Sebuah Ziarah Bernama Konser 30 Tahun Slank

anyer-sepuluh-maret-00

Foto oleh Dhendy Junaedy (@dhendyjunaedy)

Tiba-tiba lampu sorot panggung ribuan volt itu meredup, saya yang duduk di tribun kiri susah payah melihat ke arah panggung, di kejauhan samar terlihat sesosok tubuh berkaos logo BIP hijau muncul di atas panggung yang ditinggal kosong, hanya ada Kaka di sana, vokalis Slank yang semenjak sejam lebih yang lalu terus bergerak atraktif menguasai panggung. Terdengar teriakan histeris dari arah tribun, meneriakan nama, “Indraaa!” Teriakan yang mengundang penonton untuk mulai berdiri. Rasa penasaran itu tak berlangsung lama, satu nada dari chord terdengarkan, suara piano artificial yang muncul dari keyboard, cukup satu nada identik itu dan penonton berteriak histeris, Anyer Sepuluh Maret pun berkumandang!

PECAH!!

anyer-sepuluh-maret-01

Foto oleh Dhendy Junaedy (@dhendyjunaedy)

Koor masal yang telah dimulai semenjak lagu pertama semakin membahana, sebagian penonton di tribun telah berdiri. Ratusan nyala pematik api berpendar di seluruh stadion Gelora Bung Karno, menciptakan teror magis yang menyesak memanggil selaksa kenangan. Saya yakin ribuan penonton malam itu, yang datang dengan tampilan sangar sekalipun akan menatap nanar dengan mata yang memanas. Gelora Bung Karno tetap terbiarkan menggulita, semua mata menatap ke arah panggung yang dipenuhi nuansa biru. Kaka dan Indra Qadarsih berdiri di sana! Sound yang sepanjang pertunjukkan terdengar seperti menggulung, menjadi lebih jernih dan jelas karena hanya ada vokal dan suara “piano” saja.

Semua turut hanyut, juga polisi berseragam yang sedang bertugas dan duduk di depan saya, sesekali dengan mata terpejam mulutnya tak lepas turut mengumandangkan lagu. Anyer Sepuluh Maret. Momen itu resmi mendaulatkan diri menjadi salah satu puncak terbaik pertunjukkan Jumat malam itu.

Foto oleh Dhendy Junaedy (@dhendyjunaedy)

Foto oleh Dhendy Junaedy (@dhendyjunaedy)

Malam itu, Slank dengan umatnya secara khusuk melakukan ritual. Gelora Bung Karno dipilih menjadi tempat suci, karena Jl. Potlot tak akan mampu menampung ritual itu. Ayat-ayat lagu tak putus dikumandangkan dalam koor massal yang menggetarkan. Hujan deras yang mengguyur di tengah perjalanan ritual tak mampu menyurutkan para penonton untuk pulang, mereka tetap mengikuti acara, merapat ke bibir panggung, sebagian coba berlindung ke tribun yang dibuka. Mobil pemadam kebakaran yang disiapkan untuk menyiram penonton untuk memberi kesejukan praktis bergaji buta, hujan telah menggantikan peran mereka.

Sebuah ziarah telah bergulir, praktek ziarah yang terbungkus dalam balutan Konser 30 Tahun Slank. Tiga puluh tahun sungguh bukan angka yang main-main untuk sebuah band, terlebih produktivitas tak pernah surut di dalam langkah perjalanannya. Sebuah angka yang layak dirayakan, layak untuk ditorehkan menjadi catu kenangan.

Tiga puluh tahun durasi waktu sudah pasti melahirkan pilahan, bukan hanya Slankers namun juga untuk para personil Slank. Pilahan-pilahan itu mengambil peran miliknya sebagai para peziarah, namun yang pasti sama adalah masing-masing benak mereka liar mengembara menyusuri bait-bait kenangan, mengingat kembali masing-masing momen yang melekat di ayat lagu yang ada, mengingat kembali panjangnya perjalanan yang telah terlewati, menghadirkan cermin besar yang memberikan refleksi.

Sebagai salah satu bentuk refleksi, entah siapa yang punya ide “slenge’an” menghadirkan sound ‘harmonika’ bukan lewat permainan harmonika asli yang dibunyikan Kaka pada lagu Terlalu Manis, namun memilih untuk menggunakan sound keyboard Korg T3 yang dimainkan oleh Indra Q, persis seperti format asli lagu Terlalu Manis itu. Sebuah pilihan cerdas, karena selain menghisap tuntas ke bait kenangan kemunculan lagu tersebut pilihan itu juga menegaskan titik-titik awal kualitas, kemampuan serta kreativitas yang pernah mereka miliki, dan mereka pernah bersama berada di titik itu.

slank-30

Ziarah ini semestinya dapat menyucikan, mengkalibrasi kembali arah yang dituju. Ziarah ini juga dapat menjadi semacam peneguhan atas pilihan yang telah terjalankan, Slank hadir untuk senantiasa melakukan perubahan, menerobos batas-batas kebuntuan, sebuah semangat yang telah melekat dengan momen kelahiran mereka di musik Indonesia.

Buat Slank dan old-brother Slank, selamat merayakan tiga dekade dalam berkarya, dan selamat menyambut dekade berikutnya!

* * *

  • Tumbuh bersama Kirim Aku Bunga dan Reaksi (malam itu berdoa keras agar kedua lagu itu dibawakan namun tak terkabulkan)
  • Foto-foto biru Anyer Sepuluh Maret milik Dhendy Junaedy (@dhendyjunaedy)
  • Video konser milik FetBoy Slim 

7 thoughts on “Sebuah Ziarah Bernama Konser 30 Tahun Slank

  1. wah saya baru baca ini, nyesel dulu waktu masih formasi asli saya ga sempet nonton, ngiri sama adik saya yg sempet menyaksikan formasi 13 yang menurut saya paling dahsyat dan original Slank-nya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s