Mendukung atau Menjerumuskan?

130219-mendorong

Ingat tidak, di kelas ataupun misalnya di sebuah perkumpulan, kita terbiasa meneriakkan satu nama untuk sesuatu yang harus dilakukan. Misalnya seperti ini, ibu guru bertanya di depan kelas “siapa yang mau mengerjakan soal ini?” Lalu spontan pasti kita akan saling menuding, saling mengucapkan nama yang pada intinya merujuk ke orang lain. Apakah hal itu dilakukan murni karena kita yakin atas kompetensi orang tersebut atau tujuannya (biasanya) untuk lucu-lucuan, untuk memindahkan beban tanggung jawab, bisa juga satu bentuk pengkondisian yang kadang berawal dari konsep “bully”.

Bila hal tersebut selalu dilakukan, saya yakin bukan konsep mendukung yang dilakukan, pada dasarnya kita sedang melakukan satu praktek menjerumuskan seseorang kepada satu keadaan yang tidak mampu untuk dikuasainya. Lebih celaka lagi apabila si obyek tersebut pada akhirnya merasa yakin dengan kemampuan yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Ya karena itu tadi, lingkungannya telah “mendukung” dirinya, sampai dirinya tak tersadar bahwa sebenarnya dia tidak pernah mampu melakukan tanggungjawabnya tersebut. Pada titik itu, bukan dukungan yang telah dilakukan, karena sebuah praktek menjerumuskan nyatanya telah kita lakukan secara “sadar”.

Selalu begitu?
Tentu saja tidak. Tetap selalu ada kondisi di mana kita mengucapkan satu nama lebih karena sepenuhnya kita mendukung, kita yakin dengan kompetensi yang dimiliki. Kita paham dan setuju dengan kemampuan yang dimiliki atas nama yang tersebut.

Tapi, bila menyambung tulisan sebelumnya, bila si obyek tersebut maju dengan hanya bermodal segumpal “merasa bisa plus merasa mampu” — hmm sepertinya dukungan sehebat dan sebesar apapun tak akan mampu membawa ke area positif. Karena si obyek sendiri yang menjerumuskan dirinya.

/Minggu siang, 04 Oktober 2009, 12.51

Mendukung atau menjerumuskan?

Mendukung atau menjerumuskan?

Ingat tidak, di kelas ataupun misalnya di sebuah perkumpulan, kita terbiasa meneriakkan satu nama untuk sesuatu yang harus dilakukan. Misalnya seperti ini, ibu guru bertanya di depan kelas “siapa yang mau mengerjakan soal ini?” Lalu spontan pasti kita akan saling menuding, saling mengucapkan nama yang pada intinya merujuk ke orang lain. Apakah hal itu dilakukan murni karena kita yakin atas kompetensi orang tersebut atau tujuannya (biasanya) untuk lucu-lucuan, untuk memindahkan beban tanggung jawab, bisa juga satu bentuk pengkondisian yang kadang berawal dari konsep “bully”.

Bila hal tersebut selalu dilakukan, saya yakin bukan konsep mendukung yang dilakukan, pada dasarnya kita sedang melakukan satu praktek menjerumuskan seseorang kepada satu keadaan yang tidak mampu untuk dikuasainya. Lebih celaka lagi apabila si obyek tersebut pada akhirnya merasa yakin dengan kemampuan yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Ya karena itu tadi, lingkungannya telah “mendukung” dirinya, sampai dirinya tak tersadar bahwa sebenarnya dia tidak pernah mampu melakukan tanggungjawabnya tersebut. Pada titik itu, bukan dukungan yang telah dilakukan, karena sebuah praktek menjerumuskan nyatanya telah kita lakukan secara “sadar”.

Selalu begitu?

Tentu saja tidak. Tetap selalu ada kondisi di mana kita mengucapkan satu nama lebih karena sepenuhnya kita mendukung, kita yakin dengan kompetensi yang dimiliki. Kita paham dan setuju dengan kemampuan yang dimiliki atas nama yang tersebut.

Tapi, bila menyambung tulisan sebelumnya, bila si obyek tersebut maju dengan hanya bermodal segumpal “merasa bisa plus merasa mampu” — hmm sepertinya dukungan sehebat dan sebesar apapun tak akan mampu membawa ke area positif. Karena si obyek sendiri yang menjerumuskan dirinya.

Minggu siang, 04 Oktober 2009, 11.56

Ingat tidak, di kelas ataupun misalnya di sebuah perkumpulan, kita terbiasa meneriakkan satu nama untuk sesuatu yang harus dilakukan. Misalnya seperti ini, ibu guru bertanya di depan kelas “siapa yang mau mengerjakan soal ini?” Lalu spontan pasti kita akan saling menuding, saling mengucapkan nama yang pada intinya merujuk ke orang lain. Apakah hal itu dilakukan murni karena kita yakin atas kompetensi orang tersebut atau tujuannya (biasanya) untuk lucu-lucuan, untuk memindahkan beban tanggung jawab, bisa juga satu bentuk pengkondisian yang kadang berawal dari konsep “bully”.
Bila hal tersebut selalu dilakukan, saya yakin bukan konsep mendukung yang dilakukan, pada dasarnya kita sedang melakukan satu praktek menjerumuskan seseorang kepada satu keadaan yang tidak mampu untuk dikuasainya. Lebih celaka lagi apabila si obyek tersebut pada akhirnya merasa yakin dengan kemampuan yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Ya karena itu tadi, lingkungannya telah “mendukung” dirinya, sampai dirinya tak tersadar bahwa sebenarnya dia tidak pernah mampu melakukan tanggungjawabnya tersebut. Pada titik itu, bukan dukungan yang telah dilakukan, karena sebuah praktek menjerumuskan nyatanya telah kita lakukan secara “sadar”.
Selalu begitu?
Tentu saja tidak. Tetap selalu ada kondisi di mana kita mengucapkan satu nama lebih karena sepenuhnya kita mendukung, kita yakin dengan kompetensi yang dimiliki. Kita paham dan setuju dengan kemampuan yang dimiliki atas nama yang tersebut.
Tapi, bila menyambung tulisan sebelumnya, bila si obyek tersebut maju dengan hanya bermodal segumpal “merasa bisa plus merasa mampu” — hmm sepertinya dukungan sehebat dan sebesar apapun tak akan mampu membawa ke area positif. Karena si obyek sendiri yang menjerumuskan dirinya.
Minggu siang, 04 Oktober 2009, 11.56Mendukung atau menjerumuskan?
Ingat tidak, di kelas ataupun misalnya di sebuah perkumpulan, kita terbiasa meneriakkan satu nama untuk sesuatu yang harus dilakukan. Misalnya seperti ini, ibu guru bertanya di depan kelas “siapa yang mau mengerjakan soal ini?” Lalu spontan pasti kita akan saling menuding, saling mengucapkan nama yang pada intinya merujuk ke orang lain. Apakah hal itu dilakukan murni karena kita yakin atas kompetensi orang tersebut atau tujuannya (biasanya) untuk lucu-lucuan, untuk memindahkan beban tanggung jawab, bisa juga satu bentuk pengkondisian yang kadang berawal dari konsep “bully”.
Bila hal tersebut selalu dilakukan, saya yakin bukan konsep mendukung yang dilakukan, pada dasarnya kita sedang melakukan satu praktek menjerumuskan seseorang kepada satu keadaan yang tidak mampu untuk dikuasainya. Lebih celaka lagi apabila si obyek tersebut pada akhirnya merasa yakin dengan kemampuan yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Ya karena itu tadi, lingkungannya telah “mendukung” dirinya, sampai dirinya tak tersadar bahwa sebenarnya dia tidak pernah mampu melakukan tanggungjawabnya tersebut. Pada titik itu, bukan dukungan yang telah dilakukan, karena sebuah praktek menjerumuskan nyatanya telah kita lakukan secara “sadar”.
Selalu begitu?
Tentu saja tidak. Tetap selalu ada kondisi di mana kita mengucapkan satu nama lebih karena sepenuhnya kita mendukung, kita yakin dengan kompetensi yang dimiliki. Kita paham dan setuju dengan kemampuan yang dimiliki atas nama yang tersebut.
Tapi, bila menyambung tulisan sebelumnya, bila si obyek tersebut maju dengan hanya bermodal segumpal “merasa bisa plus merasa mampu” — hmm sepertinya dukungan sehebat dan sebesar apapun tak akan mampu membawa ke area positif. Karena si obyek sendiri yang menjerumuskan dirinya.
Minggu siang, 04 Oktober 2009, 11.56

2 thoughts on “Mendukung atau Menjerumuskan?

  1. bagus sekali Pak saya jadi tersindir..cuma Pak Mario Teguh bilang apabila kita mencapai sesuatu harus dimulai dari merasa bisa dulu..krena belajar itu dari tidak bisa..kalo gagal coba terus coba terus..namanya juga belajar..dari nol..hehe..kan ada proses Pak..Manusia tidak di set langsung menjadi manusia hebat..

  2. Terimakasih buat artikelnya, Mas. Saya sering merasa banyak orang yang ingin menjerumuskan saya, namun saya sekarang bisa melihat dari sisi yang berbeda. Jangan2 mereka benar2 melihat potensi di dalam saya untuk berkembang. Sehingga seringkali ditunjuk untuk melakukan sesuatu yang diluar pekerjaan saya. Semoga saja begitu. Salam kenal, mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s