Pesta Itu Tak Terlalu Memabukkan

#satu

semalam,
pesta itu tak terlalu memabukkan
mungkin karena tiada hadirnya dirimu
dialog-dialog yang hadir bagai tak bersendi
gontai melangkah hingga lepas malam
bahkan hingga dinihari menjelang
dan kini menyisakan kantuk yang teramat dalam
juga dahaga yang hanya menyisakan rasa
perih di kerongkongan, menyesakkan…
karena air jernihmu begitu sulit untuk ditemui,
apalagi untuk kuteguk kunikmati

#dua

bilik dialog itu telah kembali dibuka,
siap menampung segenap rasa dan luapan emosi
yang hadir untuk terbagi terungkapkan
yah bilik itu kini memang sedang tak berpenghuni
karena selaksa kata yang mendiaminya
tengah menyepi, sejenak meninggalkannya

tak beda anak kunci untuk menjenguknya
tak ada yang berubah selain hampa
yang kini sedang menyelimutinya

#tiga

mungkin memang terlalu mengawang
mengharapkan ragamu turut hadir
dalam pesta semalam
mengharap tubuh kasarmu
muncul di hadapku
hingga kerinduan yang
begitu meluap ini
menemui wadahnya
menjumpai jawabnya
jiwa ini mengering
raga ini membeku
tiap detik yang terlalui
tak pernah lepas dari bayangmu
perih, rasa luka ini mengoyak
dan aku tak pernah siap…

2 thoughts on “Pesta Itu Tak Terlalu Memabukkan

  1. Kerinduan yang meluap selalu membayangkan air yang jernih ya Pak. itulah ‘seni’ nya rindu. rindu bikin lupa pasir dan noda.
    Air jernih yang memabukkan pasti luar biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s