
Beberapa hari lalu rasa lapar mengantar diri untuk makan seafood menjelang tengah malam di SeaFood 48 sebrang RS Fatmawati. Cumi bakar, nasi setengah, es teler Cirebon, mendapat bonus teh tawar hangat. Duduk sendiri sambil menyantap perlahan, sesekali melihat tv namun tak ada fokus yang tertinggal, film India. Fokus lebih menyimak meja sebelah yang penuh dengan remaja tanggung sedang tekun saling bicara. Sedikit berasumsi, bila tidak anak SMA mereka masih kuliah tingkat awal.
Velg mobil adalah bahasan awal yang saya dengar dari mereka. Sesekali fasih terdengar umpatan kasar yang terselip di antara kalimat yang mereka ucapkan. Kemudian dilanjutkan dengan topik Dolly di Surabaya, Sarkem di Yogya, dst. Salah satu dari mereka dengan mendetail menceritakan ‘obyek wisata’ serta pemandangan apa yang dapat diperoleh saat ke Dolly. Lalu dilanjutkan dengan atur rencana untuk mereka kembali jalan-jalan putar Jakarta. Menaruh mobil, jemput di satu tempat lalu bersiap melewati malam berganti hari hingga esok hari.
Tak jauh dari SeaFood 48, remaja seumuran mereka tumplek jadi satu di Seven Eleven. Motor terparkir hingga luber ke jalanan, bangku penuh bahkan ada yang duduk di emperan. Asap rokok memekat walau itu berada di luar ruang. Sampah yang berserak tak mengurangi keriaan malam itu. Self-service adalah budaya yang dibawa oleh convenience store 24 jam tersebut, namun sialnya budaya buang sampah sendiri ke tempatnya tidak turut teradopsi dengan baik oleh para pengunjungnya.
Sungguh saya tiba-tiba merasa begitu khawatir. Khawatir atas nasib bangsa rapuh ini di kemudian hari. Sebuah nasib yang sepatutnya diperjuangkan dengan kerja yang begitu keras. Namun nyatanya begitu mudahnya menjumpai para penerus estafet bangsa ini dipenuhi dengan obrolan ngalor-ngidul tak menentu arah, waktu terhabiskan oleh aktivitas tanpa manfaat nyata, konsumtif pola hidup dianut bermodalkan suapan orang tua, bahasa terucap tanpa batas kendali, “tidak peduli” menjadi norma baru yang kokoh dijunjung, “kerja keras” menjadi idiom asing yang tergagap saat terucapkan…
Sungguh saya tiba-tiba merasa begitu khawatir…
- – -
icon by Clanbomber




