Brama Kumbara Lawan Ki Jara

saursepuh

Brama Kumbara segera mengatur nafas sambil merapal mantra. Kedua lengannya berdenyut keras, benturan demi benturan tangan kosong namun penuh tenaga dalam telah menguras tenaganya.

Sedang lawannya Ki Jara pun tak jauh beda. Nafas memburu masih terdengar jelas, kuda-kuda dalam posisi setengah duduk telah dikukuhkan, dada kirinya berdenyut membiru, satu pukulan telak tak sanggup dielakkan, masih untung sepersekian detik kepalan tangan Brama sebelum menyentuh dada telah sedikit terpudarkan dengan sapuan menangkis dengan mengerahkan lebih dari setengah tenaga dalam yang dimilikinya.

Dua sosok digjaya tersebut masih bersiap. Nafas memburu mulai tertata. Tak lagi sesak tersengal.

Semestinya menghunus senjata menjadi urutan selanjutnya dalam duel, namun saling takar kekuatan yang mereka lakukan akhirnya keduanya memilih untuk langsung melakukan adu ajian kanuragan.

Serangkum ajian kanuragan sempurna dimiliki oleh Brama Kumbara. Raja Madangkara tersebut giat mengolah jiwa, berguru menempa diri kepada beragam guru. Namun kesempurnaan penempaan dirinya memuncak saat memberikan jiwanya untuk menjadi murid Eyang Astagina. Kini larik nafas, kuda-kuda dan rapal mantra Ajian Serat Jiwa telah dimulai.

Ajian Serat Jiwa adalah ajian maha dahsyat yang sanggup menghancurkan musuh hingga berupa debu dalam beberapa detik saja. Ajian tersebut diciptakan oleh Eyang Astagina dan diturunkan ke Brama, memiliki 10 tingkatan dan Brama menguasai tingkatan ke sepuluh itu. Di dunia persilatan hanya Eyang Astagina dan Brama Kumbara yang memiliki Ajian Serat Jiwa dalam kategori sempurna. Adiknya, Mantili Si Pedang Setan hanya sanggup meraih tingkat ke enam. Sedang suami Mantili yang juga patih Madangkara menguasai hingga tingkat ke delapan.

Ki Jara juga bersiap. Sesungguhnya Brama buta dengan kekuatan yang dimiliki Ki Jara. Ki Jara adalah sebuah nama asing yang tak terdengar di dunia persilatan. Tiba-tiba nama tersebut menyeruak ke permukaan. Kekacauan yang ditimbulkan oleh Ki Jara dengan memporakporandakan goa di Pantai Selatan yang menjadi pesanggrahan keramat tempat gurunya dimakamkan telah menyulut puncak amarahnya. Brama pun turun tangan, menyamar menjadi rakyat jelata memburu Ki Jara yang didampingi oleh Lugina.

Hawa panas menjalar cepat. Pusaran angin tercipta dari sekeliling tubuh Brama, pusaran tersebut tercipta sebagai bentuk pengembangan Ajian Bayu Bajra yang dipadu dengan Serat Jiwa. Ajian Bayu Bajra sanggup melipatgandakan kekuatan Ajian Serat Jiwa. Bagai badai yang berputar memusat, menciptakan gemuruh dan meruntuhkan ranting dan dahan di sekitar Brama berdiri.

Sedang Ki Jara tak kalah sempurna. Kaki kanannya menekuk sedang lutut kirinya menyentuh tanah. Kedua tangannya mengepal. Matanya terpejam merapal mantra. Tubuh itu bergetar hebat, kulit yang terbuka di sela baju terlihat mengelam, daya penuh tenaga telah berkumpul siap untuk dilepaskan. Perlahan kedua mata Ki Jara membuka, menatap tajam ke arah Brama. Lalu kedua tangannya mengembang, sepersekian detik kemudian tubuh itu melesat tinggi ke angkasa menciptakan sinar panas maha dasyat kebiruan di seluruh tubuh Ki Jara.

Brama sedikit terhenyak namun konsentrasinya segera pulih, saat tubuh berselaput ajian maha sakti, kesadaran tak lagi dapat dimiliki sepenuhnya, tubuh dapat bergerak sendiri tanpa kendali, menyerang secara penuh ke lawan yang dituju. Dalam satu tarikan nafas, tiba-tiba tubuh Ki Jara yang mengambang di angkasa menyeruak turun memburu, dalam kecepatan laksana kilat tubuh laki-laki bergerak penuh tenaga. Kedua tangan yang mengembang telah merubah gerak menjadi cengkeraman yang menakutkan.

Tanah bergetar, satu pohon tumbang tak kuasa menahan dasyatnya hawa pertempuran.

Menghadapi Ajian Serat Jiwa biasanya sang lawan berusaha menghindar dari sentuhan pemiliknya. Karena sedikit sentuhan yang tercipta segera mengubah lawan menjadi serbuk abu. Ki Jara pasti mengetahui itu, Ki Jara pasti mengetahui Brama pemilik Ajian Serat Jiwa tingkat sempurna, namun ia malah memilih menyerang langsung ke arah Brama dengan ajian yang baru saja ia sempurnakan, Ajian Waringin Sunsang.

Brama bersiap menahan gempuran, Ajian Bayu Bajra yang dilepas mengawali Serat Jiwa telah pudar terhempas kerasnya Waringin Sunsang. Serat Jiwa siap menghanguskan. Tubuh Brama telah membara, siap membakar siapa saja yang mendekat apalagi menyentuhnya. Kedua tangannya membentuk perisai, hawa panas kian menyebar. Tanah yang dipijak telah menghitam.

Sebuah teriakan dahsyat yang tak ubahnya sebuah raungan mengawali benturan, itu suara Ki Jara!

DAAAASSSSSTTTT….!!!

Benturan maha dahsyat tercipta diiringi gemuruh yang menerbangkan benda apapun dalam radius depa. Dua tubuh digjaya tersebut terpental sekian depa, menghempas, luruh…

* * *

Gilè cerita sandiwara radio Saur Sepuh karya Niki Kosasih sekitar seperempat abad lalu masih dengan mudah untuk ta’ tuliskan kembali!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s