Rumah Makan Padang

rumah-makan-padang

Piring-piring kecil itu tersaji memenuhi area meja, beberapa menumpuk membentuk tingkatan dalam dua undakan. Nasi putih hangat dalam cetakan setengah bola mengepulkan asap, menebar wangi pulen dalam tiap hirupan nafas.

Tampak jelas dari beberapa piring kecil itu kuah kecoklatan yang santer menebar harum, merambat menggugah selera, sesekali kemilau minyak memantul dari kentalnya kuah mewartakan kenikmatan. Gulai tunjang, gulai gajebo, gulai kepala ikan kakap dan tak ketinggalan gulai ayam apik tersaji.

Di piring kecil lain dua potong rendang menghitam dalam lelehan bumbu yang tak kalah pekat menjadi penanda cita rasa yang dengan mudah dapat meluruhkan target diet yang pernah terucap. Tak jauh dari piring kecil berisi rendang, tersaji dendeng balado nan gurih, teriris tipis. Sambal merah yang membalut tak membuatnya kehilangan nuansa renyah di tiap gigitan dan kunyahan saat kita menyantapnya.

Narasi menu tersebut akan terus berlanjut, memenuhi meja bahkan bisa sampai meja sebelah harus kita satukan. Turut siap disebut ayam pop, ikan bakar, soto, itik dan belut goreng cabe hijau. Namun perayaan tersebut tak kan lengkap tanpa rebusan daun singkong, sayur nangka dan tentu saja sambal hijau nan pedas.

Bicara soal rumah makan Padang saya tak kan pernah lupa pada satu cerita lama. Pada dasarnya jajan/makan di luar itu bukan budaya bagi keluarga saya, jadi tiap momen bisa makan di luar itu selalu memiliki cerita yang kuat teringat. Saat itu mungkin kelas 3 atau 4 SD. Selepas berbelanja baju, saya dan mbak saya diajak bapak untuk makan siang di satu rumah makan Padang di daerah Blok M, gedungnya samping Aldiron Plaza. Itu kali pertama saya makan di rumah makan Padang.

Kami duduk di bangku masing-masing, lalu mulailah satu persatu piring-piring kecil berisi makanan nan lezat itu tersaji di meja. Bingung mulai melanda, tak lama saya mulai panik, hilang rasa lapar dan keinginan untuk bersantap. Saat seluruh makanan siap tersaji dan pelayan telah selesai saya mendekat ke bapak saya dan bertanya dengan berbisik penuh panik, “Pak, ini harus kita habiskan dan bayar semua?”

Bait doa yang sama masih juga terucap,
walau gema tak lagi menderas suara,
membisik lirih bahkan kadang terseling tanya
“semua ini untuk apa?”

Dan kini,
dalam arah yang semakin kasat mata,
perlahan menyusun akhir perjalanan,
mewujud dan merayakan,
nyatanya doa-doa itu membentuk dirinya

RA Kosasih, Bisma Dewabrata dan Saya

bisma-dewabrata

Adakah kisah tragis yang dapat hadir sedemikian gagahnya bagai narasi Bisma Dewabrata dan Amba?

Panel-panel hitam putih itu menyajikan drama. Amba yang terus mendesak Bisma untuk menjadi pendamping hidupnya. Sedang Bisma tetap bersikeras menolak demi sumpah yang telah diucapkan dan telah tersaksikan oleh para dewata. Hingga akhirnya Bisma merapal mantra, tangannya berbias memancarkan sinar dan segera tergenggam sepucuk panah sakti lengkap dengan gandewa di tangan.

Bisma menghunus panah saktinya, membidiknya ke arah Amba sambil mengucap ancaman. Namun malang tak sanggup tertolak, takdir pun telah tergariskan. Panah yang hanya terniatkan untuk menakut-nakuti itu terlepas dari genggaman tangan, melesat hebat menghujam tubuh Amba. Amba menjerit, rasa sakit dan nyeri yang semestinya Ia rasakan justru terkalahkan oleh rasa kaget yang tak terkira, Bisma telah berbuat sedemikian kejamnya terhadap dirinya.

Bisma tak terkesiap lama, tubuhnya bergerak menghampiri Amba. Merengkuhnya, mengucap maaf yang mendalam dengan terbata. Lalu dalam sisa nafas yang dimilikinya, sambil bercampur senggal nafas yang memburu, Amba mengucap supata. Supata yang menciptakan garis takdir bagi akhir kehidupan Bisma yang juga akan mempertemukan mereka kembali di alam baka.

Panel-panel hitam putih itu masih jelas hadir dalam ruang ingatan. Berlarik adegan demi adegan itu tak pernah kehilangan kemegahannya, dari semenjak pertama melihatnya puluhan tahun yang lalu. Larikan garis dari seorang maestro bernama RA Kosasih. Dan hari yang akan segera berakhir ini, hari bertanggal 4 April ini adalah hari yang coba didedikasikan untuk beliau, sebagai hari yang menegaskan kontribusi besar dirinya terhadap komik Indonesia, bahkan lebih dari itu. RA Kosasih adalah duta nyata bagi cerita wayang Indonesia yang menjadi anak kunci bagi terbukanya lorong-lorong dunia wayang yang penuh akan warna, dan Ia membukakannya untuk berjuta-juta anak Indonesia. Dan lewat dirinya, saya mengenal Bisma Dewabrata.