AMERINDO IDOL 02

juri-idol

Momen audisi American Idol adalah momen yang berusaha untuk tidak dilewatkan. Indonesia Idol pun juga begitu, walau lebih banyak yang terlewat karena mesti menyediakan waktu khusus menonton via YouTube. Mengapa menonton di YouTube, sebab untuk menonton RCTI saya mesti pasang antena terlebih dahulu. Biasanya saya mengikuti bagian audisi awal, lalu berhenti menonton pada saat masuk audisi kedua, dan sesekali menonton kembali pada saat panggung besar.

Komposisi juri American Idol kembali berubah. Sebelumnya sempat memiliki ekspektasi besar saat Mariah Carey menjadi juri, namun nyatanya bergulir begitu aja, Si Tante Mariah jauh lebih tepat menjadi penyanyi saja ketimbang juri. Sedang Simon Cowell sendiri memang tak tergantikan, komentar sinis nylekit namun cerdas tetap dirindukan hingga saat ini.

Komposisi juri American Idol saat ini adalah Keith Urban, Harry Connick Jr. and Jennifer Lopez, ini adalah komposisi juri favorit saya. Keith Urban awalnya hanya mengetahui tak lebih dari posisinya sebagai suami Nicole Kidman, namun begitu menelusuri catatan perjalanan karirnya, wow… seorang penyanyi country yang pernah diganjar oleh penghargaan Grammy, memiliki album dengan pencapaian platinum dan merajai chart lagu semisal Billboard. Hebatnya lagi, Urban adalah orang Australia kelahiran Selandia Baru. Bayangkan, seorang warga Australia berhasil merajai pusat industri country dunia, yakni Amerika Serikat.

Lalu Jennifer Lopez, adakah yang meragukan prestasi yang telah diraihnya di dunia hiburan? J.Lo adalah perlambang kerja keras serta ketekunan luar biasa dalam meniti karir. Tutur kata serta pilihan kata yang sopan, baik serta penuh empati adalah kelebihan yang dimiliki, yang secara langsung sebenarnya memberikan ajaran nyata bagi para peserta American Idol dalam bertingkah laku di industri hiburan. Lepas dari prestasi yang telah ditorehkan, melihat J.Lo adalah arti nyata dari kata “bersinar gemerlap”, ah entah rahasia apa yang ditirakatkannya hingga dapat tampil sedemikian gemerlapnya di umur yang telah melewati 40 tahun. Bersanding duduk di meja juri dengan J.Lo sudah tentu sebuah kondisi yang menjadi wajar bila seluruh perhatian terhisap penuh bukan ke arah juri-juri lain.

Kemudian Harry Connick Jr., total ia telah menjual 28 juta album di seluruh dunia, meraih 3 penghargaan Grammy, memiliki tujuh album yang masuk Top 20 album di Amerika Serikat, dan memiliki sepuluh nomor 1 jazz album di Amerika Serikat. Dalam sejarah teritori musik jazz ia adalah pemusik jazz yang paling produktif dalam menghasilkan album nomor satu dibanding seniman jazz lainnya. Dalam kancah seni peran pun prestasinya tak main-main, ia pernah meraih 2 penghargaan Emmy. Keikutsertaannya di American Idol sesungguhnya bukan yang pertama, karena sebelumnya ia telah dua kali diundang menjadi mentor para finalis. Pada satu episode audisi, ketidaktahuan para peserta atas Harry Connick dikemas menjadi sajian humor yang menghibur terlebih bila disandingkan dengan J.Lo yang begitu kemilau.

Hal menarik dari komposisi juri American Idol ini adalah ungkapan-ungkapan cerdas yang senantiasa runut hadir dalam menanggapi para peserta audisi. Semua terfokus kepada kualitas menyanyi, kualitas bagaimana pertunjukkan dipertontonkan. Berkali-kali apresiasi tulus terdengar mengayakan dan membangun. Sepanjang proses audisi minim akan drama, jauh dari gosip ala infotainment, dan jelas terlihat pengetahuan teknis serta teori mereka dalam bermusik juga berada dalam tataran di atas rata-rata.

Lalu bagaimana dengan Indonesian Idol, ah rasa miris harus berkali-kali meruak. Ahmad Dhani sebagai produser dan musisi sarat prestasi sudah tentu sangat pantas untuk diberikan angkat topi. Pengetahuan seputar musik dan ungkapan-ungkapan cerdasnya lengkap dengan visi dalam melihat seorang peserta audisi juga berkali-kali menyegarkan. Titi DJ dan Indra Lesmana, tidak ada keraguan juga untuk tanggapan dan prestasi yang dimiliki. Namun nama-nama baru di barisan tim juri sepertinya harus dikaji ulang, karena walau saat ini prestasi mereka sedang berkibar namun secara usia dan jam terbang masih teramat minim. Kemudian Anang, hmm hingga saat ini masih terus mencari tau, dalih apa yang melatarbelakangi pilihan Indonesia Idol untuk menempatkan dirinya di barisan juri. Saya kehabisan kata…

Lalu hal apa yang membuat miris?
Bagi saya, ajang Indonesia Idol terlalu banyak drama, dan yang lebih menyebalkan adalah berkali-kali sulit dibedakan dengan acara infotainment, celetukan yang terdengar berkisar seputar gosip kehidupan rumah tangga, cela-celaan yang terbangun bukan berangkat dari obyektif ajang mencari penyanyi berbakat, penolakan atas peserta audisi didominasi oleh subyektivitas yang tak mampu dijelaskan berdasarkan pengetahuan bermusik, memang tak harus penjelasan berlatar teoritis akademis namun semestinya jam terbang di dunia musik sudah cukup untuk menjadi acuan dalam menyusun narasi penolakan.

Sinisme yang terbangun selama ini terhadap ajang-ajang pencarian bakat sejenis akhirnya semakin terkuatkan bila tim juri tidak mampu mengangkat kualitas penilaian mereka, karena kesempatan untuk memperbaiki industri musik sesungguhnya tetap terbuka lebar lewat ajang-ajang sejenis.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s