Pawon Simbah

Pawon-Simbah

Pawon adalah dapur dalam bahasa Jawa. Biasa terletak di bagian belakang rumah tradisional Jawa, tempat kegiatan masak-memasak berlangsung sehari-hari. Saat listrik belum merambah desa-desa, pawon di siang hari tetap hadir dengan gelap yang temaram, apalagi di malam hari, gelap memekat hanya berteman lampu tintir (lampu yang terbuat dari kaleng susu cair untuk menyimpan minyak tanah dan sumbu yang menggantung), atau juga lampu templok. Bagi sebagian yang lebih mampu lampu petromaks menjadi pilihan untuk memerankan pelita. Sebuah pawon tak mesti terhias oleh atribut khusus, biasanya ruang tersebut sudah “terhias” dengan alat-alat masak yang digantung di dinding, dari yang berbahan dasar kayu, tanah liat hingga alumunium berkualitas murah. Namun yang pasti, tungku batu berbahan bakar kayu mutlak harus hadir di tempat bernama pawon tersebut.

Continue reading “Pawon Simbah”

Pemimpin dan Seni

Serimpi in de kraton te Jogjakarta, 1932 (KITLV)
Serimpi in de kraton te Jogjakarta, 1932 (KITLV)

Pernah membayangkan Maharaja Majapahit, Hayam Wuruk ambil bagian dalam satu prosesi tarian? Ternyata hal tersebut benar-benar pernah terjadi, sebagai bukti kitab Nāgarakrtāgama telah mencatatnya. Kitab yang ditulis Mpu Prapanca itu menyebutkan kemampuan Hayam Wuruk dalam olah tari (mangigel) sampai-sampai para penonton saling berebut tempat untuk menyaksikan. Tariannya sendiri sepertinya memang bukan dipentaskan untuk kesenangan semata, namun berlangsung dalam rangka upacara Śrāddha, yakni aktivitas keagamaan yang diselenggarakan untuk memperingati 12 tahun meninggalnya tokoh yang dihormati. Tidak hanya mangigel, Hayam Wuruk juga tercatat kerap menyempatkan diri untuk mencatat keindahan daerah yang disinggahinya dalam bentuk bhāsa dan lambang pada saat mengelilingi wilayah kerajaannya.

Continue reading “Pemimpin dan Seni”

Asal-usul Nama Pondok Labu Jakarta

pondok-labu

Berinteraksi dengan area Pondok Labu itu telah berlangsung semenjak tahun 1987, saat bersiap untuk pindah ke wilayah Gandul dilanjutkan dengan pindah sekolah dasar ke wilayah itu. Saat itu pun kelurahan yang berkode pos 12450 ini sudah rieweuh, macet, penuh angkot dan penuh anak sekolah. Dulu ada teman SMP yang menjuluki Pondok Labu sebagai kota pelajar, ada benarnya juga karena di wilayah seluas 3,61 km2 ini tumpah ruah dari SD hingga perguruan tinggi.

Bila membaca buku Asal-usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat, nama Pondok Labu berasal dari gabungan dua kata, pondok dan labu. Gabungan kata tersebut dapat berarti pondok atau gubuk yang dirambati (tanaman) labu.

Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah memang dahulu daerah Pondok Labu banyak ditanami oleh tanaman labu.

Informasi berbeda pernah saya dapatkan dari supir angkot (saya lupa angkot KWK S03 atau D01), yang pasti waktu itu sedang berangkat untuk renang ke Lebak Bulus, duduk di kursi depan, ngobrol dengan Pak Supir. Pak Supir mengatakan, disebut Pondok Labu karena wilayah tersebut awalnya disebut dengan Pondok Labuh, karena menjadi tempat berlabuh dari angkutan-angkutan dari beragam wilayah. Dari Pasar Minggu, Ciputat, Lebak Bulus, Cinere, Blok M. Semenjak dahulu, wilayah Pondok Labu telah menjadi tempat bertemunya kendaran dari beragam wilayah. Namun yang menarik, hingga hari ini tidak ada terminal yang dibangun di wilayah itu, akibatnya angkot berhenti berserak seenak-enaknya menciptakan kemacetan.

Pak Supir juga sempat bercerita dulu itu daerah MPR Fatmawati jembatannya masih dari pohon kelapa yang dibentangkan. Oplet adalah kendaraan yang melintas dari daerah Blok M lama ke Pondok Labu. Andong, dokar ataupun delman adalah angkutan utama. Hingga hari ini kendaraan yang ditarik kuda itu masih ada di Pondok Labu. Pada saat saya pindah ke Gandul, dokar masih jadi angkutan utama bila ingin ke Gandul lewat Pangkalan Jati.

Masih dari Pak Supir, di dekat Pondok Labu ada tempat yang bernama Dapur Susu, konon nama tersebut diperoleh karena di wilayah itu dahulu ada tempat memasak susu untuk kebutuhan pasien-pasien RS Fatwamati. Kini wilayah tersebut lebih dikenal dengan sebutan Dapsus. Sayangnya letak persis tempat mengolah susu tersebut Pak Supir tidak menyebutkan.

 

*  * *

Sunatan Massal

130124-sunatan-massal

Menurut saya, salah satu lagu cerdas yang dihasilkan Iwan Fals adalah Sunatan Massal. Yap, Iwan berhasil menangkap pernik aktivitas yang berlangsung pada saat kegiatan tersebut berlangsung. Belum lagi ketepatan pemilihan kata yang menghasilkan rima kata yang ketat, hingga tanpa disenandungkan pun tiap lirik yang ada sangat nyaman untuk dibaca berulang.

Sunat atau khitan sebagai satu manifesto budaya tua yang terjaga semenjak era bapak para bangsa-bangsa –Nabi Ibrahim (dalam riwayat disebutkan Nabi Ibrahim mendapat perintah sunat itu saat usianya telah mencapai 80 tahun), tak sedikit mengalami pergeseran budaya, bukan pada esensi aktivitasnya, namun lebih kepada ritual aktivitas yang menyertainya. Sunat menjadi satu komoditas, dilengkapi dengan perayaan yang kadang meleset dari orientasi dasar. Bahkan perayaan atas keterselesaian aktivitas sunat pun sesungguhnya tak memiliki dasar kewajiban untuk dilaksanakan.

Seperti halnya sebuah peluang ekonomi, aktivitas yang terus berulang tentu memunculkan kesempatan untuk menjadi sumber penghasilan. Begitu pun dengan aktivitas sunat. Bila musim liburan sekolah hampir tiba maka akan mudah ditemui pamflet fotokopian yang tertempel serabutan di pinggir jalan. Menawarkan paket murah untuk biaya sunat, saya pernah melihat ada yang ‘cukup’ seharga dua ratus ribu rupiah saja. Lalu muncul paket-paket lainnya, dari paket plus hinga eksklusif yang menggunakan laser dan memberikan jaminan minim darah, bius lokal, plus kado istimewa. Nah, alat dan isi paket pun telah beradaptasi mencari bentuk baru.

Bicara peluang ekonomi, di daerah Kalasan, Yogyakarta malah lebih dahulu membaca peluang tersebut. Para sunatist (sementara kita sebut saja para juru sunat dengan sebutan itu) tersebut dikenal dengan nama Juru Supit Bogem, konon didirikan sejak 1939 oleh Alm. Raden Ngabehi Noto Pandoyo. Nah di tempat inilah para pangeran keraton juga (konon) anak serta cucu laki-laki Soeharto melakukan ritual sunat. Cerita sambut cerita, ada perbedaan hasil dari proses sunat yang diklaim oleh Juru Supit Bogem, penasaran bedanya seperti apa sila untuk melakukan googling sendiri =)

Cerita lainnya, mungkin tidak banyak yang mengetahui, dibalik sebuah perayaan khitanan, ada yang mengawali dengan satu ritual yang klenik, helai undangan perayaan khitanan yang akan disebarkan ke kerabat dan tetangga dibawa terlebih dahulu ke ‘Orang Pintar’, didoakan, dilamuri ucap mantra, agar nanti pada saat para tetamu tersebut hadir di acara dapat memberikan uang undangan yang lebih, dalam arti lain, perayaan tersebut dianggap sebagai satu sumber pemasukan.

Tulisan ini bila diteruskan akan teramat panjang, karena Indonesia memiliki beragam budaya yang berkembang di seputar sunat. Tak hanya aktivitas para sunatist-nya, namun juga bentuk perayaan-perayaan yang menyertainya.

Nah, buat mereka yang belum melakukan aktvitas budaya tua ini, mungkin juga anak/keponakannya atau bahkan mungkin juga pasangannya, sila untuk memperlebar telinga, siapa tau ada kegiatan sunatan massal di sekitar lingkungan kita, lumayan hemat biaya dan biasanya akan dapat sarung, peci dan baju koko gratis! Atau ya memperlebar mata, melihat kiri kanan atau googling via dunia maya, ada sekian pilihan paket menarik yang siap untuk dipilih. Eh tapi, kecuali memang nggak masalah dengan hal ini (kondisi un.sunatan alias tanpa sunat), atau malah jangan-jangan memang itu yang dipilih dan dicari =)

Sebagai penutup,
yuk kita menyanyikan bersama penggalan lagu cerdas milik Iwan Fals:

Bukan lantaran kerjaan brutal
Ujungnya daging harus dipenggal
Di bumi insan makin berjejal
Hingga terjadi sunatan massal

Tersenyum ramah si bapak mantri
Kerja borongan dapat rejeki
Berbondong bondong bocah sekompi
Mesti dipotong ya disunatin

Si bapak mantri bukannya bengis
Meskipun tampak sedikit sadis
Kerinyut hidung bocah meringis
Sedikit tangis anunya diiris

Hei sunatan massal
Aha aha
Sunatan massal
Aha aha
Ditonton orang berjubal jubal
Banyak tercecer sepatu dan sandal

Jangan Kamu Anggap Bodoh…

Dahulu itu, saat masih bersekolah dan berkuliah, selalu saja dapat bertemu dengan rekan-rekan yang sedemikian lihainya mencontek bila ujian berlangsung. Wajah dapat sedemikian tenangnya, sedang tangan serta mata beraktivitas ke sana ke mari membuka contekan. Saya saat itu pun sedemikian yakinnya si penjaga ujian tidak mengetahui seluruh aktivitas itu.

Namun, saat saya menjadi pengajar, perspektif tersebut demikian mudahnya berubah. Ternyata berdiri ataupun duduk di muka kelas itu sedemikian mudahnya untuk mengenali mana saja mahasiswa saya yang sedang melakukan aktivitas contek mencontek tadi. Wajah-wajah (sok) tenang tersebut begitu mudah terlihat sedang melakukan kecurangan. Melihat gerak-gerik tangan yang sedemikian berhati-hatipun mudah sekali untuk mengenali ada kegiatan lain yang dilakukan selain mengerjakan soal ujian.

Kejadian tersebut kembali berulang pada saat saya mulai memiliki posisi yang berkesempatan memiliki anak buah. Tanpa kesulitan, saya mudah sekali menangkap alasan mana yang memang jelas berupa alasan atau sebuah cerita yang disusun dan dirangkai sebelumnya lalu disampaikan ke saya. Mungkin ini yang disebut waktu yang membuat kita semakin kaya dengan pengalaman. Semakin kaya dengan cerita, dan semakin mudah memilah yang terlihat nyata atau bagian dari susunan cerita yang memang telah disiapkan. Saya yakin tiap atasan memiliki kemampuan itu.

Begitupun saat sebagai pengajar berhadapan dengan para mahasiswa yang datang ke kelas tak lengkap dengan ketentuan yang disyaratkan. Lalu mengalir selaksa alasan menyertai, dari tempat nge-print yang belum buka, hard-disk jebol (ini yang paling sering), mati lampu, ban kempes (hmm kok tiba-tiba saya teringat dengan salah seorang mahasiswa bimbingan Tugas Akhir saya yang telah tiada), … “Hei sudahlah, saya juga pernah jadi mahasiswa!”

Saat menjadi atasan ataupun pengajar, mudah sekali untuk mengetahui mana yang benar atau rekayasa saat mendengarkan sebuah alasan yang disampaikan. Namun untuk saya, saat ini lebih memilih untuk tak ambil peduli dengan hal itu, sambil menahan diri untuk tidak mengucap, “Sudahlah, apapun alasanmu. Tolong jangan kamu anggap saya bodoh sampai tidak tahu apa yang kamu jadikan alasan itu…”

. . .

image by wallpaperpimper.com