Bila Saat Itu Tiba

Asah terus kebencianmu
hingga menjadi belati tajam siap menghujam.

Raut terus beda letak kau berpijak
hingga menjadi bambu yang kian meruncing,

sampai satu titik kau mudah terpicu hasut,
dan kau gunakan belati
untuk menikam tetangga-tetangga dekatmu,
dan kau gunakan runcing bambu
untuk mencabik tubuh saudara-saudaramu sendiri

Orang yang Sama

Aku masih orang yang sama,
orang yang masih mendengarkan dan memuja karya Iwan Fals, Sang Legenda. Juga lagu-lagu lima album lama yang penuh daya dan tak lekang oleh waktu dari penghuni jalan kecil bernama Potlot, Slank!

Aku masih orang yang sama,
orang yang masih begitu mencintai Bromo, lengkap dengan kaldera purbanya, juga kabut pagi, dan Semeru yang menjulang menengadah langit, serta dingin yang menghujam meremat sendi-sendi tulang.

Aku pun masih orang yang sama,
orang yang masih begitu mencintai malam, heningnya dinihari, syahdunya pagi, dan temaramnya senja.

Bodoh Itu Gratis

Cobalah melintas di Kamis malam, di sekitaran Pos Pengumben mengarah ke Pasar Kebayoran Lama. Akan mudah kita saksikan para pengguna roda dua, baik sendiri atau pun berbonceng, tanpa pelindung kepala, atau hanya berbalut kain tipis putih setengah bola.

Ah saya masih memilih untuk berbaik sangka, mungkin benda putih itu terbuat dari serat kevlar berteknologi nano terkini, terbalut unsur logam titanium berdaya tahan bentur melebihi kuasa baja. Hingga tak perlu lagi mengenakan benda usang berjuluk helm sebagai pelindung kepala.

Bila sabdamu setara dewa, dan titahmu bagai dogma, maka mengapa tak kau ajarkan umatmu untuk sekedar berhenti di belakang marka garis hitam-putih yang melintang membelah jalan? Mengapa tak kau ajarkan umatmu untuk mengenakan pelindung kepala. Mengapa tak kau ajarkan untuk tak perlu berjibaku bertaruh nyawa melawan arus jalan saat berkendara?

Bodoh itu gratis, hingga kadang kita terlupa menenggaknya terlalu banyak, hingga mabuk, ambruk tak lagi berpijak…

#DoaUntukJakarta

Panggilah anakmu, atau keponakan kecilmu, atau anak-anak kecil yang menjadi anak tetanggamu, lalu ajaklah ia mendekat…

Lihatlah jernih matanya, dan bayangkan seperti apa negeri yang tepat untuknya di hari nanti. Lalu tanyakan lirih ke dalam nuranimu dan jawablah mengapa kita harus merawat negeri rapuh ini…

Negara cuma sejengkal,
jangan berbuat yang pendek akal!

Pergi,
kan selalu tertitipkan oleh harapan

Namun pulang,
yang akan selalu menggetarkan

Sedang pamit terakhir yang pernah terucap pun samar teringat, entah kata apa yang saling kita eja, selain sesaat berisi selaksa tatap mata tanpa daya

Dan,
apakah selamat tinggal   memang cara kita untuk memberi kesempatan bagi sapa “hei” di satu waktu?

. . .