Refleksi Kartini

kartini-refleksi

[satu hari menyikapi 210404 – 23.15]

Satu hari ini tiba-tiba banyak yang bisa dilihat, semenjak pagi hingga saat mulai mengetik tulisan ini sambil melihat “Lepas Malam”-nya Farhan di Trans tv. Jujur aja tidak terbersit, juga tidak menyadari bila hari ini adalah Hari Kartini. Kalau saja pagi tadi tidak melihat anak lelaki, siswa taman kanak-kanak dengan beskap Jawa lengkap naik becak ditemani ibunya, pasti saya nggak segera menyadari kalau hari ini adalah Hari Kartini.

Kemudian berturut-turut, bertemu dengan gadis kecil naik ojek dengan kostum baju daerah yang sama lengkapnya. Dan terakhir saat dekat rumah, bertemu dengan rombongan anak-anak TK yang berpawai sama lengkapnya dengan baju-baju daerah, aneka warna dan aneka rupa. Menarik dan lucu sekali!

Selama perjalanan, hampir tiap stasiun radio membahas dan menyikapi Hari Kartini, yah walau tetap diselingi dengan menyikapi terpilihnya Wiranto di Konvensi Golkar. Sampai di rumah menyetel televisi, semua pembawa acara dan pembaca berita wanita menggunakan kebaya ataupun pakaian daerah. Makin malam semakin menjadi, muncul acara-acara dengan tematik yang sama, masih dengan Hari Kartini lengkap dengan slogan emansipasi dan tentunya masih dengan kebaya-kebaya aneka rupa dan aneka warna.

Merujuk semangat Kartini yang “katanya” memperjuangkan emansipasi wanita, tentunya banyak yang dapat disikapi. Salah satunya adalah betapa hebatnya “mereka” yang me-dekonstruksi semangat Kartini menjadi “sekedar” berkebaya di 21 April! Me-dekonstruksi Hari Kartini menjadi lomba kebaya ataupun lomba baju daerah, menjadi lomba masak, peragaan busana. Sangat sulit mencari relevansi antara emansipasi dengan kebanggaan berbusana daerah, teramat sulit! Sekali lagi, betapa hebat “mereka” yang telah melakukan dekonstruksi muatan nilai yang terkandung dari semangat Kartini.

Entah apa yang terlintas di benak Kartini bila melihat perubahan makna dari buah pikiran dirinya yang semakin jauh dari makna awal. Tiba-tiba jadi teringat dengan kakak saya yang juara II lomba kebaya kartini saat TK dulu, juara pertamanya mengenakan kebaya persis sama dengan kebaya yang digunakan Kartini, beludru hitam dengan ornamen garis emas. Jangan-jangan menangnya karena mengenakan pakaian yang persis sama dengan foto paling terkenal yang melukiskan Kartini.

::

Apa sih yang diperjuangkan oleh Kartini? Jujurnya saya nggak terlalu banyak mendalami, selain sepenggal kalimat “emansipasi”. Saya lebih menyikapi, Kartini adalah satu sosok dengan pemikiran lintas zaman, pemikiran yang ia tuangkan dalam bentuk tulisan-tulisan. Tak ada gerak perjuangan yang signifikan dengan apa yang ia tuliskan selain ia membuka sebuah tempat belajar yang sangat sederhana, membagi ilmunya kepada para wanita. Yah mungkin memang terlalu jauh bila skala yang digunakan adalah skala saat ini.

Lalu bicara tentang emansipasi, waduh sepenggal kata itu sepertinya semakin hari semakin berganda makna. Kesetaraan, persamaan hak, kesamaan kesempatan. Kesamaan yang seperti apa? Kesetaraan semacam apa? Apa masuk ke dalam semua bidang dan peran? Ah sepenuhnya, saya jauh lebih mengagumi para wanita menyikapi emansipasi dengan berperan pada wilayah-wilayah yang para kaum pria tak pernah mampu memasukinya! Tak pernah mampu menggantikannya! Emansipasi untuk saya adalah saat dimana wanita dapat memaksimalkan peran sentral yang ia miliki dengan pendekatan naluri kewanitaan yang ia miliki. Bukan sekedar membabibuta semua aspek dan bidang akan pantas dikerjakan oleh para wanita. Karena sejujurnya, tetap banyak aspek yang bukan akan menaikkan martabat wanita tapi malah menjadi aspek yang merendahkan.

Dan tulisan ini sepertinya akan menarik ditutup dengan ulasan acara Diva Dangdut-nya Anisa Bahar, Ira Swara dan Nita Thalia. OK, ini acara di Hari Kartini, karena itu mereka mengenakan kebaya, kebaya ketat plus jarik yang super pendek, lengkap dengan joged sensual… patah-ngebor-kayang-vibrator-rambo… Yap, memang bebas melakukan aktivitas tersebut, memang silakan mengapresiasikannya, wong namanya juga udah zaman emansipasi wanita, boleh aja dong mereka beraktivitas atas nama apapun juga… seni, kreativitas, atau malah jangan-jangan dengan alasan “emansipasi” itu sendiri… =)

Gendeng!

[23.55]

One thought on “Refleksi Kartini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s