Dingin

Dingin, kering, kaku, tak ada dalam makna, tak melarut dalam sekian balas kata. Berharap apa? Toh, musim telah kau paksa untuk berganti. Namun baju yang aku pakai semakin tak sesuai dengan hangat matahari yang perlahan menyengat, karena jubah tebal ini masih juga ku kenakan, ku pasang sebagai petanda yang semakin kehilangan makna. Masih pantaskah sesak ini menggumpal dalam rongga dada? Sedang aku pun semakin tak memiliki arti, tak lagi terangkum dalam ruang ingatan yang terus terkikis tergantikan. Berharap apa? Berharap pamit kata yang terucap tak berubah seperti sepakat yang pernah teriyakan? Apakah itu akan membaikkan keadaan? Apakah itu akan membuat musim kembali berputar lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan? Terlalu jauh, karena kalut dan runtuh ini masih bicara soal yang sama. Bicara tentang lorong hitam yang menghisap dalam, semakin dalam…