B4H45A Endonesiyah

Dalam rangka mempersiapkan ujian saringan masuk satu institusi pendidikan, akhirnya saya kembali belajar bahasa Indonesia. Membeli beberapa buku panduan, dan mencoba mengisi satu persatu. Hasilnya… wuah lebih banyak yang salah ketimbang yang benar. Bahasa Indonesia itu luar biasa, seluk beluk aturan dan penjelasannya sangat luas, beragam dan kaya. Butuh keseriusan penuh untuk mampu mencerna dan mempraktekannya.

Lalu akhirnya mulailah bongkar-bongkar buku bahasa Indonesia, mencoba kembali menjawab satu persatu soal yang ada. Bila bertemu bagian yang tidak dimengerti, selain mencari di buku, segera googling dan semua penjelasan itu selalu ditemukan, diberikan “gratis” lewat blog-blog mereka yang tidak/belum kita kenal. Terima kasih untuk itu.

Bahasa Indonesia saya yakin telah mengalami degradasi penggunaan yang signifikan. Barometer sederhana untuk mengukurnya adalah penggunaan EYD pada penulisan ilmiah di ranah akademis. Tulisan pengantar tugas akhir (skripsi) sangat menurun kualitasnya. Jangankan menuliskan gagasan dengan pola subyek predikat obyek yang tepat, untuk membedakan penggunaan “di” yang disambung ataupun terpisah saja masih teramat susah payah. Belum lagi pengaruh dari bahasa sms yang kadang tanpa rasa bersalah turut hadir di penulisan akademis tersebut.

Tekanan terhadap bahasa Indonesia memang luar biasa, bahasa Inggris kerap dianggap lebih seksi untuk dituliskan, industri hiburan (salah satunya dengan sinetron) turut tak berpihak dalam penggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, teknologi komunikasi berbasis teks menumbuhkan tantangan baru untuk membuat kata serta kalimat semakin sederhana, semakin pendek dan semakin unik walau hal itu langsung berdampak terhadap kualitas bahasa Indonesia itu sendiri.

Dahulu Sutan Takdir Alisyahbana pernah begitu bersemangat meminta agar seluruh buku asing diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Agar, bukan hanya kebanggaan atas bahasa bangsa dapat terjaga namun juga ilmu yang ada di luar sana dapat cepat terserap maksimal oleh anak bangsa. Sebuah pendekatan sederhana yang dilakukan oleh bangsa Jepang dan Taiwan, yang kini begitu pesat kemajuannya. Dan kini di Indonesia, bahasa bangsa semakin tak mengurat akar sedang penguasaan bahasa asing pun tak dalam terkuasai.

Punahnya suatu bangsa diawali oleh punahnya bahasa bangsa tersebut! Karena akan semakin banyak tulisan tak dimengerti, semakin banyak kisah yang tak bisa tersampaikan, semakin banyak sejarah yang tak dapat ditularkan. Semua memudar tak dimengerti kata demi katanya.

Yuuukk berb4h45a endonesiya yg baek n bener!

– – – – –

UPDATED

Lah presidennya aja kalo pidato kaya gini :

http://www.detiknews.com/read/2011/01/03/154324/1538244/10/pidato-presiden-yang-penuh-taburan-istilah-bahasa-inggris?9911032

– – –

14 thoughts on “B4H45A Endonesiyah

  1. Sebelum terlanjur jauh menjadi bangsa yang keliru, mari kita ikuti bersama anjuran berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tekanan memang datang dari mana-mana, namun sikap sudah harus dipilih. Sebelum membaca tulisan ini, aku bermaksud menjawab dalam bahasa Inggris yang tidak cukup aku kuasai. Ada tempatnya sendiri untuk menuliskannya. Prinsipnya : Di mana ada kemauan dan pengetahuan, di situ ada jalan. Para guru bahasa Indonesia hendaknya tetap tabah dan sukacita mengajarkan bahasa ibu ini. Memang tetap diperlukan kemampuan berbahasa Inggris, agar banyak yang bersedia menjadi penterjemah. Kita membutuhkan ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

  2. mas tri,
    sama mas… sama-sama mencari kabar beliau =)
    mengenai copy aama, wah mending minta langsung ke beliau deh… menyangkut hak cipta dan hak intelektual =)

    atau ke tokobagus.com masih menjual satu novel aama, tentang-tentang, search aja mas di toko online tsb.

    salam kenal,
    /dw

  3. eeaaa neh pak, aqooo tuch dr jam 8 smp jam 5 idhupnyaa dee duniya maeeaaa… hufff…!!! gag produktip lagee… jdnya cuma ngutukin diri doang! T__T

  4. Hai, Nu.. Salam kenal ya..

    Setuju! Secara aku copy-base, sedih dan gateeeel banget liatnya. Contohnya, ada tuh billboard salah satu provider telco.. udah sih gede segede gaban tapi kok tulisan kata “di” yang harusnya dipisah malah dibikin nyambung.. Halo….??? Dan tau gak, kalo misalnya pas aku ngerivisi “printilan” begitu (untuk kasus yang berbeda) yang ada aku dibilang “Ah udahlah.. lo gak usah sok perfeksionis! Klien juga gak protes kan? Orang-orang juga gak akan notice kok…” (Hadoh! ECD lho yang ngomong gitu.. Hmm..) Lucunya lagi, orang-orang tertentu malah mengira “di” keterangan tempat yang disambung itu malah yang bener.. OMG!

    Buatku sih ada saatnya lah kapan kita bisa pake bahasa — apa tadi istilahmu? alay? hahaha.. — tapi juga ada saat dan tempatnya kita memang HARUS dan SEBAIKNYA pake yang bener..

    Oya, satu hal lagi yang bikin aku gatel: liat orang-orang nyebut Indonesia tuh Endonesia.. (aku inget jaman-jaman pelajaran kesenian dulu betapa guru kesenianku marah-marah kalo kita nyanyinya “Endonesiaaaaa tanah airkuuuu…” Hehe…

    Hyyyiukkk…. Dah Nu.. (heheheh.. bacanya mesti kayak “dah ne” yah.. Huaahuahuhaua)

  5. Ternyata kamu ikut merusak bahasa kita dengan penulisan kata dan kalimat seperti itu. Terus terang baru pertama kali ada yang bilang tetap boleh menulis dengan gaya seperti itu pada tempatnya….. Hehehe.. aq sendri bkin spt ini klau sms. Ap nga rsk kran kta jdnya klau nrutin kam…..hehehe….nga nymbng.Met sore aq mau bka puasa barng kmps sor ini…hehehehe. Inilah buah kemerdekaan yang 65 tahun. Apakah demikian, bung?

  6. > ai : “Oya, satu hal lagi yang bikin aku gatel: liat orang-orang nyebut Indonesia tuh Endonesia.. ”

    Tapi mas, untuk pengucapan memang ada dua versi. Ada yang menganut pengucapan “Indonesia” itu dengan “indonesia” ataupun “endonesia” — ini juga baru tau pas duluuuu ikut lomba paduan suara, kita sampai melakukan konfirmasi dahulu, mana yang dianut oleh penyelenggara =)

    Mungkin teman-teman ada yang bisa menjelaskan?

    salam kenal juga,
    /dw

  7. Yth. Mas Franstantridharma,

    Cuma mau klarifikasi aja. Aku ndak bilang “tetap boleh menulis dengan gaya seperti itu pada tempatnya”. Please, kalo ada waktu, coba deh liat postingan aku lagi. Kalimatku: Buatku sih ada saatnya lah kapan kita bisa pake bahasa — apa tadi istilahmu? alay? hahaha.. — tapi juga ada saat dan tempatnya kita memang HARUS dan SEBAIKNYA pake yang bener.. Aku bilang BISA pake gaya alay. Artinya kita sebenarnya punya pilihan untuk tetap berbahasa Indonesia yang baik dan benar pada saat yang sama, bukan? Tergantung kitanya. Gak usah jauh-jauh… contohnya, Anda juga bilang kan… “Hehehe.. aq sendri bkin spt ini klau sms.” Aku bukan pakar bahasa, tapi buatku sah-sah aja kalo di sms kita mau nulis model dengan gaya dan cara begitu, karena konteksnya pembicaraan antarpribadi. Mungkin buat orang-orang tertentu gaya seperti itu lebih mewakili siapa dirinya. Sebaliknya, ada saat dan tempatnya kita HARUS pake yang baik dan benar.. Contohnya lagi? Anda sendiri juga sudah bilang.. “Ap nga rsk kran kta jdnya klau nrutin kam…..hehehe….” :)

    Kalo menurut Anda aku sudah “ikut merusak bahasa kita” dengan penulisan kata dan kalimat seperti itu, ok, gpp.. Kritik dan masukan selalu welcome kok.. Aku menghargai pendapat Anda. Tapi buatku, nulis komen ini kok rasanya sama seperti ngobrol langsung ya…?? Sekali lagi, itu kan pendapatku. Lain kepala tentu lain pemikiran…

    Gitu deh Mas… salam kenal…)

    Buat Danu: serius ada dua “aliran” itu..?? Asliiii, baru denger. Hehehe.. Berarti, jaman paduan suara dulu itu aku selalu ketemu dengan yang alirannya Indonesia dengan lafal “i”.. Hahahha…

    Oh ya, aku tuh perempuan, lho… :)

  8. Nyantai aja, Nu.. Itu indahnya “salam kenal”, kan? :)
    Satu lagi, tanpa mengurangi rasa hormat, sebelumnya juga maaf kalo aku gak pake embel-embel Mas/Bapak/Bung whatsoever..

  9. Memang menarik bicara tentang bahasa… untuk ngebagi aja, waktu aku kuliah, itu ada perdebatan di Amrik, mestinya Eubonix itu dijadikan salah satu pilihan bahasa acuan gak di sekolah2 negeri Amerika? Eubonix itu dialek bahasa Inggris yang biasa dipakai sama orang2 Afrika-Amerika, dan notabene identik dengan orang2 yang tingkat edukasinya kurang.

    Jadi memang amat sangat, bahasa itu acuan identitas seseorang, dan suatu bangsa. Dan untuk menjaga keberadaan identitas itu, tidak mudah. (Lagi latihan EYD nih) Misalnya lagi, di tempat tinggalku (pemakaian di- yang benar kan?), mayoritas anak-anak generasi kedua di negara ini hanya bisa berbahasa Indonesia dengan pasif. Aku yang agak2 ambisius agar anak-anak bisa berbahasa Indonesia secara aktif, pasif, dan membaca saja, merasa betapa sulitnya cita-cita itu. Walaupun di rumah sudah peraturan anak2 harus berkomunitas dengan orang tuanya dalam bahasa Indonesia, aku hanya bisa melihat dengan sedih kenyataan kalau anak sulungku mulai banyak kehilangan perbendaharaan kosa katanya. Untuk memperjelas maksud saja, akhirnya setelah berbicara dengan bahasa Indonesia, harus diulang lagi maksudnya dalam bahasa Inggris. Sekali lagi, identitas pun akhirnya mengabur.

    ..Diskusi yang amat menarik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s