Bergantung pada Dahan yang Lapuk

Rasa nyaman adalah musuh terbesar dalam menggapai hal yang lebih baik. Karena rasa nyaman kadang begitu meninabobokan, membuat kita malas untuk bergerak, enggan untuk berpindah, malas untuk mencari hal baru yang lebih baik.

Dan yang lebih mengkuatirkan adalah rasa nyaman sanggup menutup ruang akal kita untuk melihat segala sesuatu dengan lebih obyektif. Menutup keadaan sesungguhnya yang sedang kita alami. Menikmati tiap rasa semu yang kita anggap hal nyata. Keadaan yang nyatanya menempatkan kita bukan pada titik terbaik yang sepatutnya kita miliki, sebuah sarang yang tak lagi bertengger pada dahan yang berpucuk kepada hijau dedaunan serta lebatnya buah yang bergantung. Keadaan yang menutup mata kita pada kenyataan sesungguhnya bahwa dahan yang selama ini begitu nyaman kita jadikan pegangan, kita jadikan tautan, kita jadikan tempat bergantung ternyata tak lagi kokoh, dahan nyatanya telah terkoyak, telah meretas menuju patah, bahkan lapuk dan rapuh.

Terbang untuk berpindah, bergerak untuk mencari tempat yang lebih baik adalah pilihan yang akan senantiasa ada, karena pilihan bukan untuk ditunggu datangnya, karena pilihan adalah bagaimana cara kita menciptakannya, bagaimana cara kita untuk menyiapkannya…

# ah ngomong emang paling gampang deh! =)

/100211 – 00.14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s