Cermin Diri

Satu kuliah dari Dr Seno Gumira Ajidarma membawakan bedah mengenai media dan kekuasaan, berangkat dari arah kuliah tersebut mau tidak mau mesti menyeret ‘kebudayaan’ di dalamnya. Pemahaman menarik mengenai ‘kebudayaan’ beliau bawakan, ‘kebudayaan’ tak lagi diartikan secara sempit dalam visual gerak, olah suara ataupun jenis kegiatan yang biasanya merujuk kepada sesuatu yang berbau tradisional.

Menurutnya, kebudayaan adalah satu situs perjuangan ideologi tempat kelompok-kelompok terbawahkan melawan resistansi terhadap beban makna dalam wacana kelompok dominan.

Jadi pada dasarnya budaya adalah sebuah pertarungan antar ideologi, siapa yang menjadi pemenang akan menjadi hegemoni. Tak lagi bicara baik, benar, betul ataupun bagus, hegemoni tersebut mendapatkan pengakuan pernyataan dari kelompok masyarakat.

‘Menarik’ bila teringat ungkapan seorang dosen yang menyatakan mengapa seorang praktisi itu lebih kemilau ketimbang akademisi di mata mahasiswa. Praktisi lebih didengar, lebih memberikan nilai lebih bila dicantumkan pada sebuah acara ketimbang mencantumkan akademisi.

Ah bagi saya permasalahannya lebih kepada akademisinya, yang tak sanggup berjuang lewat ideologinya, hingga ‘budaya’ yang mendapatkan pengakuan adalah ‘budaya’ dari praktisi. Karena jangan-jangan…

01.
Bila ada yang mencantumkan kutipan kok malah dianggap arogan,
padahal kutipan adalah nyawa dari para akademisi dalam membuat tulisan.

02.
Saat mengomentari karya mahasiswa, isinya penuh dengan kata “eh lucuuu”,
padahal semestinya yang harus dinilai itu berlandaskan ilmu.

03.
Susah untuk akrab dengan teknologi,
paling mentok cuma jadi pemakai blackberry,
itupun hanya untuk chatting hahahihi,
isinya BBM-an sepanjang hari.

04.
Yang baca buku dianggap sok kutu buku,
padahal ilmu nggak berhenti di es-satu.

05.
Bicara tak lancar kok menyebut diri sebagai pengajar,
lalu apa yang mau diberikan kepada mahasiswa yang ingin belajar,
selain ilmu turunan yang tawar dan hambar,
bagaimana mahasiswa mau mendengar,
jangan-jangan pengajarnya yang harus ditatar.

06.
Tak paham Teknologi Informasi baru,
namun cari alasan nggak sesuai dengan disiplin ilmu
tapi giliran facebook-an bisa nggak kenal waktu
kirain sibuk kerja, nggak taunya komen di wall melulu..

* * *

icons mirror by Andrea Austoni

10 thoughts on “Cermin Diri

  1. sangat telak memukulnya:
    “Tak paham Teknologi Informasi baru,
    namun cari alasan nggak sesuai dengan disiplin ilmu
    tapi giliran facebook-an bisa nggak kenal waktu
    kirain sibuk kerja nggak taunya komen di wall melulu..”

    ::makasih hiburan pagi ini::

  2. bener banget Dan, masing2 perguruan tinggi itu terlalu arogan..
    Liat aja tiap ada seminar akbar yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang diundang cuma praktisi buat ngasih pencerahan. Cobalah terbuka, undang perguruan tinggi dkv lain banyak pengajar yang pintar.

    dampaknya, ya gitu: terkesan praktisi itu no 1 yang selalu jadi superstar, institiusi pendidikan dkv menghamba kepada praktisi.

    Salah satu caranya untuk mengatasi kurung batok instusi pendidikan DKV adalah membuat simposium nasional pendidikan DKV.

  3. Benar2 menikmati rimanya :). Dulu itu waktu kuliah terus terang jauh lebih “menikmati” kuliah dari dosen2 yang sempat keluar dari bidang akademis, karena mereka jauhhh lebih bisa merelevankan sebuah ilmu dan aplikasinya di luar ruangan kuliah. Pernah dulu ngambil kelas di semester akhir (yang nama kelasnya aja skrg dah lupa), satu semester penuh ngisi buku penuh dgn huruf2 latin dari mulai alpha ampe zeta diuraikan secara matematis. Satu semester itu, aku gak belajar apa2 dari kelas itu. Not even one point of knowledge. Di bagian lain kemungkinan besar memang otak udah gak nyampe…di bagian lain, guru itu pun sepertinya tidak peduli apakah ada ilmu yg ke-transfer ke murid. Truth will speak for itself. Budaya pengakuan akan berubah bila akademisi mulai menggaungkan kebenaran tersebut lebih nyata daripada praktisi.

  4. Lepas dari apapun, nyatanya mengajar itu sesungguhnya mengajarkan “keinginan untuk belajar”, mengajarkan “bila terjatuh ya bangun lagi”, memperlihatkan “bila terpentok ya silakan mengusap sakit hasil terpentok itu tadi lalu kembali menjalani aktivitas dengan berhati-hati agar tidak terpentok lagi”. Bila hanya mengajarkan ilmu praktis, ah saya yakin mereka (mahasiswa) akan mencapai titik tertingginya dengan sendirinya, terlebih bila kita telah berhasil menanamkan terus dahaga akan ilmu di tiap diri para mahasiswa. Sulit? Pasti :)

    Bicara tentang ilmu linear. Bener banget, Ci. Saat kita mempelajari disiplin ilmu lain, maka kita akan melihat lebih jernih keilmuan kita, dari sudut lain. Bukankah saat kita berjarak kita akan melihat jauh lebih jelas. Makanya masih sulit mengerti mengapa pemerintah memberlakukan strata kesarjanaan yang diakui itu adalah kesarjanaan yang linear, yang segaris ilmu. Bagiku, betapa menakutkannya melihat sebuah permasalahan dan mencari jawabnya hanya mengandal dari satu perspektif. Seperti halnya, betapa menakutkannya mereka yang begitu ‘garis keras’ dalam mengusung ilmunya, karena di luar ilmunya masih terbentang luas ilmu lain yang tak kalah menakjubkannya. Dan makin menakjubkan saat tersinergikan.

  5. “Makanya masih sulit mengerti mengapa pemerintah memberlakukan strata kesarjanaan yang diakui itu adalah kesarjanaan yang linear, yang segaris ilmu.” <— Ini apa ya Dan, maksudnya? Maksudnya orang gak boleh ganti major/jurusan? Maklum aku buta peraturan kesarjanaan…

    Mengenai betapa menyeramkannya melihat satu permasalahan dari satu perspektif, sayangnya hampir seluruh dunia semakin menjurus ke arah ini. Permasalahan terbesar tentu saja di bagian kedokteran, dimana setiap dokter punya spesialisasi di bidang yang amat sangat sempit sehingga dia gak sanggup lagi melihat masalah itu dari pandangan yang menyeluruh.

    Satu pandangan menarik dari persiapan utk home-schooling anak2 tahun ajaran depan adalah bertemunya konsep belajar-mengajar secara klasik (trivium) yang insya Allah mau aku adopsi. Konsep mengajar ini adalah bahwa setiap subyek pelajaran adalah berhubungan satu dengan yg lain. Jadi misalnya pelajaran sejarah dengan belajar menulis/bercerita amat sangat berhubungan, dan bisa disambungkan juga dengan pengajaran ttg science dan matematik. Semoga aja aku bisa dan nyambung ama anak2…ini tokh masih project percobaan :) Eniwei, selamat terus mencari perspektif2 berbeda itu!

    ci

  6. Tentang “linear” — menjadi seorang dosen itu ada jenjang jabatan akademisnya, nah untuk mencapai tingkat tertinggi (guru besar) itu harus melalui sekian jenjang dan kelengkapan. Salah satu kelengkapannya adalah memiliki strarta ilmu (S1, S2, S3) yang linear, sejalan dalam rumpun ilmu. Bila tidak linear maka pencapaian tingkat guru besar tersebut akan menjadi sulit.

    Belajar pun kini butuh cara baru, saat pengetahuan begitu mudah untuk diakses — pengetahuan bukan pemahaman ya — sintesa menjadi kebutuhan utama. Menghapal dan membaca sekian banyak buku tidak lagi menjadikan seseorang menjadi pintar. Si pembaca buku dan penghapal kalah oleh mereka yang hebat dalam mencari keyword untuk search engine. Google mengubah cara belajar dan mendapatkan data. Data begitu melimpah, kemampuan sintesa akan menjadi utama.

    Namun, Indonesia menjadi “babak belur” di perkembangan ini. Karena tak pernah memasuki ranah budaya membaca apalagi menulis, tiba-tiba disodorkan oleh teknologi maha canggih bernama mesin pencari. Tak pernah memasuki periode pemahaman tiba-tiba begitu mudah mengungkapkan pendapat. Pendapat isinya menjadi saling baku hantam subyektifitas. Benar menurutmu mengenai perspektif… kita butuh pola pendidikan baru!

  7. hehe…obrolannya meski klasik, tapi tetep menarik :)
    saya stuju dengan prinsipnya, semua kembali ke orangnya,
    saya percaya teori S-T-P yang konservatif tetap masih aplikatif,
    saya yakin P kelima dari marketing mix yang akan membuat planning kita jadi fix,
    it’s not about the gun, but it’s about the person behind the gun,
    pada akhirnya angka gak akan bohong, tapi banyak penulisnya yang pembohong :)) LoL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s