Supir Anyar Supir Rumiyin

130112-kemudi

Bahasa akan selalu menjadi ruang kajian menarik bagi saya sampai kapanpun juga, seperti halnya  kajian sejarah, teknologi informasi, musik dan tentunya seni serta desain. Kini mencoba menelusuri keindahan ‘suara’ yang tercipta dari percakapan yang menggunakan bahasa Jawa. Saya sendiri tak mampu menjangkau kedalamannya, namun dalam tataran permukaan dapat kita temukan ‘suara’ penuh nada walau kita tak tau makna yang ada di dalamnya.

Lho lha sopiripun enggal, Jeng?
Inggih, Jeng.
Lajeng Pak Pir ingkang rumiyin?
Nggih sampun kula ndegke.
Loh, lha napa, Jeng?
Sampun kedangon, Jeng. Kula suwun nambah supados saged napa-napa malah mboten saged nyanggupi. Lha malah senengane muring-muring mawon.
Lha menawi mboten klentu, njenengan nate crios bade nambahi gaji Pak Pir ingkang rumiyin, ugi bade ditumbasaken motor.
Inggih sih Jeng. Nanging niki ingkang penting sampun kula paringi gajinipun. Kula ugi mboten saged menawi ngangge sopir kalih. Kula kerepotan, ugi langkung awis.
Nanging…
Sampun to, Jeng. Kula mawon mboten kelingan malih kok njenengan malah ingkang repot.

Yang mengernyitkan kening, mestinya nggak perlu, wong yang diobrolin nggak penting-penting banget, berikut alih bahasanya:

Loh supirnya baru, Bu?
Iya, Bu.
Lalu Pak Pir lama?
Ya, ta’ berhentikan
Loh kenapa?
Sudah terlalu lama, lagipula ta’ minta nambah biar bisa ini-itu juga nggak bisa menyanggupi. Senangnya marah-marah juga.
Tapi bukannya terakhir ibu cerita kalau Pak Pir lama mau dijanjikan tambah gaji, malah mau dibelikan motor segala.
Ya iya sih, Bu. Tapi kan yang penting kemarin gajinya sudah saya bayar sesuai. Lagipula tidak mungkin juga dengan dua supir. Repot, biaya dobel.
Tapi…
Sudah lah, Bu. Wong saya saja sudah nggak ingat kok ibu malah yang repot.

– – –

Maturnuwun kagem Moondi Emsita untuk alih bahasanya =)

6 thoughts on “Supir Anyar Supir Rumiyin

  1. Entah kenapa cuplikan pembicaraan ini membawa senyum. Bahasa memang melukiskan jauh lebih dalam mengenai struktrur sosialisasi daerah tsb. Misalnya aja, bahasa Inggris yg gak mengenal strata menggambarkan cara penghormatan yg berbeda dengan bahasa Indonesia yang mengenal strata antar umur. Dan itu terlihat dari cara interaksi yg juga berbeda di kedua budaya tsb.

  2. Kalau sempat, coba tengok diskusi tulisan terkait di Facebook. Diskusinya bisa menjalar ke semiotika. Mengenai interaksi budaya, lewat historiografis mestinya bisa ditelusuri hal-hal terkait budaya serta sebab-akibat yang ditimbulkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s