Nonton Wayang Kulit (01)

130106-pagelaran-wayang-kulit

Saat masih sekolah dasar dahulu, pengalaman tak terlupakan adalah saat dapat hadir sekian kali di pertunjukan wayang kulit. Jangan bayangkan tempat pertunjukkan yang berpendingin udara lengkap dengan tempat duduk ala konser. Tempat yang ada adalah rumah joglo si pemilik acara, yang dibuka sekat depannya. untuk dapat menampung para tamu.

Menonton wayang kulit adalah satu ritual komplet yang tidak berhenti di sensasi menonton gelaran wayang kulitnya. Saat itu, perjalanan menuju tempat acara sudah menjadi sensasi tersendiri. Listrik yang saat itu belum masuk daerah simbah saya membawa langkah harus berjalan dalam kelompok-kelompok pejalan kaki. Dilengkapi dengan lampu senter yang kadang tidak kami gunakan karena rembulan bersinar menyinari perjalanan. Temaram malam, dengan bintang yang berserak di langit serta rembulan yang memancarkan cahaya peraknya, suara binatang malam, langkah kaki yang terdengar jelas dan senda gurau dalam bahasa jawa menjadi satu kesatuan ritual awal untuk menonton pertunjukkan. Kadang perjalanan tak hanya melintas aspal, namun juga melewati jalan bebatuan, naik turun bukit.

Tiba di tempat acara, akan disambut keriaan yang eksotis. Para pedagang berjejer di kiri kanan jalan, di depan rumah pemilik acara. Ada diesel seadanya sebagai sumber listrik guna penerangan, sedang lampu petromax yang tersebar menjadi penerang utama di keriaan.  Dari makanan kecil (legendar, pecel, kacang rebus, kacang goreng, kue kolong singkong), kelengkapan rokok klobot/linting, hingga judi dadu membaur menyatu. Saya lupa siapa yang berkisah, penjual serta judi dadu di keriaan belumlah lengkap tanpa hadirnya orang gila. Yap, kehadiran orang gila akan melengkapi keriaan malam pertunjukkan.

Masuk ke rumah pemilik acara, bila acaranya itu berbentuk kondangan, maka kita akan dipersilakan untuk makan malam terlebih dahulu. Teh manis hangat dan juga kopi tersaji ruah, dipersilakan untuk dinikmati. Sedang rokok kretek dikeluarkan dari bungkusnya ditaruh di gelas-gelas, tersaji bersama kelengkapan rokok linting, dari kertas papir, tembakau, cengkeh. Asbak serta pematik api kaleng berbahan bakar bensin, akan lengkap menemani.

Berada di ruang pertunjukkan, kita akan disuguhi kelir kain putih yang membentang, deret wayang kulit warna-warni terjejer rapi dengan dua gunungan bersilangan tertancap gagah pada gedebok pisang. Para niyaga siap di balik alat musik masing-masing, begitu pun para sinden telah duduk simpuh di satu sisi. Duduk simpuh adalah ritual yang tak kalah dasyat dengan duduknya dalang. Bayangkan selama semalam suntuk para sinden dalam posisi duduk simpuh, kaki terlipat menahan beban tubuh, menahan kantuk, menembangkan bait-bait kidung.

(bersambung ke bagian 02)

Foto milik flydime (This file is licensed under the Creative Commons Attribution 2.0 Generic)

2 thoughts on “Nonton Wayang Kulit (01)

  1. Makin sulit untuk mendapatkan yang original. Bukan hanya original dalam tempat pertunjukkan, namun juga original dalam pertunjukkan. Kini mesti dicampur dengan campursari dan sejenisnya.

    Untungnya Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) mencoba menjaga ‘kemurnian’ pertunjukkannya, para dalang yang tergabung dengan Pepadi dilarang untuk (salah satunya) mementaskan campursari di tengah pertunjukkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s