Antara Saya, Kereta dan Stasiun

Stasiun dan kereta dua obyek yang begitu melekat dalam ruang ingatan saya. Ingatan pertama saya atas kereta adalah perjalanan saat masih belum bersekolah, naik kereta Senja Utama, kereta legendaris yang masih ada hingga saat ini. Tidur di lantai kereta, di bawah bangku kereta yang diputar saling membelakangi.

Lalu saat beranjak di sekolah menengah atas, kereta ekonomi seharga Rp 10.000 adalah solusi mutakhir untuk menjelajah Jawa dan Bali. Bayangkan dengan uang senilai itu sudah bisa sampai di Surabaya dan Yogya. Kereta Gaya Baru Selatan berangkat tengah hari lewat Yogya dahulu baru menuju Surabaya. Kereta Gaya Baru Utara berangkat di awal malam lewat jalur utara langsung menuju Surabaya. Keduanya berangkat dari Stasiun Senin dan tiba hampir bersamaan setelah shubuh di Surabaya.

Berada di gerbong kereta ekonomi itu jauh dari rasa nyaman, dengan bangku keras berderet tiga-dua, tanpa pendingin udara, bila Anda beruntung masih ada kipas angin yang berputar. Di antara kursi serta di lajur jalan sudah pasti penuh dengan orang-orang yang naik dengan karcis tanpa tempat duduk, menghampar hingga sambungan gerbong dan pintu kereta, hingga ke toilet. Bila Anda punya hajat ingin ke belakang, mesti urungkan niat sambil menunggu stasiun berikutnya, karena sudah dijamin tak mungkin memanfaatkan toilet tadi.

Bila Anda sedang tidak beruntung, maka mungkin sekali Anda mendapat gerbong dengan beberapa kaca jendela yang terlepas ataupun pecah, lebih sial lagi bila sumber listrik tidak berfungsi, tanpa lampu atau dengan minim penerangan. Menyalakan lilin kadang dilakukan oleh beberapa penumpang. Coba kita bayangkan bila hujan turun menemani perjalanan.

Guna menguji kesabaran, kereta jenis ini memang juaranya. Tiap stasiun hampir selalu berbaik hati untuk berhenti, lebih bermurah hati lagi pada saat berpapasan dengan kereta lain dari arah berlawanan atau saat super bermurah hati mempersilakan untuk disalip oleh kereta searah yang lebih mewah. Lalu kami yang berada di gerbong dalam gerah dan sumpek yang luar biasa bersabar menunggu disalip kereta mewah yang kacanya berembun karena dinginnya pendingin udara… Kereta Bima dan Argo menyalip dan melaju kencang.

Di dalam gerbong, segala rupa manusia hadir, belum lagi mereka yang menggantungkan harapan hidupnya di sana, silih berganti para penjual aneka rupa tak putus dari siang hingga malam, naik dari satu stasiun lalu turun di stasiun berikutnya sepanjang perjalanan.

Tentang jajanan, satu yang melekat adalah penjual pecel yang naik di satu stasiun di selatan jawa. Waktu itu dalam perjalanan kembali dari Bali, naik kereta jalur selatan dari Surabya menuju Bandung. Ibu-ibu tua yang berjualan, baskom besinya disunggi di kepala. Sayur pecelnya menggunung di pincuk daun pisang, dengan siraman bumbu kacang yang pekat. Yang paling teringat adalah bunga (sampai sekarang tidak tau namanya) turut menjadi bagian dari sayur pecel itu.

Sedang, pengalaman paling menakutkan adalah saat saya bertugas gilir jaga malam (kami tidak berani tidur semua sambil meninggalkan tas serta bawaan kami), saat itu dinihari, lima orang teman saya yang lain sudah tertidur pulas. Isi kereta pun mulai menghening, walau penjual masih sesekali berlalu-lalang, lalu lewatlah pengamen, tapi kali ini pengamennya ‘spesial’. Yap, waria yang tampil, dalam dandanan super menor lengkap dengan otot kekar di sana-sini. Sumpah, saya ketakutan setengah mati. Langsung ambil sikap, pura-pura terlelap.

Duduk di tangga pintu gerbong dari Stasiun Senen hingga Purworejo pun pernah saya lakukan. Hampir ketinggalan kereta juga pernah kejadian, karena mengira kereta bakal berhenti setengah jam di salah satu stasiun saya bertenang diri ke toilet stasiun, hingga melihat kereta yang saya naiki itu mulai berjalan. Langsung berlari mengejar, dan dengan bodohnya memukul-mukul badan gerbong kereta sambil berteriak “tunggu!” (hmm kebiasaan ngejar angkot), lalu akhirnya loncat di pintu salah satu gerbong terakhir dengan dibantu penumpang lain.

Momen paling tak terlupakan itu bila menuju Ketapang, Banyuwangi. Stasiun yang terletak paling timur di Pulau Jawa. Beberapa ratus meter saja dari pelabuhan penyebrangan menuju Bali. Kereta Mutiara Timur, berangkat dari Surabaya. Bila sudah lepas dari Probolinggo biasanya kereta akan lebih lenggang, saya berpuas diri berdiri di pintu kereta, terhembus angin, sendiri. Menatap lurus ke horison menikmati tiap detik perjalanan dalam alunan berulang derap kereta yang begitu ritmis terdengar.

– – –

Lalu stasiun,
Pulau Jawa memiliki berpuluh stasiun kuno yang sangat menarik untuk dikunjungi. Didominasi oleh stasiun peninggalan Belanda yang tetap kokoh berdiri. Tiap stasiun menyisakan dialek yang segar dan secara perlahan bermetamorfosa dari Bahasa Sunda, menuju Bahasa Jawa dan berakhir dengan dialek khas Jawa Timuran, begitupun sebaliknya.

Lonceng stasiun yang simbolik dan khas menjadi pengikat ingatan yang tak tergantikan. Menyambut kedatangan ataupun keberangkatan, ditimpali suara peluit kepala stasiun, lalu derap roda-roda besi yang berputar perlahan dan semakin cepat. Membentuk komposisi yang begitu merasuk tiap relung ruang ingatan.

Juga beragam manusia di sana…

Masih jelas teringat, waktu itu dalam perjalanan menuju Bali, liburan panjang kelas satu SMA. Setelah singgah di Surabaya dan Sidoarjo, saya dan empat rekan saya, berangkat menuju Ketapang dari stasiun Sidoarjo. Di stasiun itu sambil menunggu kereta tiba, dengan ransel-ransel yang kami letakkan di kaki, kami mengobrol dengan seorang penjual rokok asongan, lalu dia berkata dengan logat jawa yang kental, “aku ki pengen koyo sampeyan-sampeyan iki, hidupnya PREEDOOOM” :)

5 thoughts on “Antara Saya, Kereta dan Stasiun

  1. Mau nge “like” tapi harus register dulu…males deh jadinya Dan :). Tapi terima kasih utk sudah membagi kutipan ttg stasiun2 kereta ini… Salah satu tulisan kamu yg paling aku suka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s