Ditulis oleh : Caroline Bruckner, RGD, Christopher A. Gee, dan William Johnston
Diterjemahkan dari : http://www.creativelatitude.com/articles/article_0705_gee_.html
Membahas tentang sertifikasi Desain Grafis selalu membangkitkan diskusi hangat dari dua sisi. Namun, dalam membahas masalah ini pada berbagai forum diskusi Desain Grafis dan blog, jelas bahwa mitos yang sama tentang sertifikasi muncul di mana-mana. Karena itu, Caroline Bruckner, RGD (Registered Graphic Designers of Ontario), William Johnston dan saya menggabungkan pengalaman-pengalaman pribadi, percakapan dalam diskusi dan banyak ditemui variasi keberatan, kesalahpahaman dan ketakutan atas sertifikasi Desain Grafis menjadi satu daftar mitos.
Mudah-mudahan daftar mitos ini, serta tanggapan untuk masing-masing pihak, dapat mengkoreksi informasi-informasi yang salah seputar sertifikasi Desain Grafis, sekaligus menyediakan informasi bagi mereka yang mendukung sertifikasi Desain Grafis dengan jawaban-jawaban penting ketika mereka berhadapan dengan keberatan umum.
Mitos 1:
Sertifikasi berarti bergabung dengan sebuah serikat buruh.
Program Sertifikasi Profesi menetapkan fokus pada etika profesi, standar dan kompetensi inti. Di sisi lain, serikat buruh terlibat dalam perundingan bersama dengan para pemilik perusahaan berkaitan dengan upah, tunjangan, dll. Sertifikasi memberikan fasilitas dan pelatihan bagi para desainer individu (freelancer) untuk berhasil dalam negosiasi kontrak mereka sendiri.
Mitos 2:
Desainer Grafis tidak bersertifikat akan dilarang mendesain secara hukum.
Desainer yang tidak ingin mendapatkan sertifikasi akan tetap dapat mempraktekkan desain. Klien yang lebih suka bekerja dengan desainer yang tidak tahu hak dan kewajiban mereka dalam sebuah kontrak akan tetap dapat menemukan banyak desainer untuk mengeksploitasi. Klien yang tidak tahu perbedaan antara desain amatir atau profesional akan tetap dapat mempekerjakan seseorang untuk merancang sebuah logo seharga $ 30,00.
Tidak, sertifikasi bukan untuk semua orang tetapi akan secara jelas mengidentifikasi perbedaan antara keduanya. Sertifikasi akan menggambarkan kompetensi inti dan dapat menjamin bahwa seorang desainer memiliki landasan pengetahuan dan pengalaman — sebuah jaminan untuk pembeli jasa desain grafis.
Mitos 3:
Sertifikasi hanya dapat berfungsi jika secara hukum melarang desainer tanpa sertifikat untuk bekerja.
Sertifikasi sukarela bisa mencapai begitu banyak untuk profesi desain grafis. Dengan bergabung bersama melalui sertifikasi, desainer dapat berbicara dengan suara yang sama ke pemerintah dan dunia usaha. Suara yang sama ini dapat dimanfaatkan untuk melobi pemerintah terhadap proyek-proyek spekulatif, manfaat pajak dan banyak lagi. Selain itu dapat berfungsi untuk mendidik klien mengenai nilai bisnis desain.
Mitos 4:
Sertifikasi itu mahal dan tidak menambah keuntungan.
Biaya sertifikasi sebenarnya adalah investasi dalam karir Anda dan harus segera dimiliki. Studi menunjukkan bahwa praktisi bersertifikat membuat 15% lebih banyak pemasukan daripada rata-rata praktisi yang tidak bersertifikat. Sumber: 2003 Business Marketing Association Salary Survey.
Mitos 5:
Sertifikasi tidak akan membantu keberhasilan profesi saya.
Sertifikasi membuktikan bahwa Anda berada pada tingkat yang tinggi dalam bidang Anda. Ini sinyal untuk klien dan sesama rekan bahwa pengetahuan, pengalaman dan profesionalisme dalam desain Anda dalam urutan tertinggi. Hal ini juga dapat berfungsi sebagai sarana untuk jaringan dan asosiasi Anda dan Anda dapat masuk ke dalam daftar asosiasi sebagai bahan pertimbangan klien dapat menentukan desainer.
Mitos 6:
Sertifikasi tidak akan membantu mempromosikan bisnis saya.
Sertifikasi menunjukkan prospek dan klien Anda bahwa Anda membawa bisnis Anda secara serius dan mengikuti panduan bisnis yang etis. Sebuah asosiasi sertifikasi desain dapat menggunakan sumber daya mereka untuk mendanai promosi bisnis dengan perancang bersertifikat, dan juga bekerja meningkatkan kesadaran terhadap nilai sertifikasi, bersama dengan nilai desain yang baik.
Mitos 7:
Sertifikasi adalah suatu cara untuk mengukur bakat atau kreativitas.
Bakat dan kreativitas yang tak berwujud akan sulit terukur secara konsisten. Desainer perlu menerima bahwa kreativitas dan bakat tidak dapat disertifikasi. Sebaliknya, tujuan dari sertifikasi adalah untuk menempatkan sistem yang dapat mengukur unsur-unsur profesi kita yang nyata di sisi bisnis desain. Pendidikan, pengalaman, praktek-praktek bisnis yang etis, pengetahuan teknis ini jelas terukur. Sertifikasi adalah tempat semua elemen menjadi satu dalam sebuah paket yang rapi dan mudah bagi klien untuk mengidentifikasi serta memahami ketika mereka ingin menyewa seorang desainer grafis.
Mitos 8:
Jika semua desainer grafis menjadi bersertifikat maka akan menjadi klise dan melonggarkan nilai-nilai.
Titik sertifikasi bukan untuk memisahkan satu desainer yang berkualitas lebih baik dengan desainer berkualitas lainnya. Tujuannya adalah untuk memisahkan secara nyata, desainer terdidik yang mengikuti standar bisnis yang etis dengan orang-orang yang menyebut dirinya sebagai desainer grafis tetapi tidak mengikuti etika bisnis yang tepat, tidak memiliki pendidikan desain atau pengalaman yang relevan.
Mitos 9:
Sertifikasi hanya tentang ego dan menjadi elitis dan tidak memiliki tujuan nyata lainnya.
Berulang kali desainer jatuh kembali ke penalaran ini terhadap sertifikasi. Seperti telah disebutkan dalam mitos satu sampai sembilan, ada banyak alasan valid untuk sertifikasi yang tidak ada hubungannya dengan ego dan segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis desain grafis. Menentukan profesi Anda dan meminta rekan desainer untuk mengikuti serangkaian standar tidak sama artinya dengan menjadi elitis.
Kesimpulan
Profesi kita merupakan sebuah kekuatan yang hebat – kita mengambil esensi dari kekuatan perusahaan dan cara berkomunikasi terhadap khalayak sasaran untuk lebih menguntungkan para klien. Namun, entah bagaimana, profesi kita sendiri saat ini berada di tengah-tengah krisis identitas. Banyak klien di luar sana tidak mengerti perbedaan antara praktisi yang buruk namun menyebut diri mereka sebagai desainer grafis tetapi tidak memiliki latar belakang pelatihan desain dan tidak mengikuti praktek-praktek etis, dibandingkan dengan desainer grafis sesungguhnya yang memiliki pendidikan, pengalaman dan etika. Sertifikasi adalah alat yang ampuh dan diperlukan bagi desainer untuk dimanfaatkan dalam menghadapi tantangan pasar saat ini agar dapat memberikan cara yang jelas untuk disampaikan kepada komunitas bisnis siapa sebenarnya desainer grafis itu, kenapa kita berbeda, dan bagaimana cara kita untuk menambah nilai (value) bagi bisnis klien kami.
- – -
cookies image by : http://www.everaldo.com — released under LGPL

Untuk urusan memperhalus sebuah kata, bangsa kita adalah jagonya. Tidak punya rumah kita sebut tuna wisma, tidak punya pekerjaan kita sebut tuna karya, pengangguran kita sebut belum mendapat kesempatan, seseorang yang terbukti bersalah dalam sebuah institusi kita sebut oknum…
Begitupun dengan kata ‘ngakali — aroma negatif segera tercium merebak. Padahal ya intinya mencari akal untuk keluar dari satu permasalahan. Biar keren kita lebih sering memilih kata menyiasati, terdengar lebih positif, terasa ada aura kepintaran di situ, teraba rasa penuh strategi. Tapi ya kalo mau jujur ya artinya sama saja, berusaha keluar dari satu permasalahan.
Pada dasarnya saat permasalahan itu muncul yang tersulut pertama adalah segala daya kemampuan yang kita miliki untuk keluar dari permasalahan itu. Benak dan alam pikir berkutat penuh mencari jalan keluar, pendekatan positif dan negatif dicoba untuk diambil, kata siasat atau ‘ngakali tak lagi menjadi penting, yang penting muaranya sama — sama-sama ingin membenahi permasalahan yang muncul. Yang rusak diperbaiki, yang salah dibenarkan, yang sulit dipermudah.
Jadi yang benar menyiasati atau ‘ngakali? Ah sama aja — yang penting tepat aja pada saat mengucapkannya =)
- – -
*yang enak itu kalo lagi “akal-akalan” sambil diiringi soundtrack-nya mac gyver =)

Baru saja membaca sebuah artikel tentang “persahabatan” Natsir dan Aidit, bila mereka sedang di parlemen, mereka akan berdebat luar biasa, bagaimana tidak luar biasa debatnya, yang satu dari Partai Islam dan yang satu Partai Komunis. Namun, setelah perdebatan sertu tersebut, mereka minum kopi berdua di luar. Luar biasa!
Atau bagaimana hubungan Bung Karno dan Bung Hatta, “perang” ideologi itu sudah dimulai jauh sebelum Indonesia Merdeka. Dan puncak perdebatan mereka adalah peristiwa “Dwi Tanggal”, saat di mana Dwi Tunggal memilih jalannya masing-masing. Namun sebagai sahabat, konon yang menjodohkan Ibu Rahmi dengan Bung Hatta adalah Bung Karno sendiri.
Adu ide, pemikiran, ideologi adalah wacana yang senantiasa menarik. Menjadi lebih menarik apabila adu tersebut melihat kepada esensinya bukan pelakunya. Menjadi beda dan tak sejalan bukan penyakit ataupun keadaan semisal alergi yang selalu berusaha dihindarkan. Bila menyakini sesuatu yang baik/betul/benar ya wujudkan aja, realisasikan! Begitupun bila tidak setuju, silakan buat tandingannya yang lebih baik. Buat program ataupun kegiatan yang jauh lebih hebat lagi. Yang penting jangan serang pelakunya, jangan berangus orangnya! Karena pada dasarnya Anda tidak memiliki pemikiran, ide, ideologi program ataupun kegiatan yang jauh lebih baik. Cuma berdasar kepada “yaa nggak suka ajaaa”
Sok ngikutin ngupingjakarta.blogspot.com =)
Lagi pas makan, terdengar suara dari meja sebelah…
Cowok : “Mau makan ama minum apa nih?”
Cewek : “Apa aja deh, terserah…”
Terus Si Cowok manggil pelayan, mesen es teh manis dua plus pangsit juga dua. Si Cewek masih sibuk sms dengan BB-nya.
Seperempat jam berlalu, es teh manis dan pangsit pun tiba.
Lalu disajikan…
Cewek : “Loh kok aku pake es?”
Cowok : “Lah tadi katanya ‘terserah’….”
Cewek : “Tapi kan kamu tau kalo aku lagi mau pilek…”
Cowok : “Yiiaah… tadi katanya ‘terserah’…”
=)
Saat bongkar-bongkar file lama, nggak sengaja membaca kembali tulisan lama saya. Ditulis sekitar tahun 95-96, saat di mana masih rajin banget nulis, dengan PC lama berbasis Windows 95. Dari tulisan panjang itu terdapat quote yang menarik… setidaknya untuk saya :)
Yah sebenarnya kita senantiasa tau jawaban dari segala persoalan yang kita hadapi, karena kita terbekali dengan akal, dengan hati kecil juga perasaan… tapi kita terbiasa untuk nggak mengambil jawaban itu, kita memilih untuk mendramatisir segala keadaan, kita selalu menyangkalnya, dan kita hampir selalu memilih untuk mencari jalan-jalan lain yang bertentangan yang hanya akan memberikan semu kepuasan…
