Sukarno & Kumis Hipster

05-Sukarno-dan-Kumis-Hipster

Kumis dan hipster, relevansi dua objek tersebut terbangun dengan cara yang amat sederhana, yakni lewat keinginan untuk senantiasa tampil beda. Segala aspek berusaha ditampilkan demi keinginan tampil beda tersebut, dan fashion menjadi ranah terpilih yang paling sering digarap. Bukan hanya pakaian, dan aksesoris namun juga elemen yang melekat ke tubuh seperti tato, body piercing, hingga bagian dari tubuh itu sendiri seperti rambut, kuku, janggut hingga kumis. Elemen-elemen tersebut ditonjolkan, dipadupadankan menjadi identitas pembeda, mencirikan kaum hipster. Wajah dalam balutan bulu-bulu yang tumbuh tak beraturan kini malah menjadi pilihan untuk tambil beda, termasuk kumis yang dibiarkan tumbuh liar ataupun yang dipelihara sepenuh jiwa. Padahal sekian waktu lalu, wajah dalam tampilan bersih dan klimislah yang menjadi pilihan utama.

Norman Kerry adalah aktor kelahiran 1894 yang memiliki dua puluh lima tahun karir di kancah industri film Amerika, dimulai saat era film bisu pada akhir Perang Dunia I. Aktor kelahiran Rochester, New York ini membintangi lebih dari enam puluh film di sepanjang karirnya. Kumis rapi dan melengkung ke atas pada kedua ujungnya adalah ciri utama yang terdapat pada wajah Kerry. Era tersebut memang memiliki elemen standar ketampanan berupa kumis tajam menantang langit.

Di waktu yang sama, awal tahun 1920-an, Sukarno muda yang telah tinggal di Bandung tak luput untuk berusaha tampil mengikuti Kerry yang memang menjadi idaman di era tersebut. Sukarno muda berusaha untuk tampil lebih dewasa dan lebih tampan, kumis pun dipelihara sambil berharap hasilnya akan mirip dengan Kerry. Namun, sayang kumis yang diidamkan tidak tumbuh seperti yang diimpikan, ujung kumis yang diharapkan tumbuh melengkup menantang langit malah melengkung menuju bumi. Bahkan Inggit –istri Sukarno kala itu, mengatakan bahwa justru Charlie Chaplin-lah yang berhasil ditiru oleh orator ulung tersebut. Keinginan untuk meniru penampilan seseorang pun pupus, dan diklaim oleh Sukarno menjadi satu-satunya usaha peniruan yang dilakukan olehnya.

Meniru lewat pengamatan merupakan salah satu metode belajar sosial. Albert Bandura dan Richard Walters (1959-1963) bahkan menyarakan pembelajaran dengan metode tersebut dilakukan sebanyak mungkin walau tanpa menerima penguatan (reinforcement) sekalipun dari dalam diri maupun stimulus dari lingkungannya. Kita bisa meniru beberapa perilaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku objek yang kita tiru (model), dan dampak ataupun hasil yang diperoleh oleh model tersebut. Proses belajar semacam ini disebut sebagai observational learning –pembelajaran melalui pengamatan. Namun yang terpenting adalah peniruan tersebut bukan hanya tampilan fisik/visualnya saja, mencari tahu latar pemikiran dan landasan alasan yang menyertai pemilihan objek yang kita tiru itu justru hal utama yang semestinya kita lakukan. Selain itu, berpijak pada klausa bahwa “tidak semua objek hasilnya tepat untuk ditiru di diri kita” itu semestinya selalu menjadi pijakan awal. Toh, bila semua berawal dari alasan asal beda saja hanya akan menciptakan kelompok baru lagi yang sama dalam tampilan dan semangat, yakni sama-sama asal beda.

* * *

Daftar Pustaka

  • Adams, Cindy. (2000). Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. (Alih bahasa: Abdul Bar Salim). Jakarta: Ketut Masagung Corporation.
  • Tarsidi, Didi. (2008). Teori Kognitif Sosial Albert Bandura. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Advertisements

SastrajendrAvengers

04-SastraJendrAvengers

 
Menciptakan perdamaian dunia pasti mimpi terbesar yang ingin dicapai oleh umat manusia. Pesan itu pula yang coba dibagikan di mega film Avengers: Age of Ultron. Ide tersebut diucapkan pertama kali oleh Tony Stark alias Iron Man. Ia membayangkan sebuah dunia yang damai dan dijaga oleh sebuah sistem yang diciptakan. Sistem tersebut nantinya akan memiliki satu pasukan maha canggih, dengan kecerdasan buatan yang maha dahsyat, termasuk dapat melakukan perhitungan logaritma super ‘njlimet untuk memprediksi keamanan yang bermuara pada perdamaian dunia. Hingga para Avenger dapat memiliki kesempatan yang sama dengan manusia lain untuk beraktivitas normal dalam keseharian dan dapat menikmati kehidupan.

Sepertinya terdengar sangat ideal dan menjanjikan. Namun, Ultron sendiri sebagai hasil dari sistem canggih yang berhasil diciptakan malah merasa janggal. Ia mempertanyakan mengapa manusia menempatkan keteraturan (order) dan kekacauan (chaos) untuk saling bertentangan, bahkan sampai harus dikendalikan sedemikian rupa dengan cara menghilangkan chaos sepenuhnya.

Pernahkah mendengar Sastra Jendra?

Sastra Jendra, atau lengkapnya Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, secara epistemologis disebut sebagai ilmu pengetahuan batin (spiritual) sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup, meliputi ajaran tentang ketuhanan, alam semestra, manusia, dan kesempurnaan. Sastra Jendra sendiri identik dengan budaya Jawa dan lakon pewayangan yang terdapat di dalam kisah Ramayana dengan tokoh utama Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Singkat cerita, Dewata tidak ingin rahasia ilmu suci itu terbuka, mereka urun tangan untuk menggagalkan dan akhirnya Dewi Sukesi yang awalnya hanya berniat untuk mempelajari ilmu tersebut justru harus menikah dengan Begawan Wisrawa, dari pernikahan tersebut lahirlah Rahwana. Dan, epos Ramayana menuturkan bahwa selain Begawan Wisrawa adalah Rahwana yang sanggup menguasai secara sempurna Sastra Jendra. Sosok raksasa yang memiliki karakter sarat angkara murka justru menguasai ilmu maha tinggi tersebut.

Di dalam Sastra Jendra diajarkan tak ada lagi baik dan buruk karena keduanya saling melengkapi. Kita dapat dengan mudah mengutuk sampah yang mengotori sungai, namun di sisi lain ada manusia yang mengais hidupnya lewat sampah-sampah tersebut. Kita mengutuk penyakit-penyakit yang hingga hari ini belum juga terpecahkan penawarnya namun karena itu kehidupan bergulir, peneliti dapat terus bekerja mencari obat penawar, dokter-perawat-rumah sakit dapat melanjutkan aktivitas profesinya, pabrik vitamin dan obat-obatan dapat terus berproduksi memberi pendapatan untuk buruhnya. Di dalam perang yang sangat biadab terbuka kesempatan untuk manusia lain saling menolong, memberikan sebagian hartanya, ada buruh-buruh pabrik senjata yang dapat menyekolahkan anaknya, ada kantor berita yang harus meliput terus-menerus, ada sastrawan yang menghasilkan karya-karya sastra seputar jahatnya perang. Berabad-abad kita menggunakan kertas untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, di sisi yang lain pohon-pohon di hutan kita tebang sebagai bahan bakunya. Di dalam dunia Avengers, bila Loki, Ultron, Thanos tidak ada maka Avengers pun tidak akan pernah muncul

Kembali kepada rasa janggal yang hinggap di pikiran Ultron, nyatanya keteraturan dan kekacauan tidaklah dapat dipisahkan, ia adalah paradoks dan pertentangan yang mengisi kehidupan. Menghilangkan salah-satunya tidak akan membuat kehidupan berjalan, karena kesengsaraan, rasa putus asa, kesulitan hidup, akan membuat manusia senantiasa berharap dan berupaya agar mencapai kedamaian, dengan itulah kehidupan dapat terus berjalan.

* * *

Daftar Pustaka

Sunyoto, Agus. (2012). Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Yogyakarta: Pustaka Sastra LKiS.

Radio Ikut Pensiun

radio

Sejarah Indonesia mencatat radio memiliki peran penting dalam proses penyebaran informasi kemerdekan Indonesia.

Pada saat sore hari setelah proklamasi Republik Indonesia dibacakan oleh Sukarno-Hatta, seorang pemuda bernama Syachruddin dengan heroik melakukan tindakan berani. Ia wartawan di Domei (Kantor Berita Jepang) menyusup ke gedung radio dan ruang pemberitaan sambil membawa teks proklamasi yang didapatnya dari Adam Malik. Singkat cerita, tepat pukul 19.00 teks proklamasi dibacakan berulang-ulang dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris selama 15 menit. Pukul 20.30 Kampetai (Polisi Militer Jepang) merangsek masuk ke ruang studio dan menyiksa mereka yang terlibat di penyiaran berita proklamasi tersebut. Aksi heroik tersebut berdampak luar biasa, berita tersebut berhasil diteruskan ke luar negeri. Seorang wartawati bernama SK Trimurti pada tanggal 18 Agustus 1914 berhasil memberitakan lewat sebuah kantor berita Amerika Serikat di San Fransisco bahwa telah lahir negara baru di Asia Tenggara bernama Indonesia.

April 2015 lalu sebuah berita diturunkan oleh Gizmodo.com, situs tersebut mewartakan “kematian” radio. Yap, Menteri Kebudayaan Norwegia mengumumkan bahwa dimulai tahun 2017 nanti frekuensi radio FM nasional mereka akan “dimatikan”. Media radio konvensional itu akan melakukan transformasi menjadi radio digital memanfaatkan teknologi Internet, teknologi pengganti tersebut disebut dengan Digital Audio Broadcasting.

Radio selalu memiliki tempat tersendiri di masyarakat, teknologi tv yang pada awal kelahirannya dianggap akan memunahkan radio ternyata tidak terbukti. Sekian waktu bergulir, konten radio terus mencari bentuk-bentuk baru, sebagian bertahan namun sebagian yang lain hilang tak lagi dapat didengarkan. Karakteristik audio yang khas tidak menjadikan keterbatasan pada dirinya, justru memberikan tantangan keunikan pada konten-konten yang dihasilkan. Melihat kondisi yang berkembang, radio secara konten karakteristik akan tetap bertahan, ia hanya mencari format saluran yang baru, dari bentuk sinyal frekuensi bertransformasi menjadi jalur data Internet.

Kematian dan kelahiran pada teknologi tidak pernah berhenti, ia terus bergerak memakan korban atau menghadirkan pemain baru. Dalam dunia musik, piringan hitam tergantikan oleh kaset, lalu cakram data (compat disc), dan kini dalam format digital. Dalam dunia film yang dapat dikonsumsi di rumahan, kaset betamax digantikan oleh VHS, lalu sempat hadir laser disc, tak lama kemudian hadir VCD (video compact disc) diikuti oleh DVD (digital versatile disc) baik yang dalam format biasa ataupun hi-format.

William F Ogburn seorang sosiolog berkebangsaan Amerika mengatakan bahwa teknologi adalah mekanisme yang dapat mendorong terjadinya perubahan, manusia selamanya akan senantiasa berusaha memelihara dan beradaptasi diri dengan alam, teknologi turut berperan dalam melakukan pembaruan. Digital Audio Broadcasting pada akhirnya adalah bentuk adaptasi manusia atas kehidupan, integrasi media dan integrasi sistem dianggap memudahkan hidup manusia, semua perubahan diarahkan ke titik tersebut. Mereka yang tidak turut dalam arus besar tersebut dengan mudah ditinggalkan, diabaikan, dan akhirnya yang “pasti” di dalam kehidupan itu adalah “perubahan” itu sendiri.

* * *

Daftar Pustaka

Orang yang Sama

Aku masih orang yang sama,
orang yang masih mendengarkan dan memuja karya Iwan Fals, Sang Legenda. Juga lagu-lagu lima album lama yang penuh daya dan tak lekang oleh waktu dari penghuni jalan kecil bernama Potlot, Slank!

Aku masih orang yang sama,
orang yang masih begitu mencintai Bromo, lengkap dengan kaldera purbanya, juga kabut pagi, dan Semeru yang menjulang menengadah langit, serta dingin yang menghujam meremat sendi-sendi tulang.

Aku pun masih orang yang sama,
orang yang masih begitu mencintai malam, heningnya dinihari, syahdunya pagi, dan temaramnya senja.

Bodoh Itu Gratis

Cobalah melintas di Kamis malam, di sekitaran Pos Pengumben mengarah ke Pasar Kebayoran Lama. Akan mudah kita saksikan para pengguna roda dua, baik sendiri atau pun berbonceng, tanpa pelindung kepala, atau hanya berbalut kain tipis putih setengah bola.

Ah saya masih memilih untuk berbaik sangka, mungkin benda putih itu terbuat dari serat kevlar berteknologi nano terkini, terbalut unsur logam titanium berdaya tahan bentur melebihi kuasa baja. Hingga tak perlu lagi mengenakan benda usang berjuluk helm sebagai pelindung kepala.

Bila sabdamu setara dewa, dan titahmu bagai dogma, maka mengapa tak kau ajarkan umatmu untuk sekedar berhenti di belakang marka garis hitam-putih yang melintang membelah jalan? Mengapa tak kau ajarkan umatmu untuk mengenakan pelindung kepala. Mengapa tak kau ajarkan untuk tak perlu berjibaku bertaruh nyawa melawan arus jalan saat berkendara?

Bodoh itu gratis, hingga kadang kita terlupa menenggaknya terlalu banyak, hingga mabuk, ambruk tak lagi berpijak…