Pemimpin dan Seni

Serimpi in de kraton te Jogjakarta, 1932 (KITLV)

Serimpi in de kraton te Jogjakarta, 1932 (KITLV)

Pernah membayangkan Maharaja Majapahit, Hayam Wuruk ambil bagian dalam satu prosesi tarian? Ternyata hal tersebut benar-benar pernah terjadi, sebagai bukti kitab Nāgarakrtāgama telah mencatatnya. Kitab yang ditulis Mpu Prapanca itu menyebutkan kemampuan Hayam Wuruk dalam olah tari (mangigel) sampai-sampai para penonton saling berebut tempat untuk menyaksikan. Tariannya sendiri sepertinya memang bukan dipentaskan untuk kesenangan semata, namun berlangsung dalam rangka upacara Śrāddha, yakni aktivitas keagamaan yang diselenggarakan untuk memperingati 12 tahun meninggalnya tokoh yang dihormati. Tidak hanya mangigel, Hayam Wuruk juga tercatat kerap menyempatkan diri untuk mencatat keindahan daerah yang disinggahinya dalam bentuk bhāsa dan lambang pada saat mengelilingi wilayah kerajaannya.

Menjadi pemimpin di era kerajaan kuno sepertinya memang mesti memiliki kemampuan yang lengkap di berbagai lini. Di lini seni, tidak hanya kemampuan individu yang harus dimiliki, namun seorang pemimpin juga mesti menjadi pelindung dan sosok yang turut mengambil peran dalam pengembangan kesenian.

Kitab dari era Janggala-Kadiri –Sumanasāntaka, mencatat pada era tersebut raja turut mengambil peran dalam pengembangan kesenian dengan memunculkan kelompok ahli di bidang kesenian di area keraton, misalnya terdapat kelompok yang memusatkan diri pada penciptaan lagu dan kakawin, hingga tradisi memberikan hadiah bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih dalam berkesenian.

Bila menengok ke tradisi keraton Yogyakarta, seorang raja menggubah sebuah tarian bukanlah hal yang luar biasa, para raja atau sultan memiliki kemampuan tersebut. Sri Sultan Hamengku Buwono I menggubah tari klasik gaya Yogyakarta yang kerap disebut sebagai Joged Mataram. Sedang Sri Sultan Hamengku Buwono II menggubah tarian sakral, Bedhaya Semang dan menggubah wayang wong dengan lakon Pragola Murti. Selain kedua sultan tadi, Sri Sultan Hamengku Buwono IX termasuk yang produktif dalam menggubah karya seni, tercatat tarian Bedhaya Sapta dan Bedhaya Manten Sangaskara merupakan karya yang digubahnya. Selain itu Beksa Golek Menak juga masuk dalam daftar portfolio karya yang digubahnya.

Bergeser ke era republik, hampir pasti Sukarno berada di daftar teratas pemimpin yang lekat dengan seni. Latar pendidikan arsitektur yang dimilikinya turut mengambil peran dalam aktivitas pembangunan fisik. Tak kurang Mesjid Istiqlal, Monumen Nasional, Gedung Conefo, Gedung Sarinah, Wisma Nusantara, Hotel Indonesia, Tugu Selamat Datang, Monumen Pembebasan Irian Barat dan Patung Dirgantara merupakan karya-karya arsitektur yang dibangun atas ide, perintah serta pengawasan Sukarno. Dan apabila kita mengetik kata ‘sukarno’ dan ‘lenso’ pada mesin pencari Google, maka akan segera muncul ribuan hasil pencarian baik itu artikel, gambar maupun video. Bahkan secara khusus Sukarno menggubah lagu berjudul Bersuka Ria yang digunakan untuk mengiring tarian lenso, sebuah tarian yang digali dari daerah Ambon, Maluku. Lagu tersebut digubah bersama Orkes Irama yang dipimpin oleh Jack Lesmana.

Empat jilid buku koleksi seni Presiden Sukarno yang diterbitkan pada tahun 1956 dan 1959 hingga kini tetap dianggap menjadi literatur penting yang mencatat koleksi besar era awal lukisan Indonesia modern. Selain sebagai bentuk kecintaan dirinya atas seni, penerbitan buku tersebut merupakan bagian perjuangan politik dirinya yang menggunakan medium seni sebagai alat kemerdekaan dan penegasan diri.

Tidak berhenti di situ, seni sebagai bagian revolusi terus dikumandangkan oleh Sukarno. Manifesto Kebudayaan (Manikebu) tahun 1963 “yang kebarat-baratan” dianggap memperlemah revolusi dan harus berhadapan langsung dengan Sukarno yang tengah mengusung semangat kembali ke kepribadian sendiri. Koeswoyo Bersaudara merupakan salah satu musisi yang menerima dampak langsung kebijakan tersebut. Kelar menyanyikan lagu The Beatles I Saw Her Standing There di rumah seorang kolonel, penjara Glodok menanti mereka untuk ditempati sebagai sel tahanan. Seni menjadi urusan serius dalam label revolusi.

Merujuk kembali ke kitab Sumanasāntaka, sebenarnya tak muluk yang diharapkan dari seorang pemimpin, cukup dengan kuasa yang dimilikinya maka berikanlah kesenian ruang untuk terus berkembang luas, berikanlah dukungan (baik materi dan non materi) untuk lahirnya karya-karya berkualitas. Plus kesadaran, bila tak memiliki kemampuan seni tak perlu merasa harus turut ambil bagian dari lahirnya karya seni, beneran nggak perlu. Misalnya nggak perlu untuk berasa fasih menggubah lagu dan dilanjutkan dengan rilis album #uhuk

 

– – –

  • Atmakusumah (Penyunting). 1982. Tahta Untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta: Gramedia.
  • Sedyawati, Edi (Penyunting). 2002. Indonesian Heritage: Seni Pertunjukan. Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International.
  • Soemantri, Hilda (Penyunting). 2002. Indonesian Heritage: Seni Rupa. Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International.
  • Rahardjo, Supratikno. 2011. Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir. Jakarta: Komunitas Bambu.
Advertisements

Sosrokartono: Spiritualis & Poliglot 24 Bahasa

02-Sosrokartono

Siapa kakak laki-laki RA Kartini?

Pernah mendapat pertanyaan serupa? Lewat semangat penuh humor canda pasti akan kita jawab dengan, “Kartono!”

Ternyata jawaban tersebut tidak salah. Yap, kakak RA Kartini memang bernama Kartono, lengkapnya, Raden Mas Panji Sosrokartono. Kini banyak yang tidak mengetahui sepak terjang dari Sosrokartono, padahal sederet kemampuan mentereng ia kuasai, juga segudang aktivitas keren pernah ia jalani. Salah satu label yang melekat pada dirinya adalah didaulat sebagai guru spiritual Bung Karno, bayangkan, muridnya saja sehebat itu tentunya Sang Guru bukan orang sembarangan.

Sosrokartono lahir di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, pada Rabu 10 April 1877, sebagai anak dari bupati Jepara. Sosrokartono kecil telah menunjukkan bakat-bakat luarbiasa –sebutan anak indigo sepertinya tepat untuk disematkan. Sosrokartono kecil mampu “melihat” masa depan, serta cerdas luar biasa. Selepas sekolah di HBS (Hoogere Burgerschool, sekolah lanjutan tingkat menengah untuk orang Belanda, Eropa, juga pribumi ningrat. Setara dengan SMP + SMA, namun totalnya hanya 5 tahun) Sosrokartono melanjutkan sekolahnya ke Belanda. Sekolah Teknik Tinggi di Leiden menjadi pilihan awal, dalam perjalanannya ia merasa tidak sesuai lalu pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Di jurusan tersebut ia menyandang gelar Docterandus in de Oostersche Talen, dan berhak meletakkan Drs di hulu namanya.

Selain Raden Saleh yang melegenda lewat lukisannya, Sosrokartono tentunya termasuk pribumi generasi awal yang melanglang di bawah langit Eropa. Wartawan perang adalah salah satu status pekerjaan yang pernah ia sandang. Tidak tanggung-tanggung, The New York Herald Tribune, menjadi tempat ia bekerja sebagai koresponden Perang Dunia I.

Cerita dibalik rekrutmen menjadi koresponden di surat kabar bergengsi dari Amerika Serikat itu amatlah menarik. Jadi, andai saat itu Twitter sudah beroperasi, pastilah Sosrokartono menjadi master kelas dewa untuk utak-atik 140 karakter, karena tes masuknya berupa tantangan untuk menyingkat satu kolom berita berbahasa Perancis ke dalam tulisan berjumlah kurang lebih 30 kata, dan ditulis dalam 4 bahasa (Inggris, Rusia, Spanyol dan Perancis). Pelamar lain yang didominasi bangsa Eropa tidak mampu mencapai 30 kata, namun Sosrokartono berhasil memadatkan hingga 27 kata!

Kemampuan berbahasa Sosrokartono memang di luar batas normal, ia menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa daerah di nusantara, seorang poliglot tulen. Bahkan menurut Bung Hatta, Sosrokartono menguasai bahasa Basque (Basken). Basque sendiri adalah bahasa yang dituturkan oleh orang Basque yang hidup di daerah Pyrenea di utara-tengah Spanyol, bersebelah dengan wilayah utara-barat Perancis. Basque dipercaya sebagai bahasa terasing, bukan bahasa Indo-Eropa, dan Sosrokartono menguasari bahasa terisolasi tersebut.

Masih dari buku biografi Bung Hatta, dituliskan bahwa sebagai koresponden Sosrokartono memiliki gaji $ 1.250, dengan gaji sebesar itu ia dapat hidup sebagai miliuner di Wina, Austria, tempat ia tinggal. Selama 26 tahun melanglang Eropa, silih berganti pekerjaan hebat, hidup di dalam lingkaran jet set, juga kaum intelektual internasional, tak membuatnya puas, justru konflik batin terus merundungnya. Titik nadirnya berada saat Sosrokartono bertemu dengan anak kenalannya yang berumur sekitar 12 tahun. Si anak mengidap penyakit yang tak kunjung sembuh walau sudah diobati oleh banyak dokter. Namun, pada saat Sosrokartono menyentuh dahi anak itu, terjadilah keajaiban. Si anak membaik dalam hitungan detik dan sembuh di hari yang sama. Seorang ahli psikiatri dan hipnosis menjelaskan bahwa ternyata Sosrokartono memiliki daya persoonlijke magnetisme yang sangat besar namun tidak ia sadari.

Keinginan untuk mendalami kemampuan yang ia miliki membawa dirinya pergi ke Paris untuk belajar di universitas di kota itu. Namun ia tidak bisa mendapatkan pembelajaran penuh karena bukan lulusan dari kedokteran. Tahun 1925, kekecewaan yang ia alami karena ditolak bersekolah di jurusan psychometrie dan psychotecniek itu menuntunnya memperoleh ilham untuk kembali ke tanah air. Setelah itu, segala kemewahan ia tanggalkan, kemewahan dunia ia lepaskan, semua ia lakukan untuk mengabdi kepada rakyat Indonesia, demi kepentingan umat, menjadi penolong sesama manusia yang menderita sakit jasmani dan rohani.

* * *

Daftar Pustaka

  • Hatta, Mohammad. (2011). Untuk Negeriku. Bukittinggi-Rotterdam Lewat Betawi. Sebuah Otobiografi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
  • Syuropati, Mohammad A. (2015). Ajaran-ajaran Adiluhung Raden Mas Panji Sosrokartono. Yogyakarta: Syura Media Utama.
  • Ploso, Lilis. (2007). M. Panji Sosrokartono. http://xendro.wordpress. com/2007/10/24/rm-panji-sosrokartono/. Diakses Kamis, 23 April 2015.

Sukarno & Kumis Hipster

05-Sukarno-dan-Kumis-Hipster

Kumis dan hipster, relevansi dua objek tersebut terbangun dengan cara yang amat sederhana, yakni lewat keinginan untuk senantiasa tampil beda. Segala aspek berusaha ditampilkan demi keinginan tampil beda tersebut, dan fashion menjadi ranah terpilih yang paling sering digarap. Bukan hanya pakaian, dan aksesoris namun juga elemen yang melekat ke tubuh seperti tato, body piercing, hingga bagian dari tubuh itu sendiri seperti rambut, kuku, janggut hingga kumis. Elemen-elemen tersebut ditonjolkan, dipadupadankan menjadi identitas pembeda, mencirikan kaum hipster. Wajah dalam balutan bulu-bulu yang tumbuh tak beraturan kini malah menjadi pilihan untuk tambil beda, termasuk kumis yang dibiarkan tumbuh liar ataupun yang dipelihara sepenuh jiwa. Padahal sekian waktu lalu, wajah dalam tampilan bersih dan klimislah yang menjadi pilihan utama.

Norman Kerry adalah aktor kelahiran 1894 yang memiliki dua puluh lima tahun karir di kancah industri film Amerika, dimulai saat era film bisu pada akhir Perang Dunia I. Aktor kelahiran Rochester, New York ini membintangi lebih dari enam puluh film di sepanjang karirnya. Kumis rapi dan melengkung ke atas pada kedua ujungnya adalah ciri utama yang terdapat pada wajah Kerry. Era tersebut memang memiliki elemen standar ketampanan berupa kumis tajam menantang langit.

Di waktu yang sama, awal tahun 1920-an, Sukarno muda yang telah tinggal di Bandung tak luput untuk berusaha tampil mengikuti Kerry yang memang menjadi idaman di era tersebut. Sukarno muda berusaha untuk tampil lebih dewasa dan lebih tampan, kumis pun dipelihara sambil berharap hasilnya akan mirip dengan Kerry. Namun, sayang kumis yang diidamkan tidak tumbuh seperti yang diimpikan, ujung kumis yang diharapkan tumbuh melengkup menantang langit malah melengkung menuju bumi. Bahkan Inggit –istri Sukarno kala itu, mengatakan bahwa justru Charlie Chaplin-lah yang berhasil ditiru oleh orator ulung tersebut. Keinginan untuk meniru penampilan seseorang pun pupus, dan diklaim oleh Sukarno menjadi satu-satunya usaha peniruan yang dilakukan olehnya.

Meniru lewat pengamatan merupakan salah satu metode belajar sosial. Albert Bandura dan Richard Walters (1959-1963) bahkan menyarakan pembelajaran dengan metode tersebut dilakukan sebanyak mungkin walau tanpa menerima penguatan (reinforcement) sekalipun dari dalam diri maupun stimulus dari lingkungannya. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku objek yang kita tiru (model), dan dampak ataupun hasil yang diperoleh oleh model tersebut. Proses belajar semacam ini disebut sebagai observational learning –pembelajaran melalui pengamatan. Namun yang terpenting adalah peniruan tersebut bukan hanya tampilan fisik/visualnya saja, mencari tahu latar pemikiran dan landasan alasan yang menyertai pemilihan objek yang kita tiru itu justru hal utama yang semestinya kita lakukan. Selain itu, berpijak pada klausa bahwa “tidak semua objek hasilnya tepat untuk ditiru di diri kita” itu semestinya selalu menjadi pijakan awal. Toh, bila semua berawal dari alasan asal beda saja hanya akan menciptakan kelompok baru lagi yang sama dalam tampilan dan semangat, yakni sama-sama asal beda.

* * *

Daftar Pustaka

  • Adams, Cindy. (2000). Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. (Alih bahasa: Abdul Bar Salim). Jakarta: Ketut Masagung Corporation.
  • Tarsidi, Didi. (2008). Teori Kognitif Sosial Albert Bandura. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Radio Ikut Pensiun

radio

Sejarah Indonesia mencatat radio memiliki peran penting dalam proses penyebaran informasi kemerdekan Indonesia.

Pada saat sore hari setelah proklamasi Republik Indonesia dibacakan oleh Sukarno-Hatta, seorang pemuda bernama Syachruddin dengan heroik melakukan tindakan berani. Ia wartawan di Domei (Kantor Berita Jepang) menyusup ke gedung radio dan ruang pemberitaan sambil membawa teks proklamasi yang didapatnya dari Adam Malik. Singkat cerita, tepat pukul 19.00 teks proklamasi dibacakan berulang-ulang dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris selama 15 menit. Pukul 20.30 Kampetai (Polisi Militer Jepang) merangsek masuk ke ruang studio dan menyiksa mereka yang terlibat di penyiaran berita proklamasi tersebut. Aksi heroik tersebut berdampak luar biasa, berita tersebut berhasil diteruskan ke luar negeri. Seorang wartawati bernama SK Trimurti pada tanggal 18 Agustus 1914 berhasil memberitakan lewat sebuah kantor berita Amerika Serikat di San Fransisco bahwa telah lahir negara baru di Asia Tenggara bernama Indonesia.

April 2015 lalu sebuah berita diturunkan oleh Gizmodo.com, situs tersebut mewartakan “kematian” radio. Yap, Menteri Kebudayaan Norwegia mengumumkan bahwa dimulai tahun 2017 nanti frekuensi radio FM nasional mereka akan “dimatikan”. Media radio konvensional itu akan melakukan transformasi menjadi radio digital memanfaatkan teknologi Internet, teknologi pengganti tersebut disebut dengan Digital Audio Broadcasting.

Radio selalu memiliki tempat tersendiri di masyarakat, teknologi tv yang pada awal kelahirannya dianggap akan memunahkan radio ternyata tidak terbukti. Sekian waktu bergulir, konten radio terus mencari bentuk-bentuk baru, sebagian bertahan namun sebagian yang lain hilang tak lagi dapat didengarkan. Karakteristik audio yang khas tidak menjadikan keterbatasan pada dirinya, justru memberikan tantangan keunikan pada konten-konten yang dihasilkan. Melihat kondisi yang berkembang, radio secara konten karakteristik akan tetap bertahan, ia hanya mencari format saluran yang baru, dari bentuk sinyal frekuensi bertransformasi menjadi jalur data Internet.

Kematian dan kelahiran pada teknologi tidak pernah berhenti, ia terus bergerak memakan korban atau menghadirkan pemain baru. Dalam dunia musik, piringan hitam tergantikan oleh kaset, lalu cakram data (compat disc), dan kini dalam format digital. Dalam dunia film yang dapat dikonsumsi di rumahan, kaset betamax digantikan oleh VHS, lalu sempat hadir laser disc, tak lama kemudian hadir VCD (video compact disc) diikuti oleh DVD (digital versatile disc) baik yang dalam format biasa ataupun hi-format.

William F Ogburn seorang sosiolog berkebangsaan Amerika mengatakan bahwa teknologi adalah mekanisme yang dapat mendorong terjadinya perubahan, manusia selamanya akan senantiasa berusaha memelihara dan beradaptasi diri dengan alam, teknologi turut berperan dalam melakukan pembaruan. Digital Audio Broadcasting pada akhirnya adalah bentuk adaptasi manusia atas kehidupan, integrasi media dan integrasi sistem dianggap memudahkan hidup manusia, semua perubahan diarahkan ke titik tersebut. Mereka yang tidak turut dalam arus besar tersebut dengan mudah ditinggalkan, diabaikan, dan akhirnya yang “pasti” di dalam kehidupan itu adalah “perubahan” itu sendiri.

* * *

Daftar Pustaka

Asal-usul Nama Pondok Labu Jakarta

pondok-labu

Berinteraksi dengan area Pondok Labu itu telah berlangsung semenjak tahun 1987, saat bersiap untuk pindah ke wilayah Gandul dilanjutkan dengan pindah sekolah dasar ke wilayah itu. Saat itu pun kelurahan yang berkode pos 12450 ini sudah rieweuh, macet, penuh angkot dan penuh anak sekolah. Dulu ada teman SMP yang menjuluki Pondok Labu sebagai kota pelajar, ada benarnya juga karena di wilayah seluas 3,61 km2 ini tumpah ruah dari SD hingga perguruan tinggi.

Bila membaca buku Asal-usul Nama Tempat di Jakarta karya Rachmat Ruchiat, nama Pondok Labu berasal dari gabungan dua kata, pondok dan labu. Gabungan kata tersebut dapat berarti pondok atau gubuk yang dirambati (tanaman) labu.

Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah memang dahulu daerah Pondok Labu banyak ditanami oleh tanaman labu.

Informasi berbeda pernah saya dapatkan dari supir angkot (saya lupa angkot KWK S03 atau D01), yang pasti waktu itu sedang berangkat untuk renang ke Lebak Bulus, duduk di kursi depan, ngobrol dengan Pak Supir. Pak Supir mengatakan, disebut Pondok Labu karena wilayah tersebut awalnya disebut dengan Pondok Labuh, karena menjadi tempat berlabuh dari angkutan-angkutan dari beragam wilayah. Dari Pasar Minggu, Ciputat, Lebak Bulus, Cinere, Blok M. Semenjak dahulu, wilayah Pondok Labu telah menjadi tempat bertemunya kendaran dari beragam wilayah. Namun yang menarik, hingga hari ini tidak ada terminal yang dibangun di wilayah itu, akibatnya angkot berhenti berserak seenak-enaknya menciptakan kemacetan.

Pak Supir juga sempat bercerita dulu itu daerah MPR Fatmawati jembatannya masih dari pohon kelapa yang dibentangkan. Oplet adalah kendaraan yang melintas dari daerah Blok M lama ke Pondok Labu. Andong, dokar ataupun delman adalah angkutan utama. Hingga hari ini kendaraan yang ditarik kuda itu masih ada di Pondok Labu. Pada saat saya pindah ke Gandul, dokar masih jadi angkutan utama bila ingin ke Gandul lewat Pangkalan Jati.

Masih dari Pak Supir, di dekat Pondok Labu ada tempat yang bernama Dapur Susu, konon nama tersebut diperoleh karena di wilayah itu dahulu ada tempat memasak susu untuk kebutuhan pasien-pasien RS Fatwamati. Kini wilayah tersebut lebih dikenal dengan sebutan Dapsus. Sayangnya letak persis tempat mengolah susu tersebut Pak Supir tidak menyebutkan.

 

*  * *