Jangan Kamu Anggap Bodoh…

Dahulu itu, saat masih bersekolah dan berkuliah, selalu saja dapat bertemu dengan rekan-rekan yang sedemikian lihainya mencontek bila ujian berlangsung. Wajah dapat sedemikian tenangnya, sedang tangan serta mata beraktivitas ke sana ke mari membuka contekan. Saya saat itu pun sedemikian yakinnya si penjaga ujian tidak mengetahui seluruh aktivitas itu.

Namun, saat saya menjadi pengajar, perspektif tersebut demikian mudahnya berubah. Ternyata berdiri ataupun duduk di muka kelas itu sedemikian mudahnya untuk mengenali mana saja mahasiswa saya yang sedang melakukan aktivitas contek mencontek tadi. Wajah-wajah (sok) tenang tersebut begitu mudah terlihat sedang melakukan kecurangan. Melihat gerak-gerik tangan yang sedemikian berhati-hatipun mudah sekali untuk mengenali ada kegiatan lain yang dilakukan selain mengerjakan soal ujian.

Kejadian tersebut kembali berulang pada saat saya mulai memiliki posisi yang berkesempatan memiliki anak buah. Tanpa kesulitan, saya mudah sekali menangkap alasan mana yang memang jelas berupa alasan atau sebuah cerita yang disusun dan dirangkai sebelumnya lalu disampaikan ke saya. Mungkin ini yang disebut waktu yang membuat kita semakin kaya dengan pengalaman. Semakin kaya dengan cerita, dan semakin mudah memilah yang terlihat nyata atau bagian dari susunan cerita yang memang telah disiapkan. Saya yakin tiap atasan memiliki kemampuan itu.

Begitupun saat sebagai pengajar berhadapan dengan para mahasiswa yang datang ke kelas tak lengkap dengan ketentuan yang disyaratkan. Lalu mengalir selaksa alasan menyertai, dari tempat nge-print yang belum buka, hard-disk jebol (ini yang paling sering), mati lampu, ban kempes (hmm kok tiba-tiba saya teringat dengan salah seorang mahasiswa bimbingan Tugas Akhir saya yang telah tiada), … “Hei sudahlah, saya juga pernah jadi mahasiswa!”

Saat menjadi atasan ataupun pengajar, mudah sekali untuk mengetahui mana yang benar atau rekayasa saat mendengarkan sebuah alasan yang disampaikan. Namun untuk saya, saat ini lebih memilih untuk tak ambil peduli dengan hal itu, sambil menahan diri untuk tidak mengucap, “Sudahlah, apapun alasanmu. Tolong jangan kamu anggap saya bodoh sampai tidak tahu apa yang kamu jadikan alasan itu…”

. . .

image by wallpaperpimper.com

6 thoughts on “Jangan Kamu Anggap Bodoh…

  1. Ah…jadi benar2 teringat buku otobiografinya Frank McCourt “Teacher Man” yg sempat membuat saya tertawa terbahak2. Disitu diceritakan bhw McCourt tau excuse note yg ditulis anak muridnya dibanding yg ditulis orang tua murid. Karena ortu murid hanya akan menulis note pendek menjelaskan kenapa anaknya terlambat sekolah, atau kenapa dia gak bisa ikut ujian, dst. Ttp kalau note hasil boong muridnya itu pasti mengulas alasan yg panjang dan dibuat2 mengapa ia terlambat, atau tidak menyerahkan tugas. Sampai akhirnya McCourt percaya bahwa satu2nya saat dimana anak2 muridnya itu pandai menulis dan mengarang adalah ketika mereka berbohong di note2 excuse tadi. Jadilah salah satu tugas kelasnya mereka (dan salah satu hasil tulisan yg paling bagus dari murid2nya) adalah mengarang excuse kenapa mereka terlambat sekolah :). Sabar ya pak Guru…ternyata lingkaranmu sudah menemukan titik awalnya :)

  2. Hanya berbeda waktu, tapi pada dasarnya semua orang mengalami fase tersebut. Sekarang bagaimana caranya agar kita menjadikan generasi selanjutnya untuk jadi lebih baik.

  3. “Gak punya pilihan lain…” apa benar itu, Dan? Aku ceritain lagi pengalaman aku pas kuliah…waktu itu ada tugas programming computer, yang kita kerjain bareng2 sekelas (dan emang boleh, kan kerja tim) sampai benar2 larut malam, dini hari. Pada akhirnya, setelah frustasi gak ngerti kenapa hasilnya masih salah padahal kelihatannya language programnya udah bener…akhirnya nge-print program hasil buatan sendiri, tapi “result”nya punya temen. Eniwei, aku inget banget dipanggil ke kantor professor aku saat itu. Wajahnya amat sangat penuh kekecewaan; mukanya kelihatan kurang tidur; dan kalimat yg ia ucapkan sampai sekarang masih terngiang (salah satu “school of life” yg aku lewatin). Beliau bilang bhw saking kecewanya beliau gak bisa tidur tadi malam karena mikir “hukuman” apa yg harus beliau kasih ke aku. Hukuman apa yg bisa mendidik biar aku gak akan pernah “nyontek” lagi, atau mengakui pekerjaan orang lain sbg pekerjaan sendiri. Sementara di universitas sini, hukuman ketauan nyontek boleh dilaporkan professor ke kepala fakultas, dan hukuman akhirnya adalah pengeluaran tidak hormat..tapi beliau gak percaya di taun pertama engineering aku harus dikeluarin. Jadilah hukumannya adalah menulis tulisan kenapa menyontek itu sebuah keburukan yg seburuk2nya. Kayaknya pertama kali ditegur guru sampai menangis. Bukan hanya karena merasa bersalah, tapi karena perasaan mengecewakan yg amat sangat.
    Selama sekolah di Indo, pekerjaan menyontek (seringnya kasih contekan) itu dianggap petualangan yg seru tersendiri. Baru kali itu menyontek dilihat sbg hal yg sesungguhnya, kebohongan yg amat besar kpd diri sendiri. Lebih baik hasil buruk tapi hasil diri sendiri drpd mengaku hasil org lain. Sumpah, gak pernah menulis seserius tulisan yg aku kasih ke professor aku waktu itu. Tulisan itu alhamdulillah kunci aku gak jadi dikeluarkan dari universitas, tapi juga kunci menggaris bawahi pekerjaan org lain ketika pekerjaan mereka bisa membangun ide di diri sendiri. Semoga cerita kepanjangan ini bisa bantuin kamu cari “pilihan2 lain”.

  4. Kamu salah mencernanya, Ci…
    “Apa kita ada pilihan lain selain menjadikan generasi selanjutnya jadi lebih baik” … konteks jawaban di atas untuk menggarisbawahi pernyataan Mas Febri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s