Tepat Waktu

Diskusi yang sering saya angkat pada saat mengajar CB IV adalah seputar tepat waktu. Mengawalinya dengan sebuah pertanyaan sederhana, yaitu : “Mengapa kita harus datang tepat waktu” — saya sempitkan diskusinya di wilayah ini dulu sebelum saya ajak ke bahan diskusi yang lebih luas seperti tenggat waktu pekerjaan yang harus dipenuhi.

Dan seperti biasa, jawaban para mahasiswa selalu menarik untuk dicermati. Rata-rata mereka mengiyakan, mereka setuju dengan datang itu harus tepat waktu. Namun (sekali lagi) seperti biasa untuk menjalankannya itu yang tidak semudah dalam mengucapkannya.

Lalu saya coba memberikan contoh yang sederhana. Saya tunggu mahasiswa yang datang terlambat. Sebelumnya saya katakan kenapa saya itu resistan sekali dengan keterlambatan. Saya katakan, “coba nanti perhatikan teman kalian yang datang telat, saat pintu terbuka kita sudah menoleh semua ke arah pintu, lalu teman kalian itu akan memotong perkuliahan karena harus meminta maaf karena telat, lalu dia akan berjalan ke arah bangku, narik kursi menimbulkan suara, meletakkan tas muncul lagi suara, begitu duduk pasti akan nanya kiri-kanan, lagi membahas apa sih.”

Bayangkan betapa banyak rentetan gangguan suasana yang ditimbulkan oleh sebuah kejadian keterlambatan.

Lalu tak lama muncullah satu mahasiswa yang datang terlambat, saya ajak para mahasiswa untuk mengucapkan ulang tahap-tahap yang sebelumnya sudah saya sebutkan. Semua menahan tawa, hingga meledak tawa kita bersama karena seluruh tahapan tersebut benar-benar dilalui oleh si mahasiswa telat tadi. Tinggal si mahasiswa telat itu tadi yang bengong karena bingung sekelas itu sedang mentertawakan apa.

Ada juga jawaban menarik dari salah satu mahasiswa, kalau kita terlambat kasihan yang menunggu, Pak. Jadinya pasti kepikiran takut kita kenapa-napa. Wuih mulia sekali jawabannya =)

Yah datang tidak tepat waktu itu menghamburkan waktu yang kini semakin berharga. Membuat orang menunggu, membuat orang lain menjadi tidak konsentrasi, menjadi hilang kesabaran. Saat datang pun akhirnya membutuhkan waktu tambahan lagi untuk adaptasi, padahal waktu adaptasi tersebut telah menggunakan waktu yang semestinya sudah masuk ke menu utama. Tidak tepat waktu itu pasti mengganggu aktivitas dan kegiatan-kegiatan berikutnya, juga acara dari yang lainnya. Yang lebih menyeramkan adalah apabila keterlambatan tersebut sudah dianggap hal yang biasa, selalu dimaafkan, selalu diberi pengecualian, dan selalu menjadwalkan waktu lebih awal dari jadwal yang sesungguhnya. Betapa besar kerugian yang kita alami.

/17.58

One thought on “Tepat Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s