihat siluet saja. Di kejauhan terlihat pendar-pendar nyala api yang begitu kecil, bermain ditiup angin, mungkin para penduduk Tengger yang menjual makanan di kaki Bromo.

Meta dan Biru duduk di bangku tepi lembah, persis seperti satu tahun yang lalu, saat Biru memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Team SAR Tengger-Bromo.

“Nggak terasa ya udah setahun, kita nggak ketemu… dan nggak ada satu pun kabar yang coba kita kirimkan,” Biru berbicara pelan.

Meta hanya mendengarkan.

“Apa kabar, Ta?”

Meta tersenyum kecil, sambil menahan dingin yang begitu menusuk. “Nggak banyak yang berubah, masih seperti dulu!” Senyum kecil itu masih menghias parasnya. Dan masih tetap sayang dan nggak bisa ngelupain kamu! Kalimat terakhir itu hanya terucap di dalam hati saja.

“Masih jadi tukang foto, tukang ngebut, tukang band dan anak gunung?”

“Yang terakhir nggak, Semeru tahun lalu bareng kamu itu yang terakhir.”

“Kenapa?”

Meta menjawab hanya dengan senyum kecil. Gunung selalu mengingatkan saya ke kamu! Sekali lagi masih bicara di dalam hati saja.

Saling diam lagi.

“Masih belum bosen turun naik gunung?” Meta bertanya pelan.

Biru hanya tersenyum, “kamu tau jawaban saya, Ta! Kamu tau, saya menemukan ketenangan di sini, melupakan segenap beban yang dulu itu, melupakan masa lalu saya.”

“Juga melupakan saya…,” pelan sekali kalimat itu terucap, sedikit sesal hadir di benak Meta mengapa mesti mengucapkan kalimat itu.

Biru menarik nafas panjang, menatap dalam ke gadis yang duduk di sebelahnya, yang mulai sedikit menggigil kedinginan. “Saya nggak pernah bisa dan nggak pernah mau ngelupain kamu, Ta!”

Meta semakin dalam menunduk. “Sudahlah, Biru! Setahun kemarin sudah cukup untuk kita belajar melupakan yang dulu itu.”

“Kamu sudah bisa melupakan semua, Ta?”

Meta hanya tersenyum. Saya masih tetap sayang dan nggak bisa ngelupain kamu! Dan dingin semakin menusuk, terbiarkan, dicoba untuk tidak dirasa.

“Kamu mau coklat hangat?”

Meta mengangguk saja.

Lalu Biru berdiri, berjalan ke arah restoran yang berada di belakang tempat mereka berdua duduk. Nggak lama, pemuda itu keluar dengan dua buah cangkir berisi coklat panas dengan asap yang sedikit mengepul. Berjalan kembali ke samping tempat Meta duduk.

“Diminum cepat, Ta! Sebentar pasti langsung dingin.”

Meta menyambut cangkir itu, “makasih!” Lalu segera didekap dengan kedua telapak tangannya dan meminumnya. Cuma sebentar, coklat panas itu menjadi terasa hangat saja.

“Masih kedinginan?”

“Lumayan!”

Bulan sabit tepat di atas kepala mereka. Meta sejenak menatap ke atas, menatap bulan indah itu. Menghirup dingin dan segarnya udara malam, memenuhi tiap relung rongga dada, mencari ketenangan.

“Kok tiba-tiba saya merasa bodoh duduk lagi di sini bersama kamu ya? Semua sama yang kita lewati dengan malam terakhir dulu itu, duduk di bangku ini, minum coklat panas… bedanya saat itu bulan sedang purnama.” Sebuah hela nafas panjang kembali terdengar. “Nggak seharusnya saya membawa diri saya kembali mengulang yang dulu itu, seharusnya tadi itu saya nggak perlu mampir ke posko, biar nggak perlu ketemu dengan kamu…” suara itu makin pelan, kini ada bening yang menggenang di kedua mata gadis itu.
Hening sesaat mengisi waktu.

“Maafin saya, Ta!”

“Maaf untuk apa? Nggak ada yang perlu untuk dimaafkan. Saya mungkin yang terlalu berharap kalo saya udah nggak apa-apa, kalo saya itu sudah melupakan yang dulu itu, nyatanya semua tinggal harap yang saya miliki… dan malam ini saya kembali harus mengulang dari awal untuk melupakan kamu…” Kedua mata indah itu semakin menggenang.

Hening kembali mengisi percakapan itu.

“Seharusnya malam ini saya masih di Ranu Pane, tapi siang tadi ada kabar dari posko, yang bilang ada gadis cantik dengan rambut teramat pendek mencari saya. Segera saya cari kendaraan yang bisa saya gunakan untuk ke Cemoro Lawang, dan cuma ada motor trail di sana… dua jam lebih saya naek motor melewati padang pasir untuk bisa ketemu kamu… Nggak banyak yang saya inginkan saat saya ketemu kamu ini, mungkin sekedar melepas kangen yang teramat sangat, karena untuk kembali berharap agar kita bisa kembali bersama melanjutkan yang dulu itu, saya nggak berani… walau saya ingin sekali itu terjadi…”

Sesekali terdengar hembus angin dingin yang bertiup perlahan.

“Saya masih sayang kamu, Ta!” Pelan sekali kalimat itu terucapkan oleh Biru.

Tak ada jawab yang terucap dari bibir Meta, hanya genang air yang semakin menderas di kedua mata indah itu.

“Kamu bersedia memberi kesempatan lagi untuk kita, Ta? Mencoba melanjutkan yang dulu itu?”

“Dengan keadaan seperti ini? Saya di Jakarta sedang kabar kamu hanya akan sesekali saya terima dari sini…?”

Biru mengangguk pelan.

“Saya nggak bisa, Biru! Saya nggak mampu setiap hari harus was-was dengan keadaan kamu, keselamatan kamu di sini. Saya masih nggak berani untuk itu, alasan saya masih sama seperti setahun yang lalu…”

“Tapi nyatanya kita sama-sama tidak bisa melupakan, Ta. Beri sekali kesempatan untuk kita mencobanya!”

“Bukan cuma kamu yang berharap melanjutkan yang dulu itu, Biru. Saya juga mengharap hal yang sama dan menyakinkan diri saya untuk bisa melakukan itu, tapi kita benar-benar nggak realistis bila memilih keputusan itu.”

Meta terdiam, kedua matanya masih menggenang. Dingin kembali membalur seluruh tubuhnya. Dan kali ini gadis itu menggigil.

“Kamu kedinginan, Ta? Boleh saya peluk kamu?” Pelan Biru bertanya.

Hening sesaat kembali mengisi waktu.

“Jangan…! Saya nggak berani. Itu hanya akan menyakitkan kita saja.” Sebuah hela nafas yang panjang kembali terdengar, “Please, tinggalin saya sendiri sekarang… saya benar-benar butuh untuk sendiri… maafin saya!”

Biru hanya menatap dalam gadis di sampingnya itu.

“Please… saya benar-benar nggak mau kamu melihat saya menangis!”

Setengah enggan Biru berdiri, membelai pelan rambut pendek Meta, dan berbisik pelan di telinga gadis itu, “maafin saya, Ta!”

Lalu pemuda itu berlalu, meninggalkan Meta yang masih terduduk, isak tangis yang tadi begitu tertahan telah ditumpahkan. Ini pun tak beda, sama seperti satu tahun yang lalu. Lalu sepuluh menit terlewat begitu saja.

neovnet’s desk | kamis 070803 | 17.20


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s