SastrajendrAvengers

04-SastraJendrAvengers

 
Menciptakan perdamaian dunia pasti mimpi terbesar yang ingin dicapai oleh umat manusia. Pesan itu pula yang coba dibagikan di mega film Avengers: Age of Ultron. Ide tersebut diucapkan pertama kali oleh Tony Stark alias Iron Man. Ia membayangkan sebuah dunia yang damai dan dijaga oleh sebuah sistem yang diciptakan. Sistem tersebut nantinya akan memiliki satu pasukan maha canggih, dengan kecerdasan buatan yang maha dahsyat, termasuk dapat melakukan perhitungan logaritma super ‘njlimet untuk memprediksi keamanan yang bermuara pada perdamaian dunia. Hingga para Avenger dapat memiliki kesempatan yang sama dengan manusia lain untuk beraktivitas normal dalam keseharian dan dapat menikmati kehidupan.

Sepertinya terdengar sangat ideal dan menjanjikan. Namun, Ultron sendiri sebagai hasil dari sistem canggih yang berhasil diciptakan malah merasa janggal. Ia mempertanyakan mengapa manusia menempatkan keteraturan (order) dan kekacauan (chaos) untuk saling bertentangan, bahkan sampai harus dikendalikan sedemikian rupa dengan cara menghilangkan chaos sepenuhnya.

Pernahkah mendengar Sastra Jendra?

Sastra Jendra, atau lengkapnya Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, secara epistemologis disebut sebagai ilmu pengetahuan batin (spiritual) sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup, meliputi ajaran tentang ketuhanan, alam semestra, manusia, dan kesempurnaan. Sastra Jendra sendiri identik dengan budaya Jawa dan lakon pewayangan yang terdapat di dalam kisah Ramayana dengan tokoh utama Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Singkat cerita, Dewata tidak ingin rahasia ilmu suci itu terbuka, mereka urun tangan untuk menggagalkan dan akhirnya Dewi Sukesi yang awalnya hanya berniat untuk mempelajari ilmu tersebut justru harus menikah dengan Begawan Wisrawa, dari pernikahan tersebut lahirlah Rahwana. Dan, epos Ramayana menuturkan bahwa selain Begawan Wisrawa adalah Rahwana yang sanggup menguasai secara sempurna Sastra Jendra. Sosok raksasa yang memiliki karakter sarat angkara murka justru menguasai ilmu maha tinggi tersebut.

Di dalam Sastra Jendra diajarkan tak ada lagi baik dan buruk karena keduanya saling melengkapi. Kita dapat dengan mudah mengutuk sampah yang mengotori sungai, namun di sisi lain ada manusia yang mengais hidupnya lewat sampah-sampah tersebut. Kita mengutuk penyakit-penyakit yang hingga hari ini belum juga terpecahkan penawarnya namun karena itu kehidupan bergulir, peneliti dapat terus bekerja mencari obat penawar, dokter-perawat-rumah sakit dapat melanjutkan aktivitas profesinya, pabrik vitamin dan obat-obatan dapat terus berproduksi memberi pendapatan untuk buruhnya. Di dalam perang yang sangat biadab terbuka kesempatan untuk manusia lain saling menolong, memberikan sebagian hartanya, ada buruh-buruh pabrik senjata yang dapat menyekolahkan anaknya, ada kantor berita yang harus meliput terus-menerus, ada sastrawan yang menghasilkan karya-karya sastra seputar jahatnya perang. Berabad-abad kita menggunakan kertas untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, di sisi yang lain pohon-pohon di hutan kita tebang sebagai bahan bakunya. Di dalam dunia Avengers, bila Loki, Ultron, Thanos tidak ada maka Avengers pun tidak akan pernah muncul

Kembali kepada rasa janggal yang hinggap di pikiran Ultron, nyatanya keteraturan dan kekacauan tidaklah dapat dipisahkan, ia adalah paradoks dan pertentangan yang mengisi kehidupan. Menghilangkan salah-satunya tidak akan membuat kehidupan berjalan, karena kesengsaraan, rasa putus asa, kesulitan hidup, akan membuat manusia senantiasa berharap dan berupaya agar mencapai kedamaian, dengan itulah kehidupan dapat terus berjalan.

* * *

Daftar Pustaka

Sunyoto, Agus. (2012). Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Yogyakarta: Pustaka Sastra LKiS.

Nonton Pendekar Tongkat Emas Hari Pertama

PTE

Musik yang megah.
Kain Sumba yang eksotis.
Tempo yang cenderung lambat.
Bahasa Indonesia yang mendapatkan tempat selayaknya.
Sumba yang tak henti mengundang decak kagum dan memuaskan mata.

Konon ada rumus yang dianut oleh film-film besar dunia, bila dalam 3-5 menit pertama tidak sanggup mengundang decak kagum penontonnya maka film tersebut akan gagal. Tidak berhenti di situ, rumus tersebut masih berlanjut, yakni berikan kejutan-kejutan terus-menerus dalam 5-7 menit berikutnya, tujuannya satu untuk membuat penonton tetap bertahan, tertarik menyaksikan hingga akhir film. Alam Sumba nan memuaskan mata adalah formula yang digunakan dalam kejutan-kejutan tersebut, dan formula tersebut diadopsi dengan sangat baik oleh film Pendekar Tongkat Emas. Sumba benar-benar berhasil disajikan dengan luar biasa.

Tak hanya alamnya, kain Sumba juga mendapat porsi yang besar untuk unjuk diri, indah! Musik pun juga begitu, dalam detail suara yang tersaji, selalu dapat ditemui elemen Sumba yang tidak uzum terdengar dalam kaidah musik arus utama. Entah itu suara alat musik ataupun olah vokal melengking yang membuat merinding.

Acungan jempol tertinggi justru saya berikan di penyajian Bahasa Indonesia. Yap, Bahasa Indonesia mendapat porsi selayaknya, ternyata dapat hadir dengan baik dan benar, dan baik-baik saja. Entah kapan terakhir kali melihat film Indonesia yang hadir dalam olah dialog tanpa bahasa 4L4y ataupun keminggris =)

“Gangguan” yang terasa hanya pada tempo yang cenderung lambat, dan bagi mereka yang menekuni silat pasti tetap akan menemukan ketidaksreg-kan dalam gerakan-gerakan. Tetap sulit untuk ditutupi kalau yang melakukan bukan pendekar yang telah mempelajari silat bertahun-tahun. Terutama pada saat Elang dan Dara memainkan jurus bersama, semestinya hadir lebih sempurna, lebih selaras dalam gerakan.

Lepas dari itu,
mengejar ‘nonton di hari pertama tetaplah layak untuk dilakukan dan didapatkan.

Selamat untuk para pekerja penggarap film ini!

\m/

Superman Classic

Ternyata ada proyek senang-senang yang digarap dengan serius, menganimasikan tokoh Superman dalam bingkai animasi klasik. Dikerjakan soliter oleh Robb Pratt, animator jebolan Walt Disney Animation Studios, pernah terlibat di proyek Pocahontas, Hercules, Tarzan, Fantasia 2000, Kim Possible, Mickey Mouse Clubhouse.

Durasi animasi pendek ini hanya sepanjang dua menit, diawali dengan judul film dengan menggunakan logo Superman dan tulisan “Classic” menggunakan pilihan huruf ramping bergaya Art Deco, era tahun 1930, tahun kelahiran ikon kultural Amerika, Superman. Lalu visual bergulir menampilkan gedung Daily Planet di Metropolis, saat ‘kamera’ meluncur ke bawah muncul tokoh Clark Kent dan Lois Lane.

Film ini menggunakan musik yang digarap oleh Mischa Bakaleinikoff (Михаил Романович Бакалейников), music director, konduktor, komposer film kelahiran Moscow (1890-1960). Musik tersebut digunakan di film Atom Man vs. Superman (1950).

Hal lain yang menarik di film ini adalah pengisi suara dari Clark Kent/Superman, yakni diisi oleh John Haymes Newton, aktor yang memerankan serial TV Superboy (1988) di musim pertama. John Haymes Newton dipecat dari serial tersebut karena melanggar klausal kontrak, mengemudikan mobil dalam pengaruh zat terlarang.

Setelah Superman Classic, Robb Pratt melanjutkan ke proyek berikutnya, Superman Classic: Bizzaro.

Nonton Wayang (03)

130109-nini-brayut

Di desa tempat almarhum simbah saya tinggal, dulu ada seorang dalang. Dalang turun temurun, Warno namanya. Selain mendalang dan membuat wayang, kesehariannya ya sebagai petani ladang, karena tidak pasti tiap minggu bakal naik pentas. Tiga tahun yang lalu saat saya berkunjung ke desa kecil itu sudah berniat untuk melakukan riset kecil-kecilan, niat untuk ‘ngobrol ngalor-ngidul seputar wayang, terlebih tatahan wayang yang ia hasilkan relatif halus, dengan pewarnaan yang juga rapi. Namun rencana tinggal rencana, beberapa waktu sebelumnya ajal sudah lebih dahulu menjemput, kandas sudah rencana untuk ‘belajar’.

Saat masih di sekolah dasar dan juga sedang berlibur di rumah simbah saya, satu kali saya pernah gagal menonton pertunjukkan wayang, kali itu dalang yang akan pentas bukan dalang Warno. Gagal menonton itu semakin membuat penasaran karena semenjak beberapa hari sebelumnya desa kecil di pegunungan Sewu tersebut sudah ramai memperbicangkan pentas wayang kulit yang akan membawakan wayang keramat Kyai Brayut dan Nyai Brayut. Aroma mistis langsung menyeruak, konon tidak sembarang dalang mampu membawakan dua wayang tersebut. Pentas itu sendiri akan berlangsung di desa tetangga, sekian kilometer mesti ditempuh, tak ada aspal, yang ada adalah batu kapur yang dipecahkan lalu ditata menjadi jalan. Desa tetangga itu sendiri berada di balik pegunungan di sisi telaga yang kini telah kering menjadi ladang.

Pas malam pentas tiba, hujan badai melanda, turun deras tak terkira. Saya tak jadi keluar rumah, hanya sanyup terdengar dari kejauhan suara gending membelah malam. Obrolan malam itu akhirnya dipenuhi dengan saling menghubungkan ini-itu, mengapa sampai turun hujan deras di saat pentas berlangsung, aroma mistis dan klenik menyeruak menjadi bumbu bahasan.

Kyai Brayut dan Nyai Brayut sendiri menurut Eksiklopedi Wayang Indonesia merupakan figur peraga wayang kulit berupa tokoh perempuan menggendong dan menuntun anaknya, serta tokoh laki-laki memikul beberapa anaknya di dalam keranjang yang dibawa. Si perempuan disebut Nyai Brayut, yang laki-laki disebut Kyai Brayut. Wayang Kyai Brayut dan Nyai Brayut ini digunakan untuk upacara ritual peringatan tujuh bulan orang mengandung (mitoni, tingkeban, atau tujuh bulanan), dengan harapan dapat mempunyai keturunan dan bayi yang dikandung dapat lahir dengan selamat. Menurut kepercayaan tradisi lama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, peraga wayang tokoh Brayut akan mempunyai kekuatan magis yang berpengaruh baik bagi wanita yang mengandung, jika penatahnya seorang jejaka yang belum dikhitan. Itulah sebabnya peraga wayang Brayut kebanyakan bukan wayang yang ditatah dan disungging dengan kualitas seni yang tinggi.

Akhirnya saya kehilangan kesempatan untuk melihat wayang ‘keramat’ itu, dan hingga hari ini belum pernah sekalipun melihat bentuk aslinya, apalagi menyaksikan pada saat dipentaskan.

Bagi saya pentas wayang kulit adalah sebuah pentas yang tak pernah sepenuhnya saya pahami baik bahasa apalagi cerita yang dibawakannya, dahulu itu simbah kakung saya pasti “terganggu” bila menonton wayang kulit bersama saya, terpaksa harus meladeni anak kecil yang sepanjang waktu terus bertanya ini-itu bermakna apa. Nuansa keriaan yang terciptalah yang membawa diri ini selalu berkeinginan untuk menikmatinya lagi. Hingga kini masih tak terbayang betapa ramainya suasana seperti yang pernah bapak saya ceritakan saat beliau masih muda dulu, di daerahnya pernah digelar wayang kulit 7 malam berturut-turut membawakan lakon perang Bharatayudha yang menurut pakem ceritanya berlangsung selama 14 hari. Bayangkan betapa riuh dan mistisnya suasana 7 malam itu, dipenuhi lakon perang ‘bersimbah darah’ Kurusetra.

Baca bagian pertama:
https://widhyatmoko.wordpress.com/2013/01/07/nonton-wayang-01/

Baca bagian kedua:
https://widhyatmoko.wordpress.com/2013/01/08/nonton-wayang-02/

Foto:
Eksiklopedi Wayang Indonesia

Nonton Wayang (02)

130106-wajang-koelit

Dalang pun bersiap. Saat kecil dahulu, saya sangat penasaran dengan bentuk cempolo dan keprak/kecrek. Cempolo adalah kayu kecil yang digenggam oleh tangan kiri dalang yang dipukulkan ke kotak wayang. Bunyi yang dihasilkan disebut dodogan. Kombinasi suara yang dihasilkan fungsinya tak jauh beda dengan arahan dirigen di satu orkestra. Dia dapat memulai iringan musik, memelankan tempo hingga menghentikan. Fungsi lainnya adalah sebagai jeda dialog antar tokoh wayang. Sedang keprak/kecrek adalah lempengan logam yang tergantung pada kotak wayang, bunyi yang dihasilkan berasal dari tendangan kaki kanan dalang. Fungsinya untuk menguatkan karakter serta suasana lakon yang sedang dimainkan.

Bayangkan multiaksi yang harus dilakukan oleh seorang dalang. Duduk bersila selama kurang lebih delapan jam, suara melantukan suluk dan tembang, berdialog sendiri menyuarakan para wayangnya, tangan memainkan wayang juga memainkan cempolo, kaki menendang keprak. Belum lagi skenario cerita yang harus disusun, terbagi dalam durasi waktu yang panjang. Sungguh, dalang adalah profesi luar biasa.

Sujiwo Tejo lewat tweet-nya pernah berkisah, zaman dahulu, seorang dalang akan hilang wibawanya bila malam saat ia pentas lalu terjadi kemalingan lantas sang dalang tidak dapat mengetahui siapa malingnya. Dalam tweet-nya juga diceritakan, pentas di satu daerah itu harus ada misi-misi-nya, permisi ke dalang setempat. Bila tidak, semalaman sepanjang pentas ada saja kejadian yang bakal terjadi, dari wayang yang tiba-tiba menjadi sangat berat hingga kantuk yang hadir luar biasa.

Seperti halnya para groupies yang kini dimiliki oleh para musisi, dalang pun memiliki penggemar garis keras. Kemanapun sang dalang pentas, para penggemar tersebut akan hadir menemani. Apalagi untuk dalang-dalang kelas satu, kadang  sang dalang malah mengabsen terlebih dahulu para penggemarnya. Salah satu dalang kelas satu Indonesia itu ada yang memiliki penggemar yang tuna netra dan hidup ‘mbambung, namun entah bagaimana caranya tiap sang dalang pentas bahkan beda pulau sekali pun, si penggemar tersebut siap ‘menyaksikan’ lakon yang dibawakan sang dalang.

Pertunjukkan pun dimulai. Saya selalu memilih menonton dari arah depan, sedang simbah kakung saya selalu memilih menonton dari belakang. Saya kurang suka menonton dari arah belakang, dari balik kelir layar, lebih karena saya tidak hapal banyak tokoh-tokoh wayang yang ada. Padahal menonton wayang dari arah belakang itu menciptakan sensasi visual yang hebat. Apalagi saat dahulu itu, sebelum lampu listrik digunakan, pagelaran wayang menggunakan lampu yang disebut blencong. Lampu bersumbu yang mengarah ke kelir menggunakan bahan bakar minyak kelapa. Nyala api blencong yang bergoyang tertiup angin menimbulkan bayangan ritmis dan mistis di balik layar. Sesunguhnya seluruh komponen pertunjukkan berbalut audio visual ruah hadir dalam satu pertunjukkan wayang.

(bersambung ke bagian 03)

Baca bagian pertama:
https://widhyatmoko.wordpress.com/2013/01/07/nonton-wayang-01/‎

Foto:
Wajang koelit te Blora – Woodbury & Page / Batavia – 1862 – KITLV