Alat dan Perangkat

Saya selalu terkagum-kagum dengan para penggemar garis keras saat membela pujaan mereka. Contoh paling mudah ditemui itu bila membaca artikel Real Madrid dan Barcelona, wow! Bila ada artikel seputar Real Madrid pasti para penggemar Barca akan turut mengomentari secara negatif, begitupun sebaliknya. Beranjak ke area teknologi, para penggemar garis keras antara sistem operasi IOS Apple vs Android adalah yang paling ramai saling berargumen mana perangkat mereka yang paling hebat.

Perdebatan yang berlangsung cenderung membabi buta, saling menyerang dengan pendekatan apel ke apel yang tak relevan. Kerap terlupa akan esensi mendasar dari apa yang mereka bela. Entah itu institusi yang tak punya kaitan langsung dengan nilai mendasar yang dimiliki ataupun perangkat yang semestinya dipertanyakan manfaat serta fungsi utamanya terlebih dahulu.

Perangkat maha canggih tetaplah menjadi sekedar alat saja, dia menjadi bermakna pada saat mampu memberikan manfaat bagi penggunanya secara maksimal. Secanggih apapun ponsel berotak iOS, Android, BlackBerry, Windows 8 bila hanya digunakan untuk telepon, sms, foto-foto dan update status saja ya untuk apa, makna yang didapatkan tak lebih dari fungsi utama dari perangkat-perangkat lain yang jauh lebih sederhana.

Saya teringat sahabat saya Nanda, dia musisi/gitaris profesional, seburuk apapun kualitas gitar yang dia pegang untuk dimainkan, dari merk yang antah berantah sekalipun, pada saat dia mainkan maka nada serta suara yang keluar tetaplah enak dan berkualitas. Bahkan dalam kondisi tampil di panggung dengan 2 senar gitar yang terputus pun masih dapat menghasilkan penampilan yang mengagumkan. Kualitas alat dan perangkat tak lagi menjadi subyek utama untuk diperdebatkan.

Karena sesungguhnya apapun alat yang kita gunakan akan mencapai titik maksimal pemanfaatannya apabila kita sanggup mengulik, mengeksplorasi hingga seluk beluk terdalamnya, dan hasil akhir yang didapatkan sudah menjadi obyek tersendiri yang terlepas dari kualitas perangkat yang digunakan untuk menciptakan.

Mudah-mudahan saya masih bertahan dengan ponsel Samsung candy bar yang sederhana ini dengan alasan di atas, selain karena tidak nyaman dengan teknologi touch-screen + tombol qwerty, saya juga telah merasa tercukupi untuk melakukan aktivitas sms, telepon dan mencatat di notepad sederhana yang dimiliki ponsel tersebut. Padahal saya berkerja di divisi pengembangan digital-media di kampus yang dikenal sebagai kampus yang kuat dengan keilmuan teknologi informasinya =)

– – –

*menggunakan Keynote iWork Apple untuk mendesain web =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s