Sok ngikutin ngupingjakarta.blogspot.com =)
Lagi pas makan, terdengar suara dari meja sebelah…
Cowok : “Mau makan ama minum apa nih?”
Cewek : “Apa aja deh, terserah…”
Terus Si Cowok manggil pelayan, mesen es teh manis dua plus pangsit juga dua. Si Cewek masih sibuk sms dengan BB-nya.
Seperempat jam berlalu, es teh manis dan pangsit pun tiba.
Lalu disajikan…
Cewek : “Loh kok aku pake es?”
Cowok : “Lah tadi katanya ‘terserah’….”
Cewek : “Tapi kan kamu tau kalo aku lagi mau pilek…”
Cowok : “Yiiaah… tadi katanya ‘terserah’…”
=)
Saat bongkar-bongkar file lama, nggak sengaja membaca kembali tulisan lama saya. Ditulis sekitar tahun 95-96, saat di mana masih rajin banget nulis, dengan PC lama berbasis Windows 95. Dari tulisan panjang itu terdapat quote yang menarik… setidaknya untuk saya :)
Yah sebenarnya kita senantiasa tau jawaban dari segala persoalan yang kita hadapi, karena kita terbekali dengan akal, dengan hati kecil juga perasaan… tapi kita terbiasa untuk nggak mengambil jawaban itu, kita memilih untuk mendramatisir segala keadaan, kita selalu menyangkalnya, dan kita hampir selalu memilih untuk mencari jalan-jalan lain yang bertentangan yang hanya akan memberikan semu kepuasan…
Di mana kita berpijak di situlah awal pencarian identitas mesti dimulai. Lalu semakin mendalam, mengurai tiap serpih muatan lokal yang ditemui. Dan bila saatnya serpih muatan tersebut telah pantas untuk kita sebut sebagai identitas, tiba waktunya untuk kita sebarkan sepenuhnya ke seluruh pelosok dunia.
Poster ini dibuat untuk mengikuti Pameran Poster Bersama dalam rangka Festival Kesenian Indonesia VI yang dilaksanakan di Institut Kesenian Jakarta, 06 – 24 Oktober 2009 dengan tema Exploring Root of Identity.
- – - -
Image from : http://desaingrafisindonesia.wordpress.com
Sekian polemik terkirimkan mengomentari wallpaper yang ada di http://kepakgaruda.wordpress.com ini, beberapa malah ada yang mengirimkan secara khusus lewat email kepada kami. Sepertinya ada baiknya saya memberikan klarifikasi seputar proses kreatif wallpaper ini.
Visual ini dibuat awalnya diperuntukkan guna Pameran Poster GrafikaPolitika di FGD Expo 2009, penyelenggara pameran itu adalah FDGI (Forum Desain Grafis Indonesia). Lalu dibuatlah poster dengan ukuran lumayan raksasa — (100cm x 180cm).
Kebutuhan visual untuk menunjang ide kreatif wallpaper ini diputuskan untuk menyajikan sesuatu yang ekspresif, mengetengahkan kegetiran, rasa sakit, dan keputusasaan yang awalnya diakibatkan oleh diri sendiri. Semua yang hadir secara visual di image tersebut murni merupakan ekspresi dari kebutuhan tema yang ingin diangkat.
Lalu terpilihlah judul “Garuda tak kan mampu terbang tinggi” — Lawan terbesar dari perubahan, kemajuan, perbaikan, dan apapun pergerakan ke arah positif adalah ketidakpedulian, semau-mau hati sendiri serta masa bodoh. Bangsa ini tak akan menjadi lebih baik apabila masih dipenuhi hal-hal negatif tadi. Sang saka merah putih tak akan berkibar dengan megah dan sang garuda tak akan mampu mengepakkan sayap-sayapnya untuk terbang lebih tinggi.
Berikut image dari poster asli sebelum di-croping menjadi wallpaper di Kepak Garuda. Bila ingin mendapatkan wallpaper (seperti image yang di atas, silakan mengunjungi http://kepakgaruda.wordpress.com/2009/08/09/garuda-02


Ingat tidak, di kelas ataupun misalnya di sebuah perkumpulan, kita terbiasa meneriakkan satu nama untuk sesuatu yang harus dilakukan. Misalnya seperti ini, ibu guru bertanya di depan kelas “siapa yang mau mengerjakan soal ini?” Lalu spontan pasti kita akan saling menuding, saling mengucapkan nama yang pada intinya merujuk ke orang lain. Apakah hal itu dilakukan murni karena kita yakin atas kompetensi orang tersebut atau tujuannya (biasanya) untuk lucu-lucuan, untuk memindahkan beban tanggung jawab, bisa juga satu bentuk pengkondisian yang kadang berawal dari konsep “bully”.
Bila hal tersebut selalu dilakukan, saya yakin bukan konsep mendukung yang dilakukan, pada dasarnya kita sedang melakukan satu praktek menjerumuskan seseorang kepada satu keadaan yang tidak mampu untuk dikuasainya. Lebih celaka lagi apabila si obyek tersebut pada akhirnya merasa yakin dengan kemampuan yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Ya karena itu tadi, lingkungannya telah “mendukung” dirinya, sampai dirinya tak tersadar bahwa sebenarnya dia tidak pernah mampu melakukan tanggungjawabnya tersebut. Pada titik itu, bukan dukungan yang telah dilakukan, karena sebuah praktek menjerumuskan nyatanya telah kita lakukan secara “sadar”.
Selalu begitu?
Tentu saja tidak. Tetap selalu ada kondisi di mana kita mengucapkan satu nama lebih karena sepenuhnya kita mendukung, kita yakin dengan kompetensi yang dimiliki. Kita paham dan setuju dengan kemampuan yang dimiliki atas nama yang tersebut.
Tapi, bila menyambung tulisan sebelumnya, bila si obyek tersebut maju dengan hanya bermodal segumpal “merasa bisa plus merasa mampu” — hmm sepertinya dukungan sehebat dan sebesar apapun tak akan mampu membawa ke area positif. Karena si obyek sendiri yang menjerumuskan dirinya.
/Minggu siang, 04 Oktober 2009, 12.51
Mendukung atau menjerumuskan?
Ingat tidak, di kelas ataupun misalnya di sebuah perkumpulan, kita terbiasa meneriakkan satu nama untuk sesuatu yang harus dilakukan. Misalnya seperti ini, ibu guru bertanya di depan kelas “siapa yang mau mengerjakan soal ini?” Lalu spontan pasti kita akan saling menuding, saling mengucapkan nama yang pada intinya merujuk ke orang lain. Apakah hal itu dilakukan murni karena kita yakin atas kompetensi orang tersebut atau tujuannya (biasanya) untuk lucu-lucuan, untuk memindahkan beban tanggung jawab, bisa juga satu bentuk pengkondisian yang kadang berawal dari konsep “bully”.
Bila hal tersebut selalu dilakukan, saya yakin bukan konsep mendukung yang dilakukan, pada dasarnya kita sedang melakukan satu praktek menjerumuskan seseorang kepada satu keadaan yang tidak mampu untuk dikuasainya. Lebih celaka lagi apabila si obyek tersebut pada akhirnya merasa yakin dengan kemampuan yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Ya karena itu tadi, lingkungannya telah “mendukung” dirinya, sampai dirinya tak tersadar bahwa sebenarnya dia tidak pernah mampu melakukan tanggungjawabnya tersebut. Pada titik itu, bukan dukungan yang telah dilakukan, karena sebuah praktek menjerumuskan nyatanya telah kita lakukan secara “sadar”.
Selalu begitu?
Tentu saja tidak. Tetap selalu ada kondisi di mana kita mengucapkan satu nama lebih karena sepenuhnya kita mendukung, kita yakin dengan kompetensi yang dimiliki. Kita paham dan setuju dengan kemampuan yang dimiliki atas nama yang tersebut.
Tapi, bila menyambung tulisan sebelumnya, bila si obyek tersebut maju dengan hanya bermodal segumpal “merasa bisa plus merasa mampu” — hmm sepertinya dukungan sehebat dan sebesar apapun tak akan mampu membawa ke area positif. Karena si obyek sendiri yang menjerumuskan dirinya.
Minggu siang, 04 Oktober 2009, 11.56

