Suling Seperempat Abad

130118-suling

Hasil dari bongkar-bongkar ketemu dengan suling bersejarah ini. Waktu itu baru pindah ke rumah baru, di daerah Gandul-Sawangan sekitar tahun 1987. Saya baru kelas 5 SD dan kakak saya kelas 6 SD, kami bersekolah di SDN Pondok Labu. Nah, seperti halnya sekolah-sekolah dasar yang lainnya maka muridnya diwajibkan untuk memiliki alat musik untuk mata pelajaran seni musik. Suling akhirnya menjadi pilihan karena pertimbangan harga murah yang dimiliki. Karena kami belum memiliki suling maka di satu sore kami berangkat naik angkot biru, KAB (Koperasi Angkutan Bogor) Doyok (disebut Doyok karena tampilannya yang sudah hancur-hancuran, hidup segan mati tak mau) menuju Cinere. Cinere saat itu belum ada yang namanya Cinere Mall, baru ada pertokoan di seberang Cinere Mall, tempat Sincere Store, toko alat musik Yamaha berada. Kami membeli satu suling Yamaha di situ.

Nah, begitu kelar bayar (harganya saya lupa, mungkin masih seribu lima ratus rupiah saja, karena naik angkot itu masih berlaku tarif seratus rupiah), kakak saya sibuk mencari uang di kantong, menanyakan juga apakah saya memegang uang lebih. Ternyata uang yang dibawa benar-benar pas untuk membeli satu suling tadi. Karena tak ada uang lagi yang kami pegang akhirnya kami jalan kaki menuju rumah, jaraknya ya lumayan, 4 kilometeran, dengan kontur jalan yang naik turun, lengkap dengan tanjakan curam. Jalan juga harus dipercepat agar gelap tidak keburu datang, karena jalan Bukit Cinere saat itu masih sangat sepi, tidak ada bangunan di kiri kanan jalan, masih dipenuhi kebon kosong, tanpa lampu jalan, dan harus melewati jembatan-jembatan yang terkenal oleh keangkerannya.

Kemarin, saat menemukan suling yang sudah kecoklatan itu, tiba-tiba cerita di atas menyeruak. Dua puluh lima tahun, sungguh sang waktu begitu cepat berlalu.

3 thoughts on “Suling Seperempat Abad

  1. Bukan masalah sulingnya…tapi aku inget banget sama Sincere store. Berhubung udah pindah ke daerah Cinere dari tahun 1982. Masih inget ketika Bukit Cinere masih berupa perkebunan pisang. Masih inget ketika jalanan ke Limo yang beraspal berhenti di titik mana, dan kemudian dilanjutkan dengan jalan kaki ke Limo. Ah, makasih untuk membangunkan memorinya. I used to have such a fond memory of being driven on Cinere Raya..how time has changed.

  2. Dannnn… Pas baca fb nya.. Liat gambar suling… Langsung kebayang perjalanannya.. #berkacakaca … What a sweet memory (sekarang) 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s