Merasa

merasa

“Merasa bisa” dan “bisa” adalah dua hal yang sangat berbeda, begitupun dengan “mampu” dan “merasa mampu”. Kita terbiasa berdialog dengan diri namun variabel dan tolak ukurnya selalu dengan kesubyektifan kita, yah manusiawi sih. Hingga variabel terpentingnya — menurut saya — tolak ukur logis, timbang saran, gono-gini, kalau dan jika, positif negatif, dampak lain, efek samping justru malah dipinggirkan. Yang penting saya telah “merasa” mampu dan “merasa” bisa…

Contoh paling mudahnya adalah pada saat kita dapat kesempatan untuk berpresentasi, kita terbiasa berdialog dengan isi kepala kita sendiri, abis ini ngomong ini, pas slide ini saya tambahkan omongan ini, begitu kelar ngomong itu terus ngomong ini… semua dirunut di dalam pikiran saja, tak coba ditulis, tak coba diucapkan, tak pernah dilatihkan, tak pernah coba dilakukan — karena sekali lagi kita telah “merasa” mampu untuk presentasi hanya dengan membayangkan jalannya presentasi itu sendiri.

Kita merasa mampu mengemudikan mobil, merasa mampu membuat novel, merasa mampu mengajar, merasa bisa membetulkan radio, merasa bisa terjun payung, merasa mampu jadi Pak Lurah, merasa bisa ikut UMPTM eh atau SPMB ya? Apapun nggak cuma dalam contoh tadi…

Nah yang paling lebih mengkuatirkan plus menyedihkan itu adalah pada saat kita telah melakukan aktivitas yang hanya bermodal “merasa” itu tadi lalu kita menyimpulkan bahwa kita telah berhasil + sukses menjalankannya. Hmm mungkin lebih tepat hasilnya adalah “merasa” berhasil  kali ya :)

/abis sahur hari ke 22

4 thoughts on “Merasa

  1. Mungkin ada benarnya…tapi saya percaya bahwa semua hal harus dimulai dengan satu titik…percaya bahwa kita bisa bisa, percaya bahwa kita mampu. Terkadang titik nol untuk memulai sesuatu tidak selalu bisa didapat dengan dukungan lingkungan atau eksternal…tapi cukup dari titik diri. Dan saya percaya bahwa titik diri ini yang lebih penting untuk percaya kemampuannya sendiri, walaupun sejuta eksternal lain berkata sebaliknya.

  2. bukan hitam putih. lebih tepat melihatnya menjadi proses yang semestinya dilalui. membagun sebuah integritas dan kapasitas pada akhirnya akan mempercepat pencapaian tersebut. berkendala naik sepeda nggak semestinya langsung ngebut menggunakan harley. terbata-bata menyetir karimun namun nekat membawa kontainer 26 roda. ada yang ditaruhkan dan kadang yang dipertaruhkan itu merugikan sekitar yang ada. pada dasarnya seberapa besar sadar diri dan sadar potensi. kira-kira begitu, aja sih, ci =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s