Penyakit + Resep + Obat

Diagnosa yang tepat adalah segalanya, lewat diagnosa tersebut akan tersimpulkan solusi yang dapat diambil. Bila pulas warna kosmetik selalu dianggap solusi paling tepat maka sesungguhnya buruk raga tak kan hijrah kemana. Wah berarti harus operasi plastik dong? Ya nggak juga, karena jangan-jangan nggak percaya diri atawa minder yang menjadi penyebab masalah utama.

Saat era branding tiba, kata tersebut berubah menjadi mantra. Kata “branding” tak pernah luput terucap dalam perbincangan, karena dianggap sanggup menaikkan kelas. Lalu seolah tiap permasalahan dapat dipadamkan dengan mantra “branding” tersebut, sedang penyakit utamanya tak pernah tersentuh. Kalaupun tersentuh, merasa enggan untuk menyembuhkannya, karena citra dianggap lebih penting, tampilan dianggap urusan utama.

Contoh mudah bagi saya adalah institusi pendidikan. Masalah utama dari institusi pendidikan (di Indonesia, lebih khusus lagi DKV) adalah:

  • Keenganan personilnya untuk membaca, mengembangkan diskursus, mengolah dialog berdasar basis keilmuan.
  • Sulit membudayakan penjabaran desain berdasar obyektivitas keilmuan dengan meminimalkan subyektivitas dalam mantra sakti “menurut gue”.
  • Tak sanggup menjabarkan kata “kreativitas” dalam proses-hasil-evaluasi, bukan sekedar “yang penting beda” tapi nggak sanggup menjabarkan bedanya itu apa dan mengapa harus beda, jangan-jangan hanya sekedar yang penting beda!
  • Tak sanggup menjabarkan “out of the box” dengan menyertakan “box”-nya itu sendiri apa? Karena, bagaimana mau keluar kotak bila kotaknya sendiri tidak tahu yang mana.

Sesungguhnya menjalankan pengajaran-penelitian-pengabdian dengan baik dan benar plus sepenuh hati sudah teramat cukup untuk mengangkat sebuah institusi ke derajat tertinggi sesungguhnya. Kualitas paripurna dari tiga aspek tersebut menjadikan sebuah institusi pendidikan menjadi lebih bermartarbat ketimbang  melalui pendekatan-pendekatan popular lainnya, karena secara tegas menjalankan inti dari peran dan fungsi sesungguhnya dari institusi pendidikan itu sendiri.

Bila diagnosa penyakit telah ditemukan, resep telah selesai dituliskan, yang sakitpun harus tersadar dengan penyakit yang dideritanya, karena penyangkalan hanya akan membuat semakin kronis penyakit yang diderita. Semakin kronis semakin sulit disembuhkan, keseharian tak lebih dari wujud zombie yang bergerak tanpa tahu apa yang dikerjakan, kualitas tak lagi menjadi tujuan karena rutinitas dan pola kerja “yang penting ada” telah menjadi anut kepercayaan, dan kematianpun tak lagi menjadi sebuah penantian karena telah berubah menjadi keniscayaan.

Jangan jadikan “branding” sebagai obat sapu jagad, karena sesungguhnya tak ada obat sapu jagad di dunia ini, selain suntik mati!

. . .

injection icon by iconfinder.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s