Petanda Mimpi

130121-escalator

Membaca judulnya terkait dengan ‘petanda’ sepertinya saya bakal bicara soal semiotik. Tapi tidak, saya tidak akan menulis seputar semiotik. Terlebih bila harus mengutip Saussure, Peirce, Barthes, Eco ataupun Lévi-Strauss. Tidak bukan itu, saya  hanya akan menulis saja soal tanda-tanda yang sedemikian berserakannya di sekitar kita.

Konon orang Badui itu untuk menghalau hujan ataupun memanggil hujan cukup dengan cara mengajak alam untuk berbincang. Dibaca tanda-tanda yang disampaikan oleh alam lalu ‘membalasnya’ dengan menjawab tanda-tanda tersebut. Membaca kecepatan angin, gerak dedaunan, cerahnya matahari, serta bau alam di sekitar mereka tinggal.

Satu kuliah keren yang dibawakan oleh @RizaldiSiagian mengisahkan satu kondisi menakjubkan (sekali lagi dari khasanah lokal). Ia menuturkan bagaimana gondang (alat musik Batak) dapat menjadi perantara komunikasi yang dahsyat, yakni dengan memainkannya selaras dengan tanda-tanda yang ada di alam. Gondang tersebut dapat memanggil hujan, membaca awal musim, bahkan dapat menjadi media komunikasi nirkabel antar desa, dan kita akan menganggapnya dengan teknologi yang tak wajar.

Begitu pun dengan orang Biak, antara bulan Oktober dan Januari, saat arah angin dan gelombang besar di sepanjang pantai utara Irian berjalan, aktivitas para nelayan pun mengadaptasi diri, membaca tanda-tanda alam yang ada. Setelah memasang perangkap, nelayan ahli yang terpilih akan menghadap ke empat penjuru mata angin. Lalu ia akan memulai ‘percakapannya’ dengan ikan. Yap, mereka dapat bercakap dengan ikan menggunakan bahasa ikan, agar ikan-ikan dapat senang dan terpesona, hingga berkumpul untuk ditangkap dengan mudah.

Membaca tanda-tanda yang berserak di alam, menjadi satu keahlian yang semakin memudar di khasanah kehidupan yang kita jalankan.

Berjuta tanda, penanda serta petanda berserak di keseharian, menjadi berarti pada saat kita sanggup memaknakannya. Lalu bagaimana dengan mimpi, tak hanya sebagai aktivitas bunga tidur semata, ia hadir karena tersebabkan oleh daya konsentrasi atas sesuatu yang sedang kita fokuskan habis-habisan, atau dapat juga sesuatu yang begitu ingin kita miliki. Bisa saja mimpi menjadi konstruksi atas fokus dan keinginan-keinginan tadi hingga membentuk pesan-pesan yang semestinya dapat kita terjemahkan.

Saya termasuk orang yang jarang mendapatkan mimpi di saat tidur. Namun hampir tiap mimpi yang saya dapatkan biasanya menjadi penanda atas sesuatu kejadian. Paling sering itu mendapatkan tanda lewat mimpi gigi yang sakit ataupun terlepas, dan itu biasanya saya harus bersiap akan ada kerabat yang sakit atau bahkan berpulang, tapi saya sama sekali tidak dapat mengetahui dengan pasti kepada siapa tanda berupa mimpi itu merujuk.

Bagi saya, mimpi biasanya sebuah tanda yang tersampaikan terbalik dengan kenyataan yang ada, bila bicara malam maka akan berarti siang, bila bicara tawa lepas berkepanjangan maka akan hadir tangis yang menyesakkan, termimpi menapaki sesuatu ke arah atas maka tak lama harus turun jauh ke bawah, dan bila saya bermimpi dengan sebuah perjumpaan, maka saya (seharusnya segera) bersiap dengan sebuah perpisahan.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s