3 Comments

Khawatir

Beberapa hari lalu rasa lapar mengantar diri untuk makan seafood menjelang tengah malam di SeaFood 48 sebrang RS Fatmawati. Cumi bakar, nasi setengah, es teler Cirebon, mendapat bonus teh tawar hangat. Duduk sendiri sambil menyantap perlahan, sesekali melihat tv namun tak ada fokus yang tertinggal, film India. Fokus lebih menyimak meja sebelah yang penuh dengan remaja tanggung sedang tekun saling bicara. Sedikit berasumsi, bila tidak anak SMA mereka masih kuliah tingkat awal.

Velg mobil adalah bahasan awal yang saya dengar dari mereka. Sesekali fasih terdengar umpatan kasar yang terselip di antara kalimat yang mereka ucapkan. Kemudian dilanjutkan dengan topik Dolly di Surabaya, Sarkem di Yogya, dst. Salah satu dari mereka dengan mendetail menceritakan ‘obyek wisata’ serta pemandangan apa yang dapat diperoleh saat ke Dolly. Lalu dilanjutkan dengan atur rencana untuk mereka kembali jalan-jalan putar Jakarta. Menaruh mobil, jemput di satu tempat lalu bersiap melewati malam berganti hari hingga esok hari.

Tak jauh dari SeaFood 48, remaja seumuran mereka tumplek jadi satu di Seven Eleven. Motor terparkir hingga luber ke jalanan, bangku penuh bahkan ada yang duduk di emperan. Asap rokok memekat walau itu berada di luar ruang. Sampah yang berserak tak mengurangi keriaan malam itu. Self-service adalah budaya yang dibawa oleh convenience store 24 jam tersebut, namun sialnya budaya buang sampah sendiri ke tempatnya tidak turut teradopsi dengan baik oleh para pengunjungnya.

Sungguh saya tiba-tiba merasa begitu khawatir. Khawatir atas nasib bangsa rapuh ini di kemudian hari. Sebuah nasib yang sepatutnya diperjuangkan dengan kerja yang begitu keras. Namun nyatanya begitu mudahnya menjumpai para penerus estafet bangsa ini dipenuhi dengan obrolan ngalor-ngidul tak menentu arah, waktu terhabiskan oleh aktivitas tanpa manfaat nyata, konsumtif pola hidup dianut bermodalkan suapan orang tua, bahasa terucap tanpa batas kendali, “tidak peduli” menjadi norma baru yang kokoh dijunjung, “kerja keras” menjadi idiom asing yang tergagap saat terucapkan…

Sungguh saya tiba-tiba merasa begitu khawatir…

- – -

icon by Clanbomber

Leave a comment

Lorong

Lorong Senyap - 26 Desember 2011 - (22.54)

Leave a comment

Keinginan

yang memberikan penderitaan adalah keinginan
yang memberikan keinginan adalah keadaan
yang memberikan keadaan adalah konstruksi kehidupan

yang menjaga keinginan adalah harapan
yang paling menakutkan adalah penolakan
yang tak akan tergantikan adalah penyesalan

*penyesalah karena tidak memperoleh apa yang diinginkan :)

1 Comment

Petr Cech Terluka (Lagi)

Lima tahun lalu dalam sebuah laga, sebuah kecelakaan fatal hampir merenggut habis karir dan kehidupan Peter Cech. Dalam sebuah aksi penyelamatan, lutut pemain Reading, Stephen Hunt menabrak dengan keras kepala dari Petr Cech, hingga cedera tulang tengkorak harus diderita dalam waktu lama. Saat kembali ke lapangan tiga bulan kemudian, sebuah helm khusus hingga perlu dikenakan dalam tiap penampilannya, sampai hari ini.

Malam tadi, kejadian tersebut hampir terulang, sekali lagi dalam sebuah aksi penyelamatan benturan tak terelakkan, namun kali ini benturan tersebut didapat dari pemain belakang Chelsea, Ashley Cole. Benturan yang menyebabkan permainan terhenti hingga tujuh menit. Karena Cech membutuhkan perawatan khusus dari tim medis, darah tak henti keluar dari hidungnya yang patah.

Tak lama Ross Turnbull, kiper cadangan Chelsea, segera bersiap melakukan pemanasan, berjaga untuk menggantikan kiper utama yang masih mendapatkan perawatan. Momen terus berjalan, Cech pun bangkit, siap melanjutkan, lengkap dengan sumbatan kapas untuk menahan laju darah yang masih keluar dari dua lubang hidungnya. Sepanjang babak pertama berjalan, darah masih terlihat keluar. Pada babak kedua, usai turun minum sebuah perban telah disematkan dengan rapi melindungi hidungnya.

“Saya pikir, hidung Cech patah. Saat turun minum, ia mengatakan kepada kami ingin terus bermain. Jadi, itu menunjukkan keberanian dan komitmen pemain yang telah memiliki masalah cedera pada kepalanya,” ujar Villas-Boas seperti dikutip dari www.chelseafc.com.

Saya terpikir, ini bukan sekedar keberanian dan komitmen, lebih dari itu ada pertaruhan yang dijalani oleh Cech di sana. Begitu Ia menyerah lalu digantikan oleh Turnbull, kemudian Turnbull bermain cemerlang, maka kesempatan menjadi kiper utama bisa meredup dari dirinya.

Menjaga ritme keadaan yang telah berlangsung sesungguhnya jauh lebih butuh dilakukan, pengorbanan sesungguhnya ada di sana. Menyerahkan diri pada kelelahan sejenak, juga rasa sakit yang tiba-tiba menghadang, sesungguhnya menjadi pemicu pada keadaan yang lebih buruk. Karena itu, pilihan untuk terus melanjutkan atau memuaskan ‘rasa sakit’ (yang kadang hanya sejenak) sepenuhnya akan terus menjadi pilihan yang akan ditemui…

(09.34)

1 Comment

Mendukung Faisal Basri

 

Seingat saya, Pemilu pertama yang saya ikuti dahulu itu saya memilih PAN (Partai Amanat Nasional) bukan karena seorang Amien Rais yang berada di sana, namun karena seorang Faisal Basri yang memang semenjak lama selalu saya ikuti tulisan dan pemikirannya. Saya bukan anak ekonomi, tak sedikitpun kompetensi ekonomi termiliki oleh saya, ketertarikan saya terhadap tokoh Faisal Basri lebih karena konsistensi suara lantang dan sepak terjang yang dijalani olehnya.

Kemarin sore tersempatkan mampir ke Sekretariat Dukung Faisal Basri di daerah Gandaria Tengah, beberapa puluh meter saja dari SDN Gandaria, tempat saya bersekolah dasar hingga kelas 4 dulu. Sampai di tempat, sedang berlangsung diskusi, ada Mas Yuna dari Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Negara) yang sedang memaparkan tentang babak belurnya kualitas APBD Jakarta, benar-benar ‘ngenes mendengar paparan soal uang rakyat yang secara sistematis-terencana dihisap untuk kepentingan pribadi.

Tak lama diskusi berlangsung akhirnya saya berkesempatan untuk berbicara dengan Mas Tatang dari Tim Kampanye dan juga dengan Bang Faisal Basri, saya sendiri ditemani Mas Lateev. Saya dan Mas Lateev datang ke tempat itu dengan tujuan sederhana, berusaha memberikan kontribusi sekecil apapun bagi proses Bang Faisal Basri menuju Jakarta #1, dengan keahlian serta kompetensi yang kami miliki. Saya dengan web design-nya dan Mas Lateev dengan fotografinya.

Dan diskusi singkat pun berlangsung.

Mengeluh tiap hari tentang Jakarta, lengkap dengan hujatan terhadap para pemimpinnya tak akan menyelesaikan masalah. Kontribusi sekecil apapun harus diberikan. Bagi saya, untuk turun memberikan waktu secara penuh bagi perubahan tentunya hal yang sangat menyulitkan. Pilihan memberikan kontribusi kompetensi semampu waktu yang dimiliki akhirnya menjadi pilihan paling masuk akal untuk dilakukan. Kontribusi tersebut sekaligus menitipkan mimpi dan harapan bagi perubahan Kota Jakarta lewat sosok Faisal Basri.

Untuk lolos hadangan pertama berupa pengumpulan dukungan (berupa pernyataan dan fotocopy KTP) sejumlah 400.000 penduduk saja sudah merupakan pekerjaan yang luar biasa. Belum lagi nanti harus berhadapan dengan kompetisi kampanye yang sesungguhnya, dengan lawan-lawan dengan sokongan dana tanpa batas.

Hingga tahun 2012, cukuplah waktu untuk menyiapkan segala sesuatu. Dana yang telah terkumpul sejumlah Rp 360 juta lebih hanya dalam kurun waktu satu bulan dari para donatur cukuplah menjadi bukti, teramat banyak rakyat Jakarta yang sama-sama ingin perubahan, ingin perbaikan, ingin membuat Jakarta lebih baik. Tinggal kini sama-sama merapatkan barisan dan saling berkontribusi meluaskan dukungan.

Kunjungi www.Faisal-Basri.com untuk merealisasikan dukungan Anda!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.