WordPress di Perguruan Tinggi

Advertisements

Tikhi – Titipan Khilaf

130205-tikhi

Bagi saya, kualitas kepemimpinan terburuk itu adalah hanya menjadi kurir penyampai pesan saja. Lebih spesifik, saya sedang membicarakan para pemimpin juga para manajer yang berada dalam posisi di antara pusat kekuasaan dan para pekerja/karyawan biasa.

Mengapa sebatas kurir saja?

Ya karena perintah dari pusat kekuasaan ditelan bulat-bulat begitu saja lalu disampaikan letterlijk tanpa penambahan apapun ke para karyawannya. Beberapa arahan tentunya memang harus tersampaikan secara harafiah, apa adanya. Namun bila ia berupa beban ataupun target yang masih bersifat umum sudah sewajibnya diturunkan lengkap dengan strategi mencapainya, lampiran roadmap, arahan-arahan serta garis waktu pencapaian.

Lebih absurd lagi bila pimpinan cuma sebatas bisa bilang, “ya gimana dari atas bilangnya gitu, guwè cuma nerusin aja.” Nah lho, apa coba bedanya dengan kurir?

Ada lagi yang lebih hwadeeeh, “Loh guwè kan tadinya nggak mau posisi ini, guwè kan dipaksa”. Nah kalo ini jelas artinya mau gajinya tapi nggak ngerti dan nggak mau kerjanya.

Yah catatan sejarah manusia sudah mencatat mereka yang telah tertasbihkan menjad pimpinan berarti telah tergariskan untuk berbuat sesuatu, merumuskan sesuatu agar kapal yang dipimpinnya bergerak lebih baik, bukan sekedar ‘yang penting’ berlayar, soal arah dan tujuan cuma jadi untung-untungan siapa tau ketemu pelabuhan.

Jadi buat mereka yang sedang teramanahkan dengan sebuah jabatan, coba tanyakan kualitas yang Anda miliki. Apakah selama ini Anda telah memerankan diri dengan baik sebagai seorang pimpinan? Bila tidak, sudahi peran Anda sebagai Tikhi alias Titipan Khilaf, yang selalu khilaf dengan titipan peran yang seharusnya dimainkan. Mending buka usaha Tiki alias Titipan Kilat saja, karena darah Anda jelas berada di sana!

– – –

*edisi cermin diri  |  Gambar kotak diunduh dari psdgraphics.com

Penyakit + Resep + Obat

Diagnosa yang tepat adalah segalanya, lewat diagnosa tersebut akan tersimpulkan solusi yang dapat diambil. Bila pulas warna kosmetik selalu dianggap solusi paling tepat maka sesungguhnya buruk raga tak kan hijrah kemana. Wah berarti harus operasi plastik dong? Ya nggak juga, karena jangan-jangan nggak percaya diri atawa minder yang menjadi penyebab masalah utama.

Saat era branding tiba, kata tersebut berubah menjadi mantra. Kata “branding” tak pernah luput terucap dalam perbincangan, karena dianggap sanggup menaikkan kelas. Lalu seolah tiap permasalahan dapat dipadamkan dengan mantra “branding” tersebut, sedang penyakit utamanya tak pernah tersentuh. Kalaupun tersentuh, merasa enggan untuk menyembuhkannya, karena citra dianggap lebih penting, tampilan dianggap urusan utama.

Contoh mudah bagi saya adalah institusi pendidikan. Masalah utama dari institusi pendidikan (di Indonesia, lebih khusus lagi DKV) adalah:

  • Keenganan personilnya untuk membaca, mengembangkan diskursus, mengolah dialog berdasar basis keilmuan.
  • Sulit membudayakan penjabaran desain berdasar obyektivitas keilmuan dengan meminimalkan subyektivitas dalam mantra sakti “menurut gue”.
  • Tak sanggup menjabarkan kata “kreativitas” dalam proses-hasil-evaluasi, bukan sekedar “yang penting beda” tapi nggak sanggup menjabarkan bedanya itu apa dan mengapa harus beda, jangan-jangan hanya sekedar yang penting beda!
  • Tak sanggup menjabarkan “out of the box” dengan menyertakan “box”-nya itu sendiri apa? Karena, bagaimana mau keluar kotak bila kotaknya sendiri tidak tahu yang mana.

Sesungguhnya menjalankan pengajaran-penelitian-pengabdian dengan baik dan benar plus sepenuh hati sudah teramat cukup untuk mengangkat sebuah institusi ke derajat tertinggi sesungguhnya. Kualitas paripurna dari tiga aspek tersebut menjadikan sebuah institusi pendidikan menjadi lebih bermartarbat ketimbang  melalui pendekatan-pendekatan popular lainnya, karena secara tegas menjalankan inti dari peran dan fungsi sesungguhnya dari institusi pendidikan itu sendiri.

Bila diagnosa penyakit telah ditemukan, resep telah selesai dituliskan, yang sakitpun harus tersadar dengan penyakit yang dideritanya, karena penyangkalan hanya akan membuat semakin kronis penyakit yang diderita. Semakin kronis semakin sulit disembuhkan, keseharian tak lebih dari wujud zombie yang bergerak tanpa tahu apa yang dikerjakan, kualitas tak lagi menjadi tujuan karena rutinitas dan pola kerja “yang penting ada” telah menjadi anut kepercayaan, dan kematianpun tak lagi menjadi sebuah penantian karena telah berubah menjadi keniscayaan.

Jangan jadikan “branding” sebagai obat sapu jagad, karena sesungguhnya tak ada obat sapu jagad di dunia ini, selain suntik mati!

. . .

injection icon by iconfinder.net

Jangan Kamu Anggap Bodoh…

Dahulu itu, saat masih bersekolah dan berkuliah, selalu saja dapat bertemu dengan rekan-rekan yang sedemikian lihainya mencontek bila ujian berlangsung. Wajah dapat sedemikian tenangnya, sedang tangan serta mata beraktivitas ke sana ke mari membuka contekan. Saya saat itu pun sedemikian yakinnya si penjaga ujian tidak mengetahui seluruh aktivitas itu.

Namun, saat saya menjadi pengajar, perspektif tersebut demikian mudahnya berubah. Ternyata berdiri ataupun duduk di muka kelas itu sedemikian mudahnya untuk mengenali mana saja mahasiswa saya yang sedang melakukan aktivitas contek mencontek tadi. Wajah-wajah (sok) tenang tersebut begitu mudah terlihat sedang melakukan kecurangan. Melihat gerak-gerik tangan yang sedemikian berhati-hatipun mudah sekali untuk mengenali ada kegiatan lain yang dilakukan selain mengerjakan soal ujian.

Kejadian tersebut kembali berulang pada saat saya mulai memiliki posisi yang berkesempatan memiliki anak buah. Tanpa kesulitan, saya mudah sekali menangkap alasan mana yang memang jelas berupa alasan atau sebuah cerita yang disusun dan dirangkai sebelumnya lalu disampaikan ke saya. Mungkin ini yang disebut waktu yang membuat kita semakin kaya dengan pengalaman. Semakin kaya dengan cerita, dan semakin mudah memilah yang terlihat nyata atau bagian dari susunan cerita yang memang telah disiapkan. Saya yakin tiap atasan memiliki kemampuan itu.

Begitupun saat sebagai pengajar berhadapan dengan para mahasiswa yang datang ke kelas tak lengkap dengan ketentuan yang disyaratkan. Lalu mengalir selaksa alasan menyertai, dari tempat nge-print yang belum buka, hard-disk jebol (ini yang paling sering), mati lampu, ban kempes (hmm kok tiba-tiba saya teringat dengan salah seorang mahasiswa bimbingan Tugas Akhir saya yang telah tiada), … “Hei sudahlah, saya juga pernah jadi mahasiswa!”

Saat menjadi atasan ataupun pengajar, mudah sekali untuk mengetahui mana yang benar atau rekayasa saat mendengarkan sebuah alasan yang disampaikan. Namun untuk saya, saat ini lebih memilih untuk tak ambil peduli dengan hal itu, sambil menahan diri untuk tidak mengucap, “Sudahlah, apapun alasanmu. Tolong jangan kamu anggap saya bodoh sampai tidak tahu apa yang kamu jadikan alasan itu…”

. . .

image by wallpaperpimper.com

Nyaman adalah Musuh Utama

Di saat bisnis Colgate-Palmolive (CP) berjalan bagus sejak 1990-an, sang bos besar Reuben Mark justru mulai khawatir. Khawatir jika suasana baik ini justru menjebak, bisa saja segala sesuatu berjalan buruk. Itu sebabnya Reuben Mark memutuskan untuk melakukan instalasi sebuah sistem peringatan dini. Menjaga setiap mata tetap konstan melihat masalah. Sejak itu hampir setengah lusin map merah mendarat di meja sang CEO berisi situation reports.
(Colgate-Palmolive : Bad News Folders.)

Saya lupa mengutip di mana tulisan di atas, sepotong tulisan yang mengingatkan bahwa keadaan “tenang”, “baik-baik saja”, “semua lancar-lancar saja” tidaklah menjadi jaminan bahwa keadaan sebaik yang terlihat. Jangan-jangan hanya sekedar screensaver dari monitor yang CPU-nya bersiap hang karena komponen-komponen di dalamnya tak bekerja dengan maksimal.

Nyaman selalu melenakan, karena memberikan rasa tenang yang menyenangkan. Tenang bukan pertanda untuk beristirahat, justru penanda mesti bersiap. Bila kemenangan berhasil kita raih, yang harus ditanyakan pertama adalah apa yang menyebabkan kemenangan tersebut dapat diperoleh, karena kemenangan tak pernah diraih begitu saja, selalu ada proses yang menyertai sebelumnya. Yang mesti dilakukan justru memperbaiki proses yang telah dilewati hingga meraih kemenangan itu, memperbaiki dengan proses yang lebih baik! Bukan terus mempertahankan proses yang ada serta berpasrah (terlebih tak peduli) dengan proses yang dijalankan, karena tantangan ke depan tak kan pernah sama, tantangan ke depan tak pernah jauh lebih mudah dari sebelumnya.

Kembangkan selalu inovasi baru dalam bekerja, karena keberhasilan bagi saya selalu terikat dengan konteks. Konteks keberhasilan kali ini, tak menjamin berhasil dalam konteks yang lain. Jangan berpasrah kepada ritme berulang yang terus-menerus dikerjakan, karena itu jebakan nyata yang sesungguhnya melelahkan diri kita dengan rutinitasnya, hingga kita tak sempat –bahkan tak mau bertanya– hakekat apa yang sesungguhnya kita jalankan di dalam rutinitas itu.

Dan bila kita tetap terus senantiasa berenang-renang dalam kolam biru yang jernih di bawah terik teduh matahari yang menyamankan, sambil sesekali memejamkan mata serta mengunyah kudapan yang penuh cita rasa, sambil terus menutup telinga dengan earphone yang menyuarakan lagu-lagu pilihan, maka sesungguhnya kita sedang mengundang kegagalan masa depan untuk hadir lebih awal.

Karena itu, tanyakan segera… mengapa saat ini terasa begitu nyaman, mengapa kini semua berjalan baik-baik saja, mengapa kemenangan ini dapat kita peroleh silih berganti…

(10.28)

Images by IconsLand, IconBlock, Babasse.