Masih Bolehkah Bicara “Seharusnya” juga “Semestinya”?

Penat dengan lalulintas Jakarta? Ah itu pasti masalah hampir seluruh warga ibukota. Andai visi para pemimpin berfikir 10 tahun ke depan atau malah mungkin 25 tahun ke depan, pastinya kemacetan tak akan liar serta separah ini. Saat motor merajelala sedemikian absurdnya, rakyat baru diminta untuk pindah ke moda transportasi umum yang kualitasnya tak kunjung membaik juga. Andai fasilitas umum telah berjalan demikian nyamannya, pasti warga tak sempat berhitung matematis kenapa harus memiliki motor, yang memang jelas jauh lebih murah dan efisisen. Dan tentunya, tak perlu sempat menjadikan mobil menjadi satu barometer keberhasilan para pekerja baru.

Menggarisbawahi “petuah” Nano Riantiarno di kuliah perdana kemarin, “ah berkesenian nggak perlulah menunggu pemerintah, jalan terus saja!” Belum lagi ditambahkan dengan, “kok sekarang itu polanya selalu lari dari masalah, ibukota macet dan sumpek solusinya kok memindahkan ibukota.” Apa memang semangat itu yang harus selalu hadir di tiap ranah aktivitas anak negeri. Kalo Iwan Fals lewat lirik kerasnya pernah menulis, “Wakil rakyatnya malah dagelan. Sedangkan para pakar oleng dibentur kenyataan”. Negara ini seperti berjalan sendiri, yang berjuang untuk hidup ya terus berjuang, yang berjuang atas nama negeri kadang berlari dengan kantong sendiri, yang membela golongan dan kepentingan tak kalah berjuangnya dengan sepenuh jiwa, lengkap dengan sekian pembenaran dan utak-atik aturan guna menguatkan.

Legislatif, yudikatif dan eksekutif dianggap sebagai puncak pencapaian profesi, sebagai titik pencapaian karir yang gemilang. Bukan sebagai puncak dari segala pengabdian serta layanan bagi bangsa dan negara. Layanan umum semisal pesawat komersial pun kalo perlu diatur  menyesuaikan dengan jadwal pribadi, wong namanya juga priyayi, boleh dong jungkir balik, koprol, sesuka hati! Dan sialnya kita itu membayar pajak (yang jumlahnya tak sedikit juga), lalu kemana larinya kutipan pajak itu bila pada akhirnya kita masih juga mengurus ini itunya begitu sendirian dan tak langsung menikmati hasilnya.

Ayo bergerak, ayo bekerja, terlalu naif untuk kembali mengucap kata “seharusnya” begitupun dengan “semestinya” — karena perubahan nyatanya tetap ada di tangan lelah ini, berada di jemari kaku ini, terletak di kaki rapuh ini…

3 thoughts on “Masih Bolehkah Bicara “Seharusnya” juga “Semestinya”?

  1. maaf Nu, kita sama-sama kembali ngilang, bergulat dengan hari-hari masing-masing.
    aku seneng sekali kamu kuliah lagi.
    kampus lebih seru dinikmatin dari sisi siswa, karena belajar lebih menantang daripada mengajar.

  2. “belajar” dan “mengajar”, seru dan tantangannya beda, Ferr! :) tapi dari sisi siswa memang akan selalu lebih mengasyikkan.

    OK… GoodLuck juga untuk pencarian program doktoralnya… selamat menyiasati hidup, selalu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s