Lima Belas Ribu Diparuh Dua

karrimor

Bicara awet-awetan merawat barang saya berani bertaruh kalau saya salah satu yang memiliki kompetensi itu. Terlebih bila barang yang terus-menerus berusaha tetap awet itu nyaman untuk digunakan. Contoh kongkritnya sepatu gunung merk Karimor yang saya kenakan sehari-hari. Hitung punya hitung sepatu itu kini memasuki usia tahun ketujuh. Beberapa bagian memang telah terlepas, terutama elemen plastik yang dulu menempel di beberapa bagian, bahkan tali sepatu asli sudah diganti karena putus dimakan usia. Guna menguatkan, beberapa tahun yang lalu sudah saya jahit keliling di bagian bawah, dari tengah keliling ke depan. Nah, karena dari tengah keliling ke belakangnya tidak dijahit akhirnya jebol juga. Dua-duanya terlepas di bagian tumit .

Hari Minggu di akhir Februari lalu, dalam bagian aktivitas rutin mengunjungi orang tua plus sekalian cukur rambut yang sudah mulai tak beraturan, saya menuju Pasar Gandul. Pasar kecil ini sudah teramat berubah, terutama jalan di depannya yang semakin ramai luar biasa, untuk menyebrang jalan yang tak terlalu lebar itu kini butuh kehati-hatian ekstra tinggi. Dulu, saat berpindah di tahun 1987, pasar dan area kelurahan Gandul ini amatlah sepi, selepas magrib sudah seperti kota mati. Sedang angkutan umum yang mencapai daerah itu hanyalah angkutan umum tua merk Suzuki yang kerap disebut KAB Doyok.

Balik lagi ke soal sepatu. Pukul lima sore telah terlewat, agak mendung hingga Magrib terlihat hadir lebih awal.

Ternyata bila akhir pekan, berderetlah tukang sol sepatu di sekitar Pasar Gandul. Setidaknya saya menemui 4 tukang sol sepatu. Setelah menyebrang jalan akhirnya saya memutuskan memilih tukang sol sepatu yang paling dekat dengan tukang cukur langganan. Rasa tidak enak sempat menyergap karena harus memilih satu di antara dua tukang sol yang duduk mangkal berdampingan. Mau tidak mau ya harus memilih salah satu.

Sepatu saya sodorkan, diterima lalu dihitung biayanya.

“Lima belas ribu”, kata Pak Sol Sepatu. Saya tidak menawar, langsung mengiyakan saja. Harga yang saya anggap murah karena selain biaya itu untuk dua sepatu, nilainya juga jauh sekali bila dibandingkan kita mereparasi di tempat yang punya nama.

Nah, momen berikutnya lah yang membuat saya terhenyak. Si Pak Sol Sepatu yang saya berikan order itu tiba-tiba memanggil Pak Sol Sepatu yang satunya yang duduk tak jauh dari tempat kami bertransaksi. Setelah memanggil namanya ia berkata, “Nih satu-satu. Kita kerjain bareng aja biar cepet.”

Wuih!

Ah saya yakin tak besar juga pendapatan yang diperoleh oleh Si Bapak Sol Sepatu, namun nyatanya tak membuatnya tamak dan tetap memilih untuk berbagi dengan teman seprofesi.

 

 

4 thoughts on “Lima Belas Ribu Diparuh Dua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s