Pawon-Simbah

Pawon adalah dapur dalam bahasa Jawa. Biasa terletak di bagian belakang rumah tradisional Jawa, tempat kegiatan masak-memasak berlangsung sehari-hari. Saat listrik belum merambah desa-desa, pawon di siang hari tetap hadir dengan gelap yang temaram, apalagi di malam hari, gelap memekat hanya berteman lampu tintir (lampu yang terbuat dari kaleng susu cair untuk menyimpan minyak tanah dan sumbu yang menggantung), atau juga lampu templok. Bagi sebagian yang lebih mampu lampu petromaks menjadi pilihan untuk memerankan pelita. Sebuah pawon tak mesti terhias oleh atribut khusus, biasanya ruang tersebut sudah “terhias” dengan alat-alat masak yang digantung di dinding, dari yang berbahan dasar kayu, tanah liat hingga alumunium berkualitas murah. Namun yang pasti, tungku batu berbahan bakar kayu mutlak harus hadir di tempat bernama pawon tersebut.

Rumah Simbah saya berada di daerah pegunungan Sewu yang membentang antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rumah tersebut sarat dengan cerita dan kenangan masa kecil, begitupun dengan Pawon yang dimilikinya. Pawon tersebut selalu mempunyai tempat istimewa di relung hati. Seperti halnya pawon-pawon lain, tidak istimewa, sama-sama gelap dan penuh abu dan debu. Belum lagi jelaga hasil asap pembakaran yang menempel di langit-langit dan dinding. Hawa yang cenderung pengap selalu menggayut, dinding gedeg beranyam bambu cukup membantu membuat sirkulasi udara bergerak mengurangi sesaknya hawa.

Rutin pagi yang selalu terekam jelas di benak adalah hawa dingin pegunungan yang menusuk hingga bergerak untuk duduk mendekat serta merapat ke arah tungku batu, mencoba mencari hawa panas hasil bakaran kayu. Tangan terulur mengarah ke nyala api, membiarkan panas menjalar meluruhkan dingin yang membalur. Gemeretak bunyi api yang membakar kayu berbaur dengan bunyi aktivitas bahan termasak di atas tungku. Wangi makanan menelusup, membaur di antara asap yang membumbung.

Sekian batang singkong lengkap dengan kulitnya biasa diletakan di dalam kobaran tungku, turut terbakar di antara kayu yang tengah menyala. Tak butuh waktu lama singkong bakar tersebut akan masak. lalu dapat diangkat dari sela bara. Batang singkong matang tersebut menjadi rekah, wangi pun meretas. Kulit singkong dengan mudah mengelupas, siap disantap menjadi sarapan pagi. Dan segelas teh manis panas pekat tak pernah lupa menemani, begitupun gula batu di dalam toples kusam yang diletakkan di samping teko alumunium, selalu bersedia memberikan tambahan rasa bagi mereka yang berselera lebih atas rasa manis.

Pagi yang lengkap, dingin yang perlahan sirna, berkawal singkong bakar juga teh manis yang kental pekat, juga obrolan hangat berbahasa Jawa yang dengan susah payah coba saya cerna. Ah saya rindu dengan itu semua.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.