Melihat Lebih Dekat (04) – Pagi yang Absurd

matahari
Macet di pagi hari, ah tak lagi jadi hal yang luar biasa saat ini. Menyiasatinya hanya lewat satu cara, yakni berangkat lebih pagi. “Pagi” di sini pun menjadi sangat bias, “pagi” yang mana? Karena masih bias, ya udah… berangkat habis shubuh saja =(

Kini, tak ada satu teori-pun yang valid untuk membaca kemacetan. Kalau dulu, pernah hadir teori, bila malamnya macet total di mana-mana, ataupun hujan deras tak terhingga maka paginya ditanggung jalanan jauh lebih sepi. Atau, macet itu berlangsung di Jumat malam. Ah seluruh teori itu sudah luruh tak lagi tepat membaca zaman. Saat ini, macet ya macet, sepanjang waktu, sepanjang hari.

Nah, masih dalam rangka “Melihat Lebih Dekat”, saya pun berangkat lebih pagi, karena harus berlomba rebutan MetroMini dan harus menambah waktu karena begitu tiba di kantor saya memilih untuk mandi lagi.

Apakah jadi solusi? Ya nggak juga sih, masih tetap berdiri di MetroMini, terlebih dengan bawaan tas sebesar samsak bawaanya selalu serba salah, menghadap manapun salah karena menyusahkan posisi orang lain. Naik susah, turun apalagi, karena mesti melewati satu persatu penumpang yang berjejal.

Sambil berdiri dengan tas samsak diletakkan di depan, berdiri saja tanpa tas sudah puegel bukan kepalang, ini ditambah dengan beban. Pagi sih memang baru saja berawal, namun semua seperti janjian keluar rumah bareng, akhirnya jalananpun penuh ruah oleh kendaraan.

Setelah berjalan sekitar tiga perempat jam, tibalah di perempatan Pos Pengumben.

Saat itu saya telah pindah naik Mikrolet 09. Dari jarak yang cukup jelas saya melihat seorang polisi terus mengatur lalu lintas, namun yang menerobos jalur busway ya dibiarkan saja, ada mobil yang berbelok ke arah kanan yang belum waktunya ya didiamkan saja juga. Di dekatnya mikrolet berhenti ‘ngetem menunggu penumpang di area bertanda S juga didiamkan saja. Motor-motor berhenti di melewati garis batas juga tak digubris. Tak lama lewat motor yang dikendarai oleh seorang bapak-bapak. Sambil berteriak si bapak itu memanggil nama si polisi. Pak polisi pun menengok membalas sapaannya. Nah padahal si pengendara motor itu tanpa helm, melewati garis batas lampu lalu lintas, dan knalpotnya memekakkan telinga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s