Superman Classic

Ternyata ada proyek senang-senang yang digarap dengan serius, menganimasikan tokoh Superman dalam bingkai animasi klasik. Dikerjakan soliter oleh Robb Pratt, animator jebolan Walt Disney Animation Studios, pernah terlibat di proyek Pocahontas, Hercules, Tarzan, Fantasia 2000, Kim Possible, Mickey Mouse Clubhouse.

Durasi animasi pendek ini hanya sepanjang dua menit, diawali dengan judul film dengan menggunakan logo Superman dan tulisan “Classic” menggunakan pilihan huruf ramping bergaya Art Deco, era tahun 1930, tahun kelahiran ikon kultural Amerika, Superman. Lalu visual bergulir menampilkan gedung Daily Planet di Metropolis, saat ‘kamera’ meluncur ke bawah muncul tokoh Clark Kent dan Lois Lane.

Film ini menggunakan musik yang digarap oleh Mischa Bakaleinikoff (Михаил Романович Бакалейников), music director, konduktor, komposer film kelahiran Moscow (1890-1960). Musik tersebut digunakan di film Atom Man vs. Superman (1950).

Hal lain yang menarik di film ini adalah pengisi suara dari Clark Kent/Superman, yakni diisi oleh John Haymes Newton, aktor yang memerankan serial TV Superboy (1988) di musim pertama. John Haymes Newton dipecat dari serial tersebut karena melanggar klausal kontrak, mengemudikan mobil dalam pengaruh zat terlarang.

Setelah Superman Classic, Robb Pratt melanjutkan ke proyek berikutnya, Superman Classic: Bizzaro.

Forest Gump

Forest Gump adalah salah satu film yang tersempatkan untuk ditonton berulang kali. Setidaknya delapan kali telah menyaksikan secara utuh, dua diantaranya disaksikan di bioskop. Bagian terbaik dari film ini berada di capture berikut, bukan hanya gambar-gambar yang indah, namun juga tuturan narasi yang sanggup membuat tercekat.

forest-gump

Sometimes it would stop raining long enough for the stars to come out. And then it was nice.

It was like just before the sun goes to bed down on the bayou. There was always a million sparkles on the water.

Like that mountain lake. It was so clear, Jenny, it looked like there were two skies one on top of the other.

And then in the desert, when the sun comes up, I couldn’t tell where heaven stopped and the earth began. It was so beautiful.

I wish I could’ve been there with you.

You were.

Teror Orde Baru: Penyelewengan Hukum & Propaganda 1965-1981

teror-orde-baru

Buku ini awalnya berjudul Teror Suharto, namun akhirnya diganti menjadi Teror Orde Baru karena ditolak masuk ke jaringan toko buku. Padahal sampul telah selesai dicetak, akhirnya mesti dicetak ulang. Orde Baru tidak juga hilang dari negeri ini.

Buku terbitan KomunitasBambu.com ini secara gamblang membentangkan rangkaian fakta sejarah bagaimana hukum, teror dan propaganda diciptakan untuk merebut, memanipulasi dan mempertahankan kekuasaan. Dan, Suharto ada di balik semua itu. Judul pertama semestinya jauh lebih tepat, jauh lebih tepat juga dibanding judul aslinya, Indonesia: Law, Propaganda and Terror.

Termasuk bila mencermati buku-buku lain yang menuliskan hubungan Suharto dan Islam, tak hanya masyarakat yang diadu domba, ABRI pun menjadi wilayah yang tak luput ia buat saling berhadapan, ABRI Merah Putih vs ABRI Hijau. Semuanya hanya untuk satu tujuan, melanggengkan kekuasaan.

Di awal kekuasaan Suharto alergi dengan kata “Insya Allah”, bahkan pada saat ia umroh, Suharto lebih memperhatikan urusan keselamatannya ketimbang aturan yang tidak memperbolehkan non muslim untuk masuk ke wilayah-wilayah haram. Nyatanya pengawal non muslim termasuk LB Moerdani dapat turut masuk ke dalam Masjidil Haram, mengawal Suharto! (Buku Dr. Salim Said).

Terkait (lagi-lagi) soal Pilpres,
menjual penganugerahan Suharto sebagai pahlawan sungguhlah ironis, buta sejarahnya telah sampai di level KRONIS. Tapi menafikan fakta bahwa para aktor Orde Baru kini turut berdiri di dua kubu itu pun sungguh naif.

Akhirnya pernyataan Roy Jeconiah, mantan vokalis Boomerang saat kemarin hadir di Konser Salam 2 Jari di GBK menjadi dalam bermakna, “Jangan itu jadi sia-sia, kalau nanti ada suatu hal yang kurang, siapa pun yang hari ini terlibat, nanti semua harus turun ke jalan, jadi parlemen jalanan.”

 

* * *

Tim Nasional Garuda Pra Piala Dunia 1986

tim-nas-garuda-1986

Singgungan pertama saya dengan Piala Dunia itu semenjak Pra Piala Dunia 1986. Tim Nasional Indonesia andai saat itu mengalahkan Korea Selatan maka akan lolos masuk putaran Piala Dunia di Mexico. Tapi nasib berbicara lain, satu pertandingan tandang dan satu menjadi tuan rumah yang dijalani keduanya gagal memetik kemenangan.

Dulu itu mengakses berita olahraga hanya bermodal TVRI, harian Kompas dan sisipan Tabloid BOLA yang terbit tiap Jumat. Dua yang terakhir itu saya baca di rumah sepupu saya. Gambar ini saya yakin pernah saya lihat di tabloid BOLA itu, kostum PSSI versi warna hijau, saya masih mengingatnya karena dulu saking bangganya dengan Timnas ini saya gambar ulang baik di kertas gambar lepasan maupun di buku gambar, berkali-kali.

Bahkan beberapa namanya pun saya masih mengingat tanpa harus melakukan googling, yakni: Hermansyah (penjaga gawang), Doni Latuperisa (penjaga gawang cadangan), Warta Kusumah, Marzuki Nyakmad, Patar Tambunan, Zulkarnaen Lubis, Bambang Nurdiansyah, Herry Kiswanto (kapten), Rully Nere (legenda dari Papua), Dede Sulaiman (striker).