Bertemu Wedha

Senin lalu, dalam rangka project Tjap Djago untuk DKV BINUS, berkunjunglah ke rumah Mas Wedha, lengkap dengan peralatan shooting. Tepat pukul 11.00 tiba di kediaman beliau, setelah setting ini-itu serta tunggu ini tunggu itu, alat shooting telah siap merekam pukul 11.30. Namun tidak langsung mengambil gambar, mengawali dahulu dengan ngobrol utara-selatan untuk pemanasan.

Mas Wedha bagi saya adalah tokoh yang turut “bertanggung jawab” menginspirasi jalan hidup saya untuk menjadi seorang desainer grafis. Masih tersimpan dengan baik di kamar biru saya, majalah HAI terbitan pada saat saya masih di bangku SMP — pada saat saya berlangganan majalah tersebut — hingga kuliah. Namun perkenalan dengan ilustrasi beliau dimulai jauh dari saat itu, saat meminjam bundel majalah HAI dari tetangga saya, dan menjumpai ilustrasi Lupus dan serial Ninol yang aikonik dan legendaris itu.

Era awal 90’an bagi saya adalah puncak keliaran kemampuan ilustrasi Mas Wedha, tuntutan ilustrasi minimal 5 obyek di majalah HAI tentu bukan target yang mudah untuk dipenuhi. Terlebih tantangan tersebut dijawab dengan memberikan gaya gambar yang saling berbeda. Tentu butuh kemampuan di atas rata-rata untuk mewujudkannya. Pada momen itu pulalah gaya gambar foto marak berkotak “ditemukan”. Sebuah gaya gambar yang melekat erat dengan nama Mas Wedha. Puncaknya pada Oktober 2008 — pada saat beliau melangsungkan pameran lukisan tunggal di Bentara Budaya Jakarta — gaya tersebut dibakukan dengan nama Wedha’s Pop Art Portrait. Dan tak banyak gaya ilustrasi yang memiliki pengikut, terlebih di Indonesia. Hebatnya, Wedha’s Pop Art Portrait (WPAP) ini justru memiliki umat, silakan mengunjungi Facebook Mas Wedha untuk melihat para umat WPAP saling berinteraksi mengasah kemampuan mereka dengan dibimbing langsung oleh Mas Wedha.

Bagi saya — setelah sekian dialog yang telah saya lewatkan dengan beliau — sosok Wedha adalah gambaran nyata atas arti kata semangat eksplorasi. Semangat tersebut tergambar nyata dalam karya-karya yang beliau ciptakan, tak pernah berhenti di satu titik, karena segera mencari bentuk pencapaian baru berikutnya. Tidak banyak ilustrator yang mendapat ucapan terima kasih berupa menyembah di hadapannya, dan Mas Wedha pernah mendapatkannya dari seorang James Ingram (!!!) pada saat menerima cenderamata berupa ilustrasi WPAP di kantor majalah HAI. Sebuah kebanggaan pernah mengenal, saling berbicara dan terinspirasi oleh beliau.

* * *

Foto by Obeems. Watermark’s illustration & The Beatles WPAP by Wedha.

4 thoughts on “Bertemu Wedha

  1. Kita memang harus menjadi bangsa yang tulus dan sungguh menghargai orang lain. Tetapi mulai dulu dari diri sendiri. Mungkin dengan memberi hadiah atas prestasi yang kita sudah hasilkan selama semester ini. Kalau ada, lho….. Kalau tidak ada, kita ucapkan syukur karena kita boleh berbagi cerita di situs ini. Yang penting, kita mempunyai niatan untuk memberi penghargaan pada yang lain dalam tahun (macan)ini. Pasti ada orang-orang yang kita kagumi. Mungkin memang ada orang semacam dewa yang patut disembah……hehehehe.. dihormati lha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s