Wifi Tewas Setelah Pasang OS X Yosemite

yosemite

Upgrade Operating System OS X Yosemite menyisakan kendala, Wi-Fi tidak dapat beroperasi sempurna. Saya sendiri menggunakan MacBook Pro Retina Display yang dengan pongahnya sudah tak lagi memiliki colokan ethernet, maka peran Wi-Fi menjadi sangat signifikan. Dan, sebagai penganut aliran “5 sehat, sinyal-internet sempurna” tentu ini menjadi kendala yang serius. Terlebih bagi saya yang tak menggunakan ponsel-pintar untuk aktivitas sehari-hari.

Mengunduh OS X Yosemite sendiri sudah menjadi tantangan, ukuran filenya lebih dari 5 GB, dan hari ini makin berkendala karena sinyal internet FirstMedia juga sedang labil, mati-hidup tak menentu. Kelar sekian jam mengunduh, proses updating-pun berlangsung seperti biasa –mudah dilakukan, khas Apple.

Kendala mulai muncul pada saat harus melakukan updating aplikasi-aplikasi yang dibundel di iWork dan iLife, proses tersebut berulang kali gagal, bahkan hanya untuk sign-in ke App Store. Bagi saya yang kini berprofesi sebagai designer berbasis Keynote, ini jelas masalah sangat serius. Karena bila sampai Keynote berkendala, maka saya bakal kesulitan berproses dalam desain. Apalagi bila sampai tidak dapat melakukan updating OS X, bagaimana mungkin memperbaiki bug yang ada.

Setelah browsing sekian jam dengan device lain, ditemukan setidaknya tiga solusi dari kendala ini. Walau saat ini solusi tersebut belum teruji penuh, namun setidaknya sudah dapat mengakses internet. Kondisi mati-hidupnya mungkin juga disebabkan akses internet yang tidak stabil.

Ada tiga solusi yang ditemukan,
saya susun dari yang paling sederhana:

01.

  • System Preferences » Network Preferences
  • Matikan Wireless Network.
  • Buka Advanced Area.
  • Buang seluruh Wireless Network yang tersimpan.
  • Hidupkan kembali Wi-Fi.
  • Search Wi-Fi » user id + password

02.

  • Finder » menu bar click Go » Go to Folder :
  • /Library/Preferences/SystemConfiguration
  • Buang seluruh file di dalam folder SystemConfiguration.
    (Dibutuhkan username dan password untuk melakukannya)
  • Restart!

03.

  • Hapalkan letak tombol Command + Option + P + R
  • Matikan Mac.
  • Nyalakan kembali Mac.
  • Tekan dan tahan tombol Command + Option + P + R sebelum layar abu-abu muncul. Tahan tombol hingga muncul arahan tampilan memperbaiki Network. Ikuti arahan yang tersaji.

- – -

Punya cara lain?
Sila untuk berbagi…

Ratu Sheila Majid

ratu-sheila-majid

Bila dapat memilih, saya akan memilih track no. 3 berjudul Embun untuk membuka album Ratu. Dentuman bass penuh energi menjadi peruntukkan prolog yang tepat bagi album berangka tahun 1996 ini, sebuah prolog yang mengawali keindahan album yang begitu memesona. Nathan East, salah satu bassist terbaik dunia, menuangkan energi yang menggetarkan, memberi ruh bagi lagu Embun.

Nama Nathan East menjadi nama yang mencorong di penggarapan album ini, mengisi seluruh track bass yang ada. Selain itu, kehadiran The Australian Concert Orchestra pada sektor strings menambah kemegahan tiap-tiap lagu. Namun, album Sheila Majid yang biasanya bertabur musisi serta pencipa lagu Indonesia, di album ini hanya ‘menyisakan’ Tito Soemarsono yang menciptakan lagu Percayalah.

Dari 8 album yang terangkum dalam CDS Box Set Sheila Majid 25 Years, saya memilih album Ratu – Sheila Majid. Bagi saya karya ini adalah salah satu album terbaik yang pernah rilis di era akhir 90-an. Dulu zaman kuliah pernah memiliki kasetnya, dibelikan di Malaysia oleh Prasmana Nazri. Waktu itu, kaset ini tidak masuk Indonesia. Dua belas lagu mengisi album ini, kesemuanya tergarap dengan luar biasa, nuansa jazz terasa kental ketimbang album-album Sheila Majid lainnya.

* * *

Burung-burung Manyar

burung-manyar

Menemukan buku Burung-burung Manyar karya Romo Mangun itu seperti bertemu sahabat lama yang pernah sedemikian akrabnya. Buku ini dicetak ulang, dengan tampilan yang begitu berbeda dari terbitan awalnya. Lebih segar, lebih ilustratif. Terlebih bila disandingkan dengan gambar sampul dari terbitan-terbitan dahulunya yang didominasi oleh warna solid. Terbitan pendahulunya itu hadir bergantian dalam dominasi warna putih solid, hijau dan merah dengan sampul berhias huruf berjenis script yang dipadukan dengan garis-garis penuh liuk bersulur.

Kini, edisi cetak ulangnya tampil dengan gambar sampul yang lebih banyak warna. Ilustrasi siluet seorang pemburu unggas tersaji di sana, bukan dalam bentuk bayang hitam siluet yang utuh, namun hadir dalam pulasan warna yang penuh ragam serta mencolok, menggambarkan pergulatan fisik dan batin dari tokoh yang terdapat di dalam tutur cerita. Pilihan jenis huruf berkategori serif dengan tubuh yang ringkih semakin menguatkan pesan nuansa konflik batin yang menaungi tokoh utama di sepanjang cerita.

Hal lain yang dapat diadusandingkan dengan terbitan sebelumnya adalah kualitas fisik dari buku tersebut. Pada lembaran demi lembaran buku dijumpai rangkaian jenis huruf yang nyaman untuk dibaca, dengan tingkat keterbacaan huruf yang baik. Selain itu, pilihan jenis kertas yang ringan turut memberikan nilai tambah bagi fisik buku tersebut.

Ah… segera terbayang kenikmatan menelusuri lembar demi lembar buku ini. Kembali menjumpai Teto dan Atik. Sambil merekonstruksi kembali penggalan ingatan saat dulu membaca buku ini, sambil –berteman nyaring suara jangkrik yang bersahutan, dingin pun hadir menyusup, semakin memekat bersama listrik yang tak stabil mengalir, hingga tak sanggup menjaga benderangnya pijar lampu. Juga secangkir teh kental dengan gula sejumput, dan singkong goreng yang rekah hasil mencabut sore tadi di tegalan.

* * *

Superman Classic

Ternyata ada proyek senang-senang yang digarap dengan serius, menganimasikan tokoh Superman dalam bingkai animasi klasik. Dikerjakan soliter oleh Robb Pratt, animator jebolan Walt Disney Animation Studios, pernah terlibat di proyek Pocahontas, Hercules, Tarzan, Fantasia 2000, Kim Possible, Mickey Mouse Clubhouse.

Durasi animasi pendek ini hanya sepanjang dua menit, diawali dengan judul film dengan menggunakan logo Superman dan tulisan “Classic” menggunakan pilihan huruf ramping bergaya Art Deco, era tahun 1930, tahun kelahiran ikon kultural Amerika, Superman. Lalu visual bergulir menampilkan gedung Daily Planet di Metropolis, saat ‘kamera’ meluncur ke bawah muncul tokoh Clark Kent dan Lois Lane.

Film ini menggunakan musik yang digarap oleh Mischa Bakaleinikoff (Михаил Романович Бакалейников), music director, konduktor, komposer film kelahiran Moscow (1890-1960). Musik tersebut digunakan di film Atom Man vs. Superman (1950).

Hal lain yang menarik di film ini adalah pengisi suara dari Clark Kent/Superman, yakni diisi oleh John Haymes Newton, aktor yang memerankan serial TV Superboy (1988) di musim pertama. John Haymes Newton dipecat dari serial tersebut karena melanggar klausal kontrak, mengemudikan mobil dalam pengaruh zat terlarang.

Setelah Superman Classic, Robb Pratt melanjutkan ke proyek berikutnya, Superman Classic: Bizzaro.

Forest Gump

Forest Gump adalah salah satu film yang tersempatkan untuk ditonton berulang kali. Setidaknya delapan kali telah menyaksikan secara utuh, dua diantaranya disaksikan di bioskop. Bagian terbaik dari film ini berada di capture berikut, bukan hanya gambar-gambar yang indah, namun juga tuturan narasi yang sanggup membuat tercekat.

forest-gump

Sometimes it would stop raining long enough for the stars to come out. And then it was nice.

It was like just before the sun goes to bed down on the bayou. There was always a million sparkles on the water.

Like that mountain lake. It was so clear, Jenny, it looked like there were two skies one on top of the other.

And then in the desert, when the sun comes up, I couldn’t tell where heaven stopped and the earth began. It was so beautiful.

I wish I could’ve been there with you.

You were.