Burung-burung Manyar

burung-manyar

Menemukan buku Burung-burung Manyar karya Romo Mangun itu seperti bertemu sahabat lama yang pernah sedemikian akrabnya. Buku ini dicetak ulang, dengan tampilan yang begitu berbeda dari terbitan awalnya. Lebih segar, lebih ilustratif. Terlebih bila disandingkan dengan gambar sampul dari terbitan-terbitan dahulunya yang didominasi oleh warna solid. Terbitan pendahulunya itu hadir bergantian dalam dominasi warna putih solid, hijau dan merah dengan sampul berhias huruf berjenis script yang dipadukan dengan garis-garis penuh liuk bersulur.

Kini, edisi cetak ulangnya tampil dengan gambar sampul yang lebih banyak warna. Ilustrasi siluet seorang pemburu unggas tersaji di sana, bukan dalam bentuk bayang hitam siluet yang utuh, namun hadir dalam pulasan warna yang penuh ragam serta mencolok, menggambarkan pergulatan fisik dan batin dari tokoh yang terdapat di dalam tutur cerita. Pilihan jenis huruf berkategori serif dengan tubuh yang ringkih semakin menguatkan pesan nuansa konflik batin yang menaungi tokoh utama di sepanjang cerita.

Hal lain yang dapat diadusandingkan dengan terbitan sebelumnya adalah kualitas fisik dari buku tersebut. Pada lembaran demi lembaran buku dijumpai rangkaian jenis huruf yang nyaman untuk dibaca, dengan tingkat keterbacaan huruf yang baik. Selain itu, pilihan jenis kertas yang ringan turut memberikan nilai tambah bagi fisik buku tersebut.

Ah… segera terbayang kenikmatan menelusuri lembar demi lembar buku ini. Kembali menjumpai Teto dan Atik. Sambil merekonstruksi kembali penggalan ingatan saat dulu membaca buku ini, sambil –berteman nyaring suara jangkrik yang bersahutan, dingin pun hadir menyusup, semakin memekat bersama listrik yang tak stabil mengalir, hingga tak sanggup menjaga benderangnya pijar lampu. Juga secangkir teh kental dengan gula sejumput, dan singkong goreng yang rekah hasil mencabut sore tadi di tegalan.

* * *

Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum & Propaganda 1965-1981

teror-orde-baru

Buku ini awalnya berjudul Teror Suharto, namun akhirnya diganti menjadi Teror Orde Baru karena ditolak masuk ke jaringan toko buku. Padahal sampul telah selesai dicetak, akhirnya mesti dicetak ulang. Orde Baru tidak juga hilang dari negeri ini.

Buku terbitan KomunitasBambu.com ini secara gamblang membentangkan rangkaian fakta sejarah bagaimana hukum, teror dan propaganda diciptakan untuk merebut, memanipulasi dan mempertahankan kekuasaan. Dan, Suharto ada di balik semua itu. Judul pertama semestinya jauh lebih tepat, jauh lebih tepat juga dibanding judul aslinya, Indonesia: Law, Propaganda and Terror.

Termasuk bila mencermati buku-buku lain yang menuliskan hubungan Suharto dan Islam, tak hanya masyarakat yang diadu domba, ABRI pun menjadi wilayah yang tak luput ia buat saling berhadapan, ABRI Merah Putih vs ABRI Hijau. Semuanya hanya untuk satu tujuan, melanggengkan kekuasaan.

Di awal kekuasaan Suharto alergi dengan kata “Insya Allah”, bahkan pada saat ia umroh, Suharto lebih memperhatikan urusan keselamatannya ketimbang aturan yang tidak memperbolehkan non muslim untuk masuk ke wilayah-wilayah haram. Nyatanya pengawal non muslim termasuk LB Moerdani dapat turut masuk ke dalam Masjidil Haram, mengawal Suharto! (Buku Dr. Salim Said).

Terkait (lagi-lagi) soal Pilpres,
menjual penganugerahan Suharto sebagai pahlawan sungguhlah ironis, buta sejarahnya telah sampai di level KRONIS. Tapi menafikan fakta bahwa para aktor Orde Baru kini turut berdiri di dua kubu itu pun sungguh naif.

Akhirnya pernyataan Roy Jeconiah, mantan vokalis Boomerang saat kemarin hadir di Konser Salam 2 Jari di GBK menjadi dalam bermakna, “Jangan itu jadi sia-sia, kalau nanti ada suatu hal yang kurang, siapa pun yang hari ini terlibat, nanti semua harus turun ke jalan, jadi parlemen jalanan.”

 

* * *

Mahesa Edan, Pendekar dari Liang Kubur

mahesa-edan

Dari karya-karya Bastian Tito yang lebih dikenal sebagai penulis cerita silat Wiro Sableng, saya lebih menyukai karya lainnya yakni Mahesa Edan, Pendekar dari Liang Kubur. Sama halnya dengan Wiro Sableng, kisah Mahesa dipenuhi oleh taburan nama dan julukan ala cerita silat yang menarik, seperti:

  • Eyang Kunti Kendil
  • Randu Ampel
  • Mangun Aryo (Bupati Probolinggo)
  • Roko Nuwu (Embah Bromo Tunggal)
  • Suko Inggil (Pendekar Muka Tengkorak)
  • Gembel Cengeng Sakti Mata Buta
  • Lembu Surah (Datuk Penghisap Darah)
  • Made Tantre (Tangan Dewa dari Klungkung)
  • Wirapati (Iblis Gila Tangan Hitam)
  • Suwo Permana (Malaikat Maut Berkuda Putih)
  • Kakek Mata Biru
  • Dewi Mesum

Senjata yang dimiliki Mahesa pun tak kalah uniknya, yakni berupa Papan Nisan Kayu Hitam. Selain itu, bermacam jurus silat dikuasai oleh Mahesa baik yang didapat dari gurunya Eyang Kunti Kendil maupun ilmu-ilmu yang didapat di perjalanan seperti yang didapat dari orang nomor satu di dunia persilatan saat itu, Gembel Cengeng Sakti Mata Buta. Belum lagi ilmu kuno yang belum sempat dipelajarinya namun telah dimiliki kitabnya yakni Buku Tujuh Jurus Ilmu Silat Orang Katai yang didapat hasil pemberian dari tujuh orang katai yang menyelamatkan Mahesa dari kematian yang disebabkan amukan Eyang Kunti Kendil.

Berikut ilmu-ilmu silat yang dikuasai oleh Mahesa, dengan nama-nama khas gubahan Bastian Tito, yakni:

  • Pukulan Api Geledek Menggusur Makam
  • Di Atas Kubur Badai Mengamuk
  • Tombak Sakti Menembus Liang Kubur
  • Pukulan Makam Sakti Meletus
  • Macan Gila Keluar dari Kubur
  • Batu Karang Menghimpit Kuburan
  • Kincir Air Melabrak Kuburan
  • Si Buta Mencengkeram Langit
  • Si Buta Terjatuh Menggapai Karang

Laetitia Casta

130118-laetitia-casta Judul Buku:
Laetitia Casta

Penerbit, Tahun Penerbitan, Jumlah Halaman
Paris: Viking Studio Callaway Editions, 1999, 128 halaman

Ini satu-satunya buku biografi visual yang saya miliki, oleh-oleh dari seorang teman yang menyambangi Paris. Sesuai dengan jenisnya, buku ini dipenuhi oleh foto-foto perjalanan karir Laetitia, termasuk foto-foto pribadinya yang menunjukkan saat ia di masa kecil. Dilengkapi juga dengan foto-foto yang belum pernah rilis sebelumnya, serta tulisan-tulisan yang merepresentasikan sisi-sisi lain dari seorang Laetitia. Lewat buku ini akan tergambar secara tersurat, kehadiran Laetitia sebagai muara bertemunya kecantikan, kerja keras, attitude dan kesempatan.

Bermodal tinggi badan ‘hanya’ 168 cm tentu bukan modal yang kuat untuk menembus dunia fashion dan modelling. Terlebih bentuk gigi tak rapi yang dimilikinya. Namun, nyatanya hal tersebut bukan halangan. Laetitia berhasil meraih titik-titik pencapaian yang mengukuhkan dirinya sebagai model produk papan atas, dari GUESS girl, Victoria’s Secret Angel, L’Oreal. Kemudian muncul di lebih 100 cover majalah seperti Cosmopolitan, Vogue, Rolling Stone, Elle dan Glamour. Serta menjadi model untuk desainer nomor wahid dunia semisal Yves Saint Laurent, Jean-Paul Gaultier, Chanel, Ralph Lauren, Tommy Hilfiger, Louis Vuitton.

* * *
Thanks buat @indysproperty atas bukunya, “susahlah buat nggak ngiler =)”

Mentjapai Indonesia Merdeka

130112-mentjapai-indonesia-merdeka

Belum sempat membaca isi buku ini, hanya ingin berbagi kata pengantar yang terdapat di dalam buku ini, yang dituliskan Soekarno pada tahun 1933. Buku ini sendiri ditulis pada saat Soekarno beristirahat di sesuatu tempat di pegunungan selatan Bandung (Pengalengan) pada bulan Maret 1933.

Saja tuliskan apa adanja sesuai jang ada…

– – –

Kata Pendahuluan
Mentjapai Indonesia Merdeka

Hanja Rakjat jang mau merdeka bisa merdeka
(Tilak)

Selatan dari Bandung adalah satu tempat-pegunungan jang bernama Pengalengan. Ditempat itu saja, sekembali saja dari saja punja tournee temphohari ke Djawa Tengah jang membangkitkan Rakjat sedjumlah 89.000 orang, bervakansi beberapa hari melepaskan kelelahan badan. Dalam vakansi itu saja menulis ini risalah, ini vlugschrift.

Isinja buat kaum ahli-politik tidak baru, tapi buat orang jang baru mendjedjakkan kaki digelanggang perdjoangan ada faedahnja djuga. Untuk mendjaga djangan sampai risalah ini mendjadi terlalu tebal, dus djuga djangan sampai terlalu mahal harganja, maka hanja garis-garis besar sadja jang bisa saja guratkan.

Misalnja fasal ,,Diseberang Djembatan-emas” kurang djelas. Tetapi Insja Allah akan saja bitjarakan nanti spesial didalam risalah lain, jang djuga akan bernama ,,Diseberang Djembatan-emas”.

Moga-moga risalah ini banjak dibatja oleh Marhaen.

SOEKARNO
Maret 1933