Pemimpin dan Seni

Serimpi in de kraton te Jogjakarta, 1932 (KITLV)

Serimpi in de kraton te Jogjakarta, 1932 (KITLV)

Pernah membayangkan Maharaja Majapahit, Hayam Wuruk ambil bagian dalam satu prosesi tarian? Ternyata hal tersebut benar-benar pernah terjadi, sebagai bukti kitab Nāgarakrtāgama telah mencatatnya. Kitab yang ditulis Mpu Prapanca itu menyebutkan kemampuan Hayam Wuruk dalam olah tari (mangigel) sampai-sampai para penonton saling berebut tempat untuk menyaksikan. Tariannya sendiri sepertinya memang bukan dipentaskan untuk kesenangan semata, namun berlangsung dalam rangka upacara Śrāddha, yakni aktivitas keagamaan yang diselenggarakan untuk memperingati 12 tahun meninggalnya tokoh yang dihormati. Tidak hanya mangigel, Hayam Wuruk juga tercatat kerap menyempatkan diri untuk mencatat keindahan daerah yang disinggahinya dalam bentuk bhāsa dan lambang pada saat mengelilingi wilayah kerajaannya.

Menjadi pemimpin di era kerajaan kuno sepertinya memang mesti memiliki kemampuan yang lengkap di berbagai lini. Di lini seni, tidak hanya kemampuan individu yang harus dimiliki, namun seorang pemimpin juga mesti menjadi pelindung dan sosok yang turut mengambil peran dalam pengembangan kesenian.

Kitab dari era Janggala-Kadiri –Sumanasāntaka, mencatat pada era tersebut raja turut mengambil peran dalam pengembangan kesenian dengan memunculkan kelompok ahli di bidang kesenian di area keraton, misalnya terdapat kelompok yang memusatkan diri pada penciptaan lagu dan kakawin, hingga tradisi memberikan hadiah bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih dalam berkesenian.

Bila menengok ke tradisi keraton Yogyakarta, seorang raja menggubah sebuah tarian bukanlah hal yang luar biasa, para raja atau sultan memiliki kemampuan tersebut. Sri Sultan Hamengku Buwono I menggubah tari klasik gaya Yogyakarta yang kerap disebut sebagai Joged Mataram. Sedang Sri Sultan Hamengku Buwono II menggubah tarian sakral, Bedhaya Semang dan menggubah wayang wong dengan lakon Pragola Murti. Selain kedua sultan tadi, Sri Sultan Hamengku Buwono IX termasuk yang produktif dalam menggubah karya seni, tercatat tarian Bedhaya Sapta dan Bedhaya Manten Sangaskara merupakan karya yang digubahnya. Selain itu Beksa Golek Menak juga masuk dalam daftar portfolio karya yang digubahnya.

Bergeser ke era republik, hampir pasti Sukarno berada di daftar teratas pemimpin yang lekat dengan seni. Latar pendidikan arsitektur yang dimilikinya turut mengambil peran dalam aktivitas pembangunan fisik. Tak kurang Mesjid Istiqlal, Monumen Nasional, Gedung Conefo, Gedung Sarinah, Wisma Nusantara, Hotel Indonesia, Tugu Selamat Datang, Monumen Pembebasan Irian Barat dan Patung Dirgantara merupakan karya-karya arsitektur yang dibangun atas ide, perintah serta pengawasan Sukarno. Dan apabila kita mengetik kata ‘sukarno’ dan ‘lenso’ pada mesin pencari Google, maka akan segera muncul ribuan hasil pencarian baik itu artikel, gambar maupun video. Bahkan secara khusus Sukarno menggubah lagu berjudul Bersuka Ria yang digunakan untuk mengiring tarian lenso, sebuah tarian yang digali dari daerah Ambon, Maluku. Lagu tersebut digubah bersama Orkes Irama yang dipimpin oleh Jack Lesmana.

Empat jilid buku koleksi seni Presiden Sukarno yang diterbitkan pada tahun 1956 dan 1959 hingga kini tetap dianggap menjadi literatur penting yang mencatat koleksi besar era awal lukisan Indonesia modern. Selain sebagai bentuk kecintaan dirinya atas seni, penerbitan buku tersebut merupakan bagian perjuangan politik dirinya yang menggunakan medium seni sebagai alat kemerdekaan dan penegasan diri.

Tidak berhenti di situ, seni sebagai bagian revolusi terus dikumandangkan oleh Sukarno. Manifesto Kebudayaan (Manikebu) tahun 1963 “yang kebarat-baratan” dianggap memperlemah revolusi dan harus berhadapan langsung dengan Sukarno yang tengah mengusung semangat kembali ke kepribadian sendiri. Koeswoyo Bersaudara merupakan salah satu musisi yang menerima dampak langsung kebijakan tersebut. Kelar menyanyikan lagu The Beatles I Saw Her Standing There di rumah seorang kolonel, penjara Glodok menanti mereka untuk ditempati sebagai sel tahanan. Seni menjadi urusan serius dalam label revolusi.

Merujuk kembali ke kitab Sumanasāntaka, sebenarnya tak muluk yang diharapkan dari seorang pemimpin, cukup dengan kuasa yang dimilikinya maka berikanlah kesenian ruang untuk terus berkembang luas, berikanlah dukungan (baik materi dan non materi) untuk lahirnya karya-karya berkualitas. Plus kesadaran, bila tak memiliki kemampuan seni tak perlu merasa harus turut ambil bagian dari lahirnya karya seni, beneran nggak perlu. Misalnya nggak perlu untuk berasa fasih menggubah lagu dan dilanjutkan dengan rilis album #uhuk

 

– – –

  • Atmakusumah (Penyunting). 1982. Tahta Untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta: Gramedia.
  • Sedyawati, Edi (Penyunting). 2002. Indonesian Heritage: Seni Pertunjukan. Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International.
  • Soemantri, Hilda (Penyunting). 2002. Indonesian Heritage: Seni Rupa. Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International.
  • Rahardjo, Supratikno. 2011. Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir. Jakarta: Komunitas Bambu.
Advertisements

N-Ach N Endah

03-N-Ach-N-Endah

Judul artikel ini bukan nama side bandnya Endah di luar Endah N Rhesa, apalagi nama band barunya. N-Ach itu Need for achievement, merujuk kepada kondisi individu-individu yang memiliki tujuan untuk senantiasa mencapai prestasi di atas rata-rata. Individu ini mengasah terus ketrampilan yang dimiliki, meletakkan standar pencapaian di tempat yang tinggi, mengulang secara terus-menerus aktivitas yang mendukung ketrampilannya dalam mencapai tujuan. Istilah N-Ach sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Hery Murray kemudian dipopulerkan oleh psikolog kontemporer, David McClelland.

Lalu apa hubungannya dengan Endah?

Jauh sebelum Endah N Rhesa terbentuk kebetulan saya telah mengenal Endah. Awal sekali, sekitar tahun 1995, waktu itu saya sedang berlatih di satu studio musik, gitaris yang seharusnya bermain tidak dapat hadir. Lalu seorang rekan berinisiatif mencari gitaris pengganti, ia menelpon sepupunya yang kebetulan tinggal tak jauh dari studio. Tak lama datanglah seorang anak perempuan bertubuh kecil, penuh keringat karena habis mengayuh sepeda mini di siang hari yang panas. Anak perempuan itu mengenalkan dirinya –Endah, kelas 5 SD!

Sebelum memulai latihan, Endah kecil diminta sepupunya untuk unjuk gigi. Tak lama mengalunlah intro ikonik Just Take My Heart–nya Mr. Big. Intro nan rumit itu dimainkan mulus tanpa cela, lewat jemari kecil pada fret gitar listrik yang sebenarnya berukuran masih terlalu besar.

Itu awal sekali, pertemuan berikutnya berlangsung di rumah sahabat yang juga seorang gitaris. Waktu itu Endah sudah duduk di bangku SMP atau SMA, saat saling mengenalkan diri ia menyebut nama lengkap saya, saya kelimpungan karena berusaha mengingat-mengingat pernah berkenalan di mana. Tak sulit untuk kembali mengingat, cukup dengan keyword “anak perempuan kelas 5 SD memainkan intro Just Take My Heart”. Saat itu Endah sudah memantapkan dirinya untuk menjadi gitaris, belajar gitar ke sekian guru, termasuk ke sahabat saya itu. Tubuhnya masih kecil, namun sudah jauh lebih tinggi dari pertemuan pertama, dan kemana-mana naik angkot sambil membawa gitar plus menenteng satu set kotak berisi beberapa effect gitar mobil-mobilan.

Bicara soal N-Ach, saya dan Endah pernah membahasnya lewat email. Ia bercerita habis berdiskusi dengan (alm.) mamanya, membahas soal N-Ach dan seperti mendapat sebuah petunjuk baru atas arah, kerja keras serta komitmen yang akan ditempuh. Saya yang kebetulan mengetahui soal cerita-cerita seputar N-Ach akhirnya mengirimkan artikel terkait yang saya miliki, dan berdiskusi lebih jauh.

Dahulu itu, tak sulit menangkap potensi besar yang dimiliki oleh Endah, paduan kerja keras serta komitmen besar yang dimilikinya menjelaskan kondisi N-Ach yang ia miliki. Tak sulit juga untuk memprediksi keberhasilan yang akan ia capai –seperti saat ini. Saya teringat ceritanya, bagaimana kakak lelakinya terus memaksa dirinya untuk berlatih, lengkap dengan kata-kata keras yang memotivasi. Atau saat sempat merekam lagu sendiri di ‘studio’ kamar yang sederhana, Endah mendapat bagian intro dan melodi gitar yang harus ia ulang-ulang berkali-kali karena tidak juga sreg dengan kualitasnya. Tak ada keluh dan kesah yang keluar walau harus mengulang (mungkin hingga) puluhan kali, bahkan sampai pernah saya tinggal tidur. Saat kualitas belum mencapai standar yang diinginkan maka terus diulang, dibawa pulang untuk dilatih terus, hingga pertemuan berikutnya telah lebih siap dan lebih berkualitas.

Bagi mereka yang memiliki DNA N-Ach –seperti yang dituliskan oleh David McClelland, mereka melihat prestasi (pencapaian) jauh lebih penting dari materi atau imbalan uang, mencapai tujuan memberikan kepuasan pribadi yang jauh lebih besar dari pujian dan pengakuan, terbuka dalam menerima umpan balik karena menganggapnya sebagai bagian dari pengukuran keberhasilan, dan mereka terus menerus termotivasi untuk memperbaiki diri. Nah, bukankah ciri tersebut memang ada di sosok Endah?

* * *

Daftar Pustaka

  • McClelland, David C. (1961). The Achieving Society. Priceton: D. Van Nostrand.

Sosrokartono: Spiritualis & Poliglot 24 Bahasa

02-Sosrokartono

Siapa kakak laki-laki RA Kartini?

Pernah mendapat pertanyaan serupa? Lewat semangat penuh humor canda pasti akan kita jawab dengan, “Kartono!”

Ternyata jawaban tersebut tidak salah. Yap, kakak RA Kartini memang bernama Kartono, lengkapnya, Raden Mas Panji Sosrokartono. Kini banyak yang tidak mengetahui sepak terjang dari Sosrokartono, padahal sederet kemampuan mentereng ia kuasai, juga segudang aktivitas keren pernah ia jalani. Salah satu label yang melekat pada dirinya adalah didaulat sebagai guru spiritual Bung Karno, bayangkan, muridnya saja sehebat itu tentunya Sang Guru bukan orang sembarangan.

Sosrokartono lahir di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, pada Rabu 10 April 1877, sebagai anak dari bupati Jepara. Sosrokartono kecil telah menunjukkan bakat-bakat luarbiasa –sebutan anak indigo sepertinya tepat untuk disematkan. Sosrokartono kecil mampu “melihat” masa depan, serta cerdas luar biasa. Selepas sekolah di HBS (Hoogere Burgerschool, sekolah lanjutan tingkat menengah untuk orang Belanda, Eropa, juga pribumi ningrat. Setara dengan SMP + SMA, namun totalnya hanya 5 tahun) Sosrokartono melanjutkan sekolahnya ke Belanda. Sekolah Teknik Tinggi di Leiden menjadi pilihan awal, dalam perjalanannya ia merasa tidak sesuai lalu pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Di jurusan tersebut ia menyandang gelar Docterandus in de Oostersche Talen, dan berhak meletakkan Drs di hulu namanya.

Selain Raden Saleh yang melegenda lewat lukisannya, Sosrokartono tentunya termasuk pribumi generasi awal yang melanglang di bawah langit Eropa. Wartawan perang adalah salah satu status pekerjaan yang pernah ia sandang. Tidak tanggung-tanggung, The New York Herald Tribune, menjadi tempat ia bekerja sebagai koresponden Perang Dunia I.

Cerita dibalik rekrutmen menjadi koresponden di surat kabar bergengsi dari Amerika Serikat itu amatlah menarik. Jadi, andai saat itu Twitter sudah beroperasi, pastilah Sosrokartono menjadi master kelas dewa untuk utak-atik 140 karakter, karena tes masuknya berupa tantangan untuk menyingkat satu kolom berita berbahasa Perancis ke dalam tulisan berjumlah kurang lebih 30 kata, dan ditulis dalam 4 bahasa (Inggris, Rusia, Spanyol dan Perancis). Pelamar lain yang didominasi bangsa Eropa tidak mampu mencapai 30 kata, namun Sosrokartono berhasil memadatkan hingga 27 kata!

Kemampuan berbahasa Sosrokartono memang di luar batas normal, ia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa daerah di nusantara, seorang poliglot tulen. Bahkan menurut Bung Hatta, Sosrokartono menguasai bahasa Basque (Basken). Basque sendiri adalah bahasa yang dituturkan oleh orang Basque yang hidup di daerah Pyrenea di utara-tengah Spanyol, bersebelah dengan wilayah utara-barat Perancis. Basque dipercaya sebagai bahasa terasing, bukan bahasa Indo-Eropa, dan Sosrokartono menguasari bahasa terisolasi tersebut.

Masih dari buku biografi Bung Hatta, dituliskan bahwa sebagai koresponden Sosrokartono memiliki gaji $ 1.250, dengan gaji sebesar itu ia dapat hidup sebagai miliuner di Wina, Austria, tempat ia tinggal. Selama 26 tahun melanglang Eropa, silih berganti pekerjaan hebat, hidup di dalam lingkaran jet set, juga kaum intelektual internasional, tak membuatnya puas, justru konflik batin terus merundungnya. Titik nadirnya berada saat Sosrokartono bertemu dengan anak kenalannya yang berumur sekitar 12 tahun. Si anak mengidap penyakit yang tak kunjung sembuh walau sudah diobati oleh banyak dokter. Namun, pada saat Sosrokartono menyentuh dahi anak itu, terjadilah keajaiban. Si anak membaik dalam hitungan detik dan sembuh di hari yang sama. Seorang ahli psikiatri dan hipnosis menjelaskan bahwa ternyata Sosrokartono memiliki daya persoonlijke magnetisme yang sangat besar namun tidak ia sadari.

Keinginan untuk mendalami kemampuan yang ia miliki membawa dirinya pergi ke Paris untuk belajar di universitas di kota itu. Namun ia tidak bisa mendapatkan pembelajaran penuh karena bukan lulusan dari kedokteran. Tahun 1925, kekecewaan yang ia alami karena ditolak bersekolah di jurusan psychometrie dan psychotecniek itu menuntunnya memperoleh ilham untuk kembali ke tanah air. Setelah itu, segala kemewahan ia tanggalkan, kemewahan dunia ia lepaskan, semua ia lakukan untuk mengabdi kepada rakyat Indonesia, demi kepentingan umat, menjadi penolong sesama manusia yang menderita sakit jasmani dan rohani.

* * *

Daftar Pustaka

  • Hatta, Mohammad. (2011). Untuk Negeriku. Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi. Sebuah Otobiografi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
  • Syuropati, Mohammad A. (2015). Ajaran-ajaran Adiluhung Raden Mas Panji Sosrokartono. Yogyakarta: Syura Media Utama.
  • Ploso, Lilis. (2007). M. Panji Sosrokartono. http://xendro.wordpress. com/2007/10/24/rm-panji-sosrokartono/. Diakses Kamis, 23 April 2015.

Asal-usul Nama Pondok Labu Jakarta

pondok-labu

Berinteraksi dengan area Pondok Labu itu telah berlangsung semenjak tahun 1987, saat bersiap untuk pindah ke wilayah Gandul dilanjutkan dengan pindah sekolah dasar ke wilayah itu. Saat itu pun kelurahan yang berkode pos 12450 ini sudah rieweuh, macet, penuh angkot dan penuh anak sekolah. Dulu ada teman SMP yang menjuluki Pondok Labu sebagai kota pelajar, ada benarnya juga karena di wilayah seluas 3,61 km2 ini tumpah ruah dari SD hingga perguruan tinggi.

Bila membaca buku Asal-usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat, nama Pondok Labu berasal dari gabungan dua kata, pondok dan labu. Gabungan kata tersebut dapat berarti pondok atau gubuk yang dirambati (tanaman) labu.

Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah memang dahulu daerah Pondok Labu banyak ditanami oleh tanaman labu.

Informasi berbeda pernah saya dapatkan dari supir angkot (saya lupa angkot KWK S03 atau D01), yang pasti waktu itu sedang berangkat untuk renang ke Lebak Bulus, duduk di kursi depan, ngobrol dengan Pak Supir. Pak Supir mengatakan, disebut Pondok Labu karena wilayah tersebut awalnya disebut dengan Pondok Labuh, karena menjadi tempat berlabuh dari angkutan-angkutan dari beragam wilayah. Dari Pasar Minggu, Ciputat, Lebak Bulus, Cinere, Blok M. Semenjak dahulu, wilayah Pondok Labu telah menjadi tempat bertemunya kendaran dari beragam wilayah. Namun yang menarik, hingga hari ini tidak ada terminal yang dibangun di wilayah itu, akibatnya angkot berhenti berserak seenak-enaknya menciptakan kemacetan.

Pak Supir juga sempat bercerita dulu itu daerah MPR Fatmawati jembatannya masih dari pohon kelapa yang dibentangkan. Oplet adalah kendaraan yang melintas dari daerah Blok M lama ke Pondok Labu. Andong, dokar ataupun delman adalah angkutan utama. Hingga hari ini kendaraan yang ditarik kuda itu masih ada di Pondok Labu. Pada saat saya pindah ke Gandul, dokar masih jadi angkutan utama bila ingin ke Gandul lewat Pangkalan Jati.

Masih dari Pak Supir, di dekat Pondok Labu ada tempat yang bernama Dapur Susu, konon nama tersebut diperoleh karena di wilayah itu dahulu ada tempat memasak susu untuk kebutuhan pasien-pasien RS Fatwamati. Kini wilayah tersebut lebih dikenal dengan sebutan Dapsus. Sayangnya letak persis tempat mengolah susu tersebut Pak Supir tidak menyebutkan.

 

*  * *

Konsep Visual Perancangan Label Kemasan Madu-madu Nusantara dengan Contoh Kasus Madu Sumbawa

Artikel & Desain:
Danu Widhyatmoko

Ilustrasi:
Tytton Sishertanto

PEMBAHASAN DESAIN

Desain yang akan dihasilkan dalam penelitian ini nanti akan terdiri dari beberapa jenis, namun semuanya akan tercipta dalam bentuk label kemasan. Mengapa label kemasan?

  1. Karena hampir 100% kemasan madu Sumbawa menggunakan media botol, baik kaca maupun plastik. Botol yang digunakan biasanya belum memiliki bentuk khusus, mereka masih memanfaatkan botol-botol yang telah ada sebelumnya, hal ini dikarenakan untuk membuat botol dalam bentuk khusus akan membutuhkan biaya yang relatif tinggi.
  2. Untuk mencapai sebuah keunikan, bila diperbandingkan antara membuat bentuk botol yang khusus dengan memproduksi label kemasan maka membuat label kemasan akan sangat jauh ekonomis. Dengan bentuk label kemasan akan semakin banyak produsen madu Sumbawa dapat memanfaatkannya karena ekonomis dan efektif.
  3. Mudah dalam pengaplikasiannya, tinggal direkatkan pada bidang botol. Tidak membutuhkan tambahan mesin khusus lagi untuk memanfaatkannya.

Pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan karakter Sumbawa yaitu dengan menggunakan :

  1. Visualisasi motif asli dari daerah Sumbawa, motif tersebut diambil dari kain tenun yang banyak terdapat di Sumbawa.
  2. Visualisasi obyek-obyek unik yang terdapat di Sumbawa, seperti upacara Pasola [tarian perang dengan ratusan penunggang kuda menyebrangi padang sambil menjatuhkan lawan dari daerah lain dengan cara melempari tombak, komodo, bentuk pulau dari Sumbawa.
  3. Warna-warna yang terdapat di kain-kain tenun khas Sumbawa.

Untuk kebutuhan nama produk madu maka untuk sementara dipilih nama Batu Lanteh, nama tersebut nanti dapat berubah sesuai dengan nama produk dari madu yang akan memanfaatkan label-label yang ada. Batu Lanteh sendiri adalah sentra penghasil madu Sumbawa.
Elemen dasar kemasan yang akan ditempatkan di desain kemasan ini meliputi:

  1. Nama Produk
  2. Ilustrasi utama
  3. Keterangan volume isi
  4. Label halal
  5. Informasi pendukung
  6. Keterangan nama produsen
  7. Keterangan informasi kandungan/komposisi madu
  8. No Departemen Kesehatan
  9. Bar code

 

HASIL PEMBAHASAN DESAIN 01

madu-emas

  • Pendekatan visual yang dilakukan adalah dengan memvisualkan peta daerah Sumbawa, diletakkan di sebuah obyek berbentuk tetesan madu.
  • Nuansa yang diharapkan adalah nuansa keemasan, mengangkat visual modern yang higienis.
  • Elemen pendukung yang mengangkat dari Sumbawa terdapat pada motif dasar yang terdapat di latar, motif tersebut diambil dari motif tenun geometris Sumbawa.
  • Elemen materi kemasan dapat ditambahkan dengan memberikan kertas pembungkus pada tutup dari bahan kertas samson coklat. Dan di bagian atasnya diberikan label berbentuk lingkaran.
  • Jenis huruf yang digunakan:
    • Futura [Neuville Digital] untuk nama produk, dipilih karena memiliki karakter yang kuat, sederhana dan modern.
    • Bradley Hand ITC TT [International Typeface Corporation] digunakan pada penulisan ”Madu Sumbawa Asli”, karakter huruf seperti tulisan tangan diharapkan mampu memvisualkan kata ”asli, natural”
    • Optima [Linotype Library GmbH] untuk penggunaan pada teks.

madu-emas-01

madu-emas-02

 

HASIL PEMBAHASAN DESAIN 02

madu-kuda

  • Pendekatan visual yang dilakukan adalah dengan memasukkan unsur motif flora Sumbawa, namun di dalam pengaplikasiannya disesuaikan dengan bentuk dasar dari obyek utama [lingkaran]. Motif Sumbawa yang cenderung bersifat geometris dengan arah gerak horisontal dan vertikal disesuaikan mengikuti bentuk dasar lingkaran.
  • Obyek penunggang kuda yang siap menombak, diambil dari tarian perang Pasola, dipilih untuk memvisualkan khasiat kekuatan yang terdapat pada madu Sumbawa. Jenis ilustrasi yang digunakan adalah natural termasuk visualisasi dari lebah sebagai obyek perantara utama yang menegaskan bahwa produk yang dikomunikasikan adalah madu yang dihasilkan oleh lebah.
  • Warna yang dipilih tidak memanfaatkan warna lokal Sumbawa, namun memilih warna yang cenderung segar dan higienis.
  • Ornamen materi bahan dapat ditambahkan pada tutup kemasan, dengan menambahkan kain dan diberi tali pengikat dari bahan rami.
  • Jenis huruf yang digunakan :
    • Handwriting – Dakota [vLetter Inc. & Apple Computer Inc.], memvisualkan nama produk, dipilih karena bersifat natural, membawa keaslian.
    • Lithos diterapkan pada tulisan ”Madu Sumbawa” dipilih karena memiliki sifat yang tipikal dengan karakter jenis visual Sumbawa yang cenderung geometris dan tradisional.
    • GriffithGothic [The Font Bureau, Inc.], diterapkan pada teks. Dipilih karena memiliki karakter yang tegas, geometris dan keterbacaan yang baik.

madu-kuda-01

madu-kuda-02

 

HASIL PEMBAHASAN DESAIN 03

madu-kuning

  • Pendekatan visual yang dilakukan dengan menekankan pada bagaimana menekan biaya produksi agar menjadi sangat ekonomis. Karena itu warna yang digunakan hanya 2 warna saja, kuning dan hitam, yang identik dengan warna lebah. Proses cetak dengan menggunakan dua warna akan sangat menekan biaya produksi.
  • Tidak ada elemen khusus yang mewakili Sumbawa pada visual ini, identitas Sumbawa hanya terdapat pada nama produk saja. Tetap sedikit pendekatan visual dilakukan pada ilustrasi, jenis ilustrasi yang dipilih adalah jenis ilustrasi semi cukilan kayu [wood cut] yang menciptakan nuasa tradisional yang tua, seperti halnya kebudayaan Sumbawa yang telah berumur panjang.
  • Ornamen materi bahan dapat ditambahkan pada tutup kemasan, dengan menambahkan kain dan diberi tali pengikat dari bahan rami.
  • Jenis huruf yang digunakan :
    • Goudy Old Style, memiliki karakter mewah dan klasik dengan kait yang tergarap maksimal. Karakter klasik yang dimiliki sesuai dengan nuasa tradisional cukilan kayu yang terdapat pada ilustrasi.
    • Myriad Pro [Adobe Systems Inc.], memiliki karakter tegas namun ringan dengan tingkat keterbacaan yang baik hingga tepat bila diaplikasikan pada label yang memiliki ukuran kecil.

madu-kuning-01

madu-kuning-02

 

HASIL PEMBAHASAN DESAIN 04

madu-merah

  • Tenun Sumbawa memiliki warna-warna yang dominan, salah satu warna yang paling kuat adalah unsur warna merah, coklat dan hitam, tiga unsur warna tersebut banyak terdapat pada songket Kre Alang. Warna tersebut yang berusaha diangkat pada desain label ini.
  • Salah satu jenis motif yang terkenal dari tenun Sumbawa adalah motif geometris dengan obyek kuda. Dilakukan penyederhanaan bentuk dari motif tersebut, lalu diterjemahkan menjadi unsur ornamen.
  • Ilustrasi natural lebah menjadi obyek utama sebagai penjelas dari produk madu yang terdapat di kemasan. Kemasan botol yang bersifat tembus pandang hingga produk madu di dalamnya dapat terlihat jelas, merupakan keuntungan sendiri bagi kemasan karena isi produk dapat langsung terlihat jelas tanpa harus terlalu dijelaskan secara visual.
  • Jenis huruf yang digunakan :
    • Optima [Linotype Library GmbH] dipilih karena memiliki karakter yang cenderung halus walau bentuk dasarnya sendiri terlihat kokoh. Dipilih untuk menetralkan kerasnya unsur-unsur geometris dan gelapnya warna merah hitam yang telah mendominasi keseluruhan desain kemasan.
    • GriffithGothic [The Font Bureau, Inc.], diterapkan pada teks. Dipilih karena memiliki karakter yang tegas, geometris dan keterbacaan yang baik.

madu-merah-01

madu-merah-02

 

HASIL PEMBAHASAN DESAIN 05

madu-coklat-01a madu-coklat-01ab madu-biru-01a

  • Ilustrasi menjadi elemen utama dari pembahasan desain ini, berusaha memvisualkan suasana pada saat madu dipanen. Visual menjelaskan betapa naturalnya madu yang dikemas, di dapat dari sarang lebah di hutan Sumbawa dan diambil langsung dari dalam sarangnya. Jenis ilustrasi yang dipilih adalah cukilan kayu, untuk mendapatkan unsur tradisional dan natural yang kuat.
  • Motif yang dipilih diambil dari motif geometri khas Sumbawa, diambil dari songket Kre Alang. Setelah dilakukan penyederhanaan bentuk [stilasi], motif tersebut disesuaikan dengan area visual yang ada. Selain tersaji menjadi ornamen hias utama, motif tersebut juga dibuat menjadi pola hias yang tersamar pada latar label.
  • Warna yang dipilih merupakan warna-warna yang terdapat pada ragam tenun Sumbawa. Dipilih warna-warna yang cenderung modern dan sedikit banyak merupakan warna kontras dari warna madu yang cenderung coklat tua, hingga terdapat sebuah komposisi yang saling melengkapi.
  • Jenis huruf yang digunakan :
    • Goudy Old Style, memiliki karakter mewah dan klasik dengan kait yang tergarap maksimal. Karakter klasik yang dimiliki sesuai dengan nuasa tradisional cukilan kayu yang terdapat pada ilustrasi.
    • Baskerville [Monotype Typography, Ltd], diaplikasikan pada teks, memiliki karakter yang tidak jauh berbeda dengan Goudy Old Style, dengan tingkat keterbacaan yang baik.

madu-coklat-02

madu-coklat-01

madu-biru-01

 

KESIMPULAN

Madu sebagai sebuah industri pangan dengan tingkat ekonomis yang tinggi selayaknya dimanfaatkan secara maksimal. Desain sebagai salah satu unsur utama di dalam industri harus memegang peranan penting di dalam proses pemaksimalan industri madu tersebut. Sentuhan desain berpadu dengan elemen lokal yang dimiliki oleh daerah-daerah penghasil madu utama akan menghasilkan sebuah visual desain yang mumpuni. Produksi pangan yang dikemas secara maksimal akan memiliki daya jual yang tinggi, memiliki kekhasan, keunikan dan kandungan lokal yang tinggi, memiliki identitas yang kuat hingga mudah dikenali dan pastinya akan mendukung proses pemasaran.

 

*Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Wastucitra