Kemarin, Tiga Dekade Lalu

Sekitar pukul enam atau mungkin tujuh pagi belum lengkap tersambangi, saat suara tangis bayi membelah heningnya pagi. Satu bayi terlahir di pagi itu, seorang bayi yang kami panggil adik dan menjadi bungsu dari kami, tiga bersaudara.

Hal kecil yang masih terekam dalam ingatan, rumah bersalin itu begitu teduh, ada pohon besar yang tumbuh di sana. Terdapat pintu kecil yang tembus ke jalan kecil khas jalan program MH Thamrin Jakarta, selebar satu meter lebih dengan kanan kiri got yang tak terlalu dalam. Jalan itu menghubungi sisi jalan yang menembus rumah kecil tempat kami tinggal. Sekitar dua kilometer jarak rumah kami dengan rumah bersalin itu. Saat sebelum dan sesudah adik kami lahir, saya dan mbak saya kerap jalan kaki ke rumah bersalin itu, membawa botol minum yang kami berikan ke ibu kami.

Entah rumah bersalin itu masih ada atau tidak, yang pasti saat ini tempat itu menjadi bersebelahan dengan jalan panjang arteri Pondok Indah, menjadi rumah sakit khusus paru-paru. Saya sendiri hampir pasti tiap hari lewat di sisi rumah bersalin itu. Begitu pun dengan adik saya, kerap melalui sisi luar rumah bersalin tempat ia lahir, tapi saya yakin ia tak pernah tau mengenai keberadaan rumah bersalin itu.

Betapa cepat waktu berlalu, masih teringat adik kecil kami itu tak mau dipanggil dengan nama yang dimiliki, namun memilih untuk dipanggil “Coco”, hingga hari ini kita tak pernah tau apa makna dari nama itu, juga mengapa ia ingin dipanggil seperti itu. Juga betapa takutnya ia dulu dengan TV ITT 17 inch yang kami miliki, juga patung garuda Bali setinggi satu meter, entah “magis” apa yang terdapat di dua obyek tersebut.

Kecil adik kami itu penggila susu sejati, semenjak kecil tak lagi menggunakan botol + dot, namun meminumnya dengan gelas dan sedotan, sangking seringnya minum susu hingga sedotan yang digunakan itu kerap dicuci untuk digunakan ulang :) Saat duduk di taman kanak-kanak (yang lokasinya hanya beda satu rumah saja dari tempat tinggal kami), bila pulang sekolah sudah teriak “assallamu’alaikum” jauh sebelum tiba di rumah kami, lalu masuk rumah, minta susu sambil tiduran di lantai kelelahan.

Bicara kompetensi visualisasi, menjadi hal biasa untuk kami melihat adik kami pulang sekolah membawa piala kemenangan, semenjak masih begitu kecil hingga yang terakhir saat kuliah, menyabet juara pertama lomba poster yang diadakan oleh kedutaan Chili. Kompetensi visualisasinya memang di atas rata-rata. Padahal, dulu itu saat adik saya kuliah, saya sempat kuatir sekali dengan kemampuan teknis visualisasi yang dimiliki dengan menggunakan komputernya. Walau saat itu penghasilan saya masih secukupnya, namun akhirnya saya paksakan ia ikut les komputer dari Word Document, FreeHand, Photoshop hingga 3ds Max. Satu tahun, perbulan 150 ribu, tempat lesnya yang di Blok A itu pun sekarang sudah entah kemana. Konon teman lesnya gugur satu persatu, adik saya bertahan pasti karena nggak enak sudah saya bayarin :) Tapi dampaknya signifikan, terlebih setelah itu komputer saya dapat dia pakai sepenuhnya. Kemampuannya melesat luar biasa, terlebih didukung oleh etos belajar + ‘nguliknya yang gila-gilaan. Saya yang dulu terlibat dalam proses mengajar ia menggambar, kini mesti tau diri sudah tertinggal teramat jauh dengan kemampuan visualisasi yang ia miliki.

Kemarin, jumat…
tiga dekade telah kami lalui bersama, selamat menyambut dekade baru adikku… dan biarkan keindahan serta kebijakan senantiasa mengawal tiap langkah yang kamu lalui…

. . .

clipboard icon by psdgraphic.com + pencil sketch by tytton.sishertanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s