Melihat Lebih Dekat (01) – Tarif Metro Mini

metromini

Naik Metro Mini itu sesungguhnya memasrahkan separuh hidup ke pengemudi dan nasib. Sesekali coba duduk di samping pengemudi, amati dashboard dan perangkat kemudi beserta pedal-pedalnya. Seketika kita akan menggumam doa. Dashboard ditanggung sudah tak lengkap, tanpa speedometer dan rekan-rekannya. Debu bercampur oli menempel, mengerak, membantu di tiap sudut. Lalu hal yang membuat jantung berdegup itu adalah pada saat mengerem, mesti diinjak berulang kali terlebih dahulu baru dapat berhenti dengan manis.

Oia, saya sendiri sudah lupa dengan tarif-tarif terbaru dari angkutan umum yang saya tumpangi, baik mikrolet sekian tujuan maupun metromini. Hanya tarif Busway yang saya ingat. Sialnya, tulisan tarif resmi yang dahulu biasaya ditempel di badan angkutan umum itu kini raib entah kemana. Akhirnya tiap membayar saya menggunakan pecahan uang yang lebih besar. Nah, ‘sialnya’ metromini pertama yang saya tumpangi itu saya membayar 3ribu rupiah tapi kok pada saat bayar di metromini yang lain saya membayar 2ribu saja.

Malam tadi terjadi hal menarik. Karena sudah lewat pukul 10 malam bangku-bangkunya banyak yang kosong, saya pun duduk di samping pintu masuk. Tunggu punya tunggu, kok tidak ada yang menagih ongkos. Clingak-clinguk ke arah belakang, wah sepertinya Metro Mini ini tanpa kondektur. Si Pengemudi sedang solo karir. Lalu bagaimana bayarnya, apa iya pada mau bela-belain maju ke depan dahulu untuk menyerahkan ongkos ke supir.

Tak lama sebuah semiotik bekerja (hwalah!), modal ketok-ketok kaca jendela sebuah pesan pun bekerja. Ada penumpang akan turun. Dan benar saja, penumpang itu maju dulu ke depan, arah supir, menyerahkan ongkos lalu baru turun. Wuah, ternyata masih banyak harapan yang tersisa untuk Jakarta dan Indonesia dengan orang-orang yang hidup di dalamnya.

Harapan itu makin nyata saat giliran saya akan turun, setelah mengucap “kiriii”, saya serahkan uang 5ribu rupiah, lalu dikembalikan 3ribu rupiah. Tuh kan tambah lagi harapannya, walau sendirian bekerja si pengemudi tidak merasa berhak untuk mengutip lebih banyak =)

4 thoughts on “Melihat Lebih Dekat (01) – Tarif Metro Mini

  1. Tarif Metro Mini sekarang Rp. 2.000,-
    Tarif Mikrolet dari perempatan Ragunan sampe kelurahan tersebut di stikernya Rp.3.000,-. Kalo belum, yah Rp.1.500 s/d 2.000,-
    Tarif PATAS Non AC Rp. 2.500,-
    Tarif PATAS AC Rp. 6.000,- sampe kelurahan tersebut di stiker, kalo belum ya sambil belagak sering kasih aja Rp. 5.000,- sambil bilang “Raplaz” atau “Senayan”.
    Tarif angkot putih di Sudirman yang cuma ada setelah jam 22.00 (dari mana ke mana tujuannya gak tau but i hopped on anyway, rock and roll!) Senayan – Sarinah Rp. 3.000,-

    Ini mah subjektif ya, hahahaha.. cuma rute-rute yang dilalui..

    Anyway, poker face comes in handy to survive the capital city. What a pity.

  2. Wow…terakhir naik metro mini itu, kalo gak salah ongkos masih cuma Rp 500. Malah angkot terakhir yang aku inget naikin itu ongkosnya dibayarin kamu, Dan. Hahaha, gratis dong jadinya? :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s