Sepenggal 18.40

18. 40

Remaja itu bergerak turun dari Kopaja yang sejak tigapuluhan menit lalu dinaikinya. Lalu kakinya melangkah dalam langkah-langkah yang nggak terlalu cepat, walau itu bukan kebiasaannya, demi menenangkan degup jantungnya yang mulai berdetak nggak karuan.

Terus membawa langkahnya melewati jalan-jalan komplek yang nggak terlalu lebar, lalu keluar dan masuk ke jalan kecil memasuki daerah perumahan yang temaram.

Di sekanya peluh di dahinya yang makin tak kompromi untuk terus keluar, degup jantungnya masih saja berdetak tak beraturan, sekali lagi dilihatnya sepotong kertas yang sejak tadi digenggamnya, sepotong kertas yang berisi alamat dan peta yang sebenarnya sudah ia hapal di luar kepala semenjak kali pertama ia datang ke rumah yang sedang dituju itu. Ini kedua kalinya ia menuju rumah itu. Pada saat yang pertama, gadis yang ia ingin temui itu tidak keluar rumah untuk menjumpainya.

Langkahnya berhenti di depan sebuah rumah, dengan pintu utama yang langsung berhadapan dengan jalan kecil tadi. Sekali lagi dibacanya potongan kertas kecil digenggamannya, dan dengan diawali menarik nafas panjang kakinya melangkah mendekat ke pintu rumah itu. Perlahan diketuknya pintu rumah itu… nggak ada jawaban. “Assallammu’allaikum”, lalu diketuknya sekali lagi….

Terdengar langkah yang mendekat dan selonsong kunci yang dibuka. Sesosok tubuh terlihat.

“Malem, Mbak,” lalu sebuah senyum terbentuk di bibir Seta.”Ada Resta, Mbak?”

“Oh… Mbak Resta… ada, masuk dulu, Mas!” Lalu wanita itu beranjak masuk, ninggalin Seta yang lebih memilih untuk tetap berdiri di depan pintu. Sedikit dirapikannya kemeja abu-abu lengan panjang yang dia gulung sesiku dan jeans biru mudanya, degup jantungnya makin gila-gilaan.

Sesaat terlewatkan dalam gelisah.

Lalu dari dalam keluar seorang gadis dengan langkah yang perlahan. Ada kaget sesaat yang terlihat, cuma sesaat– lalu sebuah senyum segera  terbentuk di bibir indahnya. “Hei… Masuk, Set!”

Abis ngelepas sendal jepit birunya Seta melangkah masuk.

“Duduk, Set!”

Dua remaja  itu duduk bersebrangan.

Diam sesaat. Hanya sesekali terlihat tatap mata dan sedikit senyum yang begitu penuh arti.

“Udah sembuhan, Res?”

“Lumayan deh, tinggal pusingnya aja.” Lalu gadis itu menunduk, maenin kaos hijaunya yang ngepas banget di badannya. “ Ada apa aja di kelas, Set?”

“Ulangan, PR, jam kosong, belajar, nyatet… kelas rada sepian nggak ada kamu!”

“Enak aja, aku kan nggak ribut kalo di kelas.”

Seta sempat tersenyum.

“Capek di rumah aja, Set. Tidur mulu nggak boleh keluar kamar… baru hari ini aku keluar kamar, makan bubur terus… mana obatnya banyak banget lagi.”

“Udah ngeluhnya?”

“Udah,” pipi Resta bersemu merah. “Maaf, yaaa. Abis beneran bosen sih  di rumah mulu. Kalo nggak istirahat ya bolehnya cuma tidur.”

“Eh apa bedanya?”

“Hehehe… ya nggak ada.”

Diam sesaat.

“Anak-anak udah banyak yang nengok, Res?”

“Lumayan, tadi juga ada yang kesini, tapi biasanya pada bareng-bareng… cuman kamu yang dateng sendirian.”

Kembali lagi terlewatkan dalam diam. Lalu gadis itu berdiri. “Sampe lupa, kamu pasti haus?”

“Banget-banget. Jalan ke rumah kamu dari depan kan lumayan jauh.”

Sorry-sorry! Lupa banget.” Resta sempat ngelepas derai tawanya sebelum melangkah masuk ke dalam.

Kenapa kamu beda banget dengan yang di sekolah, Res? Selalu tercipta jarak antara kamu dan gue di sekolah. Sebuah jarak yang jelas-jelas tercipta dengan awalan kamu. Sebuah jarak yang tercipta hanya karena kamu nggak mau deketnya kamu dan gue dulu itu nggak perlu jadi omongan orang-orang. Seharusnya kamu nggak perlu ngambil pusing dengan semua omongan, seperti awalnya dulu itu… saat kita begitu dekat dan nggak begitu peduli dengan semua omongan orang… dan saat ini gue begitu terpaksa untuk terus terbawa dengan suasana yang kamu ciptakan ini….

Resta udah balik lagi ke ruang tamu rumahnya.

“Di minum airnya, Set! Cuman ada ini…”

Nggak perlu untuk disuruh dua kali, gelas yang berisi sirup merah bening itu langsung diminum sampe tandas. Beneran haus.

Resta cuma ketawa. “Mau nambah lagi minumnya, Set?”

“Nanti aja deh.”

“Eh, aku nawarinnya sekarang lho, belum tentu nanti nawarin lagi.” Gadis itu menahan senyumnya.

Seta hanya ikut tersenyum saja.

. . .

* * *

sketsa ini tak pernah dan tak akan selesai
januari 1996

4 thoughts on “Sepenggal 18.40

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s