Nyaman adalah Musuh Utama

Di saat bisnis Colgate-Palmolive (CP) berjalan bagus sejak 1990-an, sang bos besar Reuben Mark justru mulai khawatir. Khawatir jika suasana baik ini justru menjebak, bisa saja segala sesuatu berjalan buruk. Itu sebabnya Reuben Mark memutuskan untuk melakukan instalasi sebuah sistem peringatan dini. Menjaga setiap mata tetap konstan melihat masalah. Sejak itu hampir setengah lusin map merah mendarat di meja sang CEO berisi situation reports.
(Colgate-Palmolive : Bad News Folders.)

Saya lupa mengutip di mana tulisan di atas, sepotong tulisan yang mengingatkan bahwa keadaan “tenang”, “baik-baik saja”, “semua lancar-lancar saja” tidaklah menjadi jaminan bahwa keadaan sebaik yang terlihat. Jangan-jangan hanya sekedar screensaver dari monitor yang CPU-nya bersiap hang karena komponen-komponen di dalamnya tak bekerja dengan maksimal.

Nyaman selalu melenakan, karena memberikan rasa tenang yang menyenangkan. Tenang bukan pertanda untuk beristirahat, justru penanda mesti bersiap. Bila kemenangan berhasil kita raih, yang harus ditanyakan pertama adalah apa yang menyebabkan kemenangan tersebut dapat diperoleh, karena kemenangan tak pernah diraih begitu saja, selalu ada proses yang menyertai sebelumnya. Yang mesti dilakukan justru memperbaiki proses yang telah dilewati hingga meraih kemenangan itu, memperbaiki dengan proses yang lebih baik! Bukan terus mempertahankan proses yang ada serta berpasrah (terlebih tak peduli) dengan proses yang dijalankan, karena tantangan ke depan tak kan pernah sama, tantangan ke depan tak pernah jauh lebih mudah dari sebelumnya.

Kembangkan selalu inovasi baru dalam bekerja, karena keberhasilan bagi saya selalu terikat dengan konteks. Konteks keberhasilan kali ini, tak menjamin berhasil dalam konteks yang lain. Jangan berpasrah kepada ritme berulang yang terus-menerus dikerjakan, karena itu jebakan nyata yang sesungguhnya melelahkan diri kita dengan rutinitasnya, hingga kita tak sempat –bahkan tak mau bertanya– hakekat apa yang sesungguhnya kita jalankan di dalam rutinitas itu.

Dan bila kita tetap terus senantiasa berenang-renang dalam kolam biru yang jernih di bawah terik teduh matahari yang menyamankan, sambil sesekali memejamkan mata serta mengunyah kudapan yang penuh cita rasa, sambil terus menutup telinga dengan earphone yang menyuarakan lagu-lagu pilihan, maka sesungguhnya kita sedang mengundang kegagalan masa depan untuk hadir lebih awal.

Karena itu, tanyakan segera… mengapa saat ini terasa begitu nyaman, mengapa kini semua berjalan baik-baik saja, mengapa kemenangan ini dapat kita peroleh silih berganti…

(10.28)

Images by IconsLand, IconBlock, Babasse.

5 thoughts on “Nyaman adalah Musuh Utama

  1. Wah saya baru mampir lagi ke blog Bapak dan menemukan sebuah tulisan yang begitu inspiratif! Terima kasih banyak Pak! Oh ya, saya sudah berganti alamat blog, ini masih Cassle yang sama dengan yang dulu sering berkomentar. :)

  2. Benar sekali! Apalagi kalau bergerak di bidang per-senian. Makanya mungkinya garis jenius dan gila itu tipis banget? Jadi ingat paranoidnya Salvador Dali, atau hmm…siapa nama pelukis yang sampai memotong telinganya sendiri itu?
    Tau lagunya Warriors Code gak Dan? Anyway…mungkin jadi gak nyambung ama tulisan ini ya? Tapi bener2 keinspirasi ama liriknya tu lagu, dan lagi nyemangatin anak pertamaku, “Because a warrior never quits! And a quitter never wins!” :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s