Nyeri yang Menyesak

Nyeri ini masih sama, seperti halnya sesak yang turut melanda. Tak ada yang berubah, yang berbeda mungkin hanya bagaimana saat ini cara menyikapinya. Bukan sebuah tuntutan semestinya, namun karena keadaan yang harus mengharuskan berjalan seperti ini adanya. Sesak dan nyeri, begitu menguasai, saat di mana jalan keluar begitu jelas adanya namun keinginan untuk melangkah ke arahnya begitu gelap terasa. Bukan ketakutan, bukan juga satu rasa ketidakinginan. Kadang tiap pilihan yang harus terambil tak lagi dapat berpijak kepada ingin dan angan saja. Sekian kepentingan, sekian keadaan menjadi penghalang yang membuat tujuan tak lagi memiliki pilihan.

Seorang teman pernah menulis, tak ada luka yang sanggup benar-benar terobati, segala luka terpulihkan karena terselimuti satu luka baru, terselaput oleh lupa, terseret arus waktu. Nyeri yang ada sebelumnya tak lagi keras terasa karena kita telah terbiasa, atau ada nyeri baru yang jauh lebih keras yang harus kita rasakan. Sesak tak lagi begitu terasa karena sesak yang ada saat ini jauh lebih hebat dari sebelumnya.

Lalu untuk apa mengeluh atas nyeri dan sesak ini.

/14.01

One thought on “Nyeri yang Menyesak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s